Bagaimana tantangan ini dapat ditaklukan? Dengan segala dinamika dan tantangan, berikut ini rekomendasi untuk menaklukan tantangan di industri sawit dari PPKS – PT RPN.
Peneliti dari PPKS (PT RPN) yang fokus pada bidang sosial ekonomi ungkap sektor industri kelapa sawit masih ada beberapa tantangan yang di hadapi di masa mendatang, dari sisi hulu maupun hilir. Hal tersebut disampaikan Rizki Amalia, dalam acara Outlook Komoditas Perkebunan, pada Selasa (28 Oktober 2025), di Bogor, Jawa Barat.
Dikatakan Rizki, yaitu tata kelola industri kelapa sawit. Di sisi hulu menghadapi tantangan legalitas lahan, penyelesaian perkebunan kelapa sawit dalam kawasan hutan, rendahnya realisasi program peremajaan (PSR) dan implementasi Fasilitas Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar (FPKMS).
“Kemudian, tata kelola hilir. Beberapa waktu terakhir sering dibicarakan yaitu kebijakan perdagangan (ekspor) dan implementasi standar keberlanjutan. Isu-isu klasik ini masih menghambat jalannya bisnis kelapa sawit. Misalnya tata Kelola niaga yang berkaitan dengan pabrik kelapa sawit (PKS)brondolan, ada 527 PKS (mikro dan menengah), dan bagaimana tata Kelola ekspor UCO/Residu termasuk POME dan HAPOR (Permendag No 2 tahun 2025),” katanya.
Hal lain yang menjadi tantangan, lanjut Rizki, tata kelola sawit berkelanjutan. Harusnya pada tahun 2025 mandaroty ISPO untuk perkebunan rakyat, yang realisasinya masih sangat minim. Sedangkan, 41% dari luas lahan perkebunan sawit milik pekebun atau petani rakyat. Realisasi PSR pada 2024 hanya 81 lembaga. Ini menjadi tantangan bagi perkebunan sawit di Indonesia.
“Meski sudah ada penambahan dana untuk replanting yang tadinya Rp30 juta/ha meningkat menjadi Rp60 juta/ha, dengan realisasi yang masih rendah. Ini menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi harga sawit sedang bagus, menjadi factor melambatnya program PSR sehingga petani menunda untuk peremajaan. Implikasi dari keterlambatan replanting, penurunan produksi sawit nasional dan ketidakseimbangan antara supply dan demand,” ungkapnya.
Sedangkan, pada kesempatan berbeda, terkait dengan tantangan industri sawit juga disampaikan Dr. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).
Dr. Tungkot lebih fokus menyoroti produktivitas sawit yang di level kritis, tidak hanya lebih rendah dari yang seharusnya. Melainkan cenderung turun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Tahun 2015, produksi CPO rata-rata 3.5 ton CPO/ha, sekarang 2,8 ton CPO/tahun, secara nasional.
“Kenapa ini turun, ada beberapa faktor yang menyebabkan. Pertama, best practices di sektor perkebunan sawit belum sepenuhnya diterapkan. Contohnya, pemupukan seharusnya 8 kg/pokok/tahun. Rata-rata nasional hanya 3,5 kg/pokok/tahun, ini jauh dari yang direkomendasikan. Akibatnya produktivitas turun di bawah standar,” jelasnya.
“Kemudian, yang kedua, masih banyak yang menggunakan bibit (varietas) yang tidak bermutu, terutama sawit rakyat. 70% sawit rakyat menggunakan bibit sawit dengan varietas yang tidak bermutu. Dan yang ketiga, yaitu Ganoderma. Ini menjadi boom waktu bagi industi sawit nasional. Serangan Ganoderma di sawit Indonesia sudah masuk level yang mengkhawatirkan. Beberapa studi atau penelitian, 60% sawit Indonesia sudah terinfeksi Ganoderma stadium 2. Tidak terlihat secara fisik tetapi dampaknya terlihat pada produktivitas yang menurun. Maka, perlu upaya yang sistematis untuk mengendalikan Ganoderma, kalua tidak ada upaya yang sistematis maka pada 2050 sawit akan habis. Maka, ini harus menjadi perhatian bersama,” sambung Dr. Tungkot, saat di kantor Majalah Sawit Indonesia.
Proyeksi harga dan rekomendasi
Lalu, bagaimana outlook industri sawit pada tahun mendatang? Berdasarkan kondisi iklim pada 2025, ada peningkatan produksi dibanding tahun 2024 yaitu sebesar 49,50 juta ton, sementara pada 2026 produksi diproyeksikan meningkat 50,31 juta ton.
Adapun faktor yang mempengaruhi proyeksi antara lain peningaktan rata-rata umur tanaman (meningkatnya komposisi tanaman tua dan renta), pemulihan dampak kekeringan pada 2023, dan realisasi pemupukan meningkat akibat pemulihan harga pupuk.
Sedangkan, faktor yang mempengaruhi harga baik secara fundamental atau teknikal di antaranya implemntasi program B40, pemulihan ekonomi negara-negara importir, realisasi produksi minyak nabati lainnya ddi negara produsen, dan kebijakan tairf impor negara importir.
“Untuk harga cenderung volatilitas. Kalua dulu harga flutuasinya bisa 5 tahun sekali. Tetapi untuk saat ini bisa makin pendek bisa 4 tahun sekali. Diproyeksikan pada 2026 akan cenderung naik, yang kami bagi menjadi pesimis, moderat dan optimis. Kalau pesimisnya akan turun di bawah 1.000 (USD/MT) sedangkan moderatnya bisa 1.066 (USD/MT), dan optimisnya bisa mencapai 1.172 (USD/MT),” jelas Rizki.
Untuk mejawab tantangan di industi sawit nasioanl, peneliti dari PPKS – PT RPN memberikan beberapa poin rekomendasi.
Diungkapkan Rizki, pertama productivity breaktrough; pengawalan Good Agriculture Practices (GAP) di perkebunan rakyat, akselesasi replanting dengan skema pembiayaan inovatif, dan pemanfaatan inovasi dan teknologi untuk peningkatan produktivitas.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 169)














