Beberapa tahun ini, Holding PTPN Group tengah melakukan transformasi menyeluruh ke sejumlah lini bisnis dan anak perusahaannya. Dampaknya pun mulai terlihat dengan pencapaian laba bersih sebesar Rp11,7 trilun dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Namun, capaian tersebut bukan tanpa lika-liku, mulai dari perubahan pola bisnis hingga budaya kerja adalah sedikit tantangan dalam transformasi perusahaan pelat merah itu.
Hal tersebut diungkapkan Dwi Sutoro, Direktur Pemasaran dan Plt Direktur Produksi dan Pengembangan Holding Perkebunan PTPN III (Persero) dalam rangkaian seminar di 2nd Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO 2024) pada Sabtu (10/8/2024) di Pekanbaru Convention and Exhibition, Riau.
Dalam paparannya, dia mengatakan, saat PTPN Group terbentuk, menggabungkan aset, permodalan, hingga pembukuan sebenarnya tidak sulit. “Yang susah itu menggabungkan culture. Dalam berkorporasi selama ini kita berbeda-beda meskipun sama-sama entitas perusahaan perkebunan negara,” ucapnya.
Dia mengatakan, manajemen melakukan langkah terobosan dengan membuka diri untuk bekerjasama operasional dengan mitra strategis (KSO) sebagai sebuah strategi untuk menguatkan budaya kerja selain meningkatkan produktivitas perusahaan.
Dwi Sutoro juga blak-blakan jika penggabungan perusahaan di bawah naungan Holding Perkebunan Nusantara PT Perkebunan Nusantara III (Persero) itu melewati tahapan yang cukup panjang.
“Pada tahap awalkita holding bergerak seperti operational holding. Semua proses ditarik ke pusat, seperti pemasaran hasil produksi, bahkan penjualan 100 juta pun harus diketahui oleh direksi holding. Hal ini dilakukan untuk menyamakan proses bisnis antara satu PTPN dengan yang lainnya,” ujarnya.
Priakelahiran Semarang ini mengungkapkan pada tahap operational holding banyak sekali hal teknis yang harus dikerjakan. Tahap selanjutnya PTPN melakukan restrukturisasi organisasi, dari awalnya bisnis berdasarkan wilayah, diubah menjadi berdasarkan komoditas strategis. PTPN III (Persero) pun pada akhir 2023 melakukan penggabungan 13 perusahaan yang di bawahnya menjadi tiga subholding yaitu PalmCo, SugarCo, dan SupportingCo. Sejak saat itu, PTPN III (Persero) berubah menjadi strategic holding yaitu perusahaan induk yang hanya melakukan fungsi manajerial tanpa melakukan aktivitas operasi. Operasi seluruhnya dilakukan oleh tiga subholding yang terbentuk.
“Semua bisnis sawit dari Aceh hingga Papua di bawah satu subholding yaitu PTPN IV (PalmCo). Semua bisnis gula yang memiliki 36 pabrik dari Sumatera Utarasampai Sulawesi dikelola oleh PT Sinergi Gila Nusantara (SugarCo). Selanjutnya komoditas teh, kopi, karet, dan bisnis optimalisasi/manajemen aset dikelola oleh PTPN I (SupportingCo),” ujar Lulusan ITB Teknik Kimia ini.
Selama transformasi dan restrukturisasi tersebut, dia mengungkapkan dirinya menjadi satu-satunya Direktur Pemasaran di PTPN Group. “[Tapi] sekarang sudah ada 4 Direktur Pemasarandi PTPN Group. Pekerjaan di holding lebih strategis untuk menentukan kebijakan. Sedangkan urusan business as usual semua sudah dilakukan masing-masing subholding,” jelasnya.
Dwi mengatakan dalam bisnis komoditas industri setidaknya ada dua jurus agar terus bisa kompetitif. Pertama, produktivitas perusahaan harus terus ditingkatkan dengan biaya yang serendah-rendahnya
“Karena kita tidak bisa mengontrol harga komoditas. Kadang bisa naik, bisa turun. Bottom line kita tergantung volatilitas harga. Hal yang bisa kontrol adalah cost yang terus kita jaga se-optimal dan se-efisien mungkin. Ini penting supaya kita bisa terusbersaing,” tuturnya.
Kedua, penting untuk melakukan sosialisasi terkait branding perusahaan. Ini mencakup penyampaian informasi tentang sertifikasi yang dimiliki serta layanan apa saja yang ditawarkan oleh perusahaan.
“Insya Allah pendapatan kami bisa lebih bagus di tahun 2024 ini. Semoga ini bisa terus berlanjutdan bisa memberikan return ke pemegang saham. Bukan kami lebih bagus dibanding yang lain, tapi transformasi ini membuat PTPN Group secara global menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan masa lalu,” ujarnya.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 154)














