Pangkalan Bun, SAWIT INDONESIA – Perusahaan sawit berkode emiten AALI ungkap bisnis yang dijalankan di masa mendatang masih sangat prospektif. Hal tersebut diutarakan, President Director PT Astra Agro Lestari Tbk (Astra Agro), Djap Tet Fa saat Talk to The CEO, di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada Kamis (30 Oktober 2025).
Lantas, apa strategi yang dilakukan Perseroan ini dalam memperkuat bisnisnya, terutama dalam hal peningkatan produktivitas? Mengingat, minyak sawit menjadi minyak nabati yang dibutuhkan masyarakat Indonesia dan dunia.
Dikatakan Tet Fa, dalam menjalankan bisnis sawit yang berkelanjutan berpegang pada prinsip 2 plus 1. Yaitu, fokus pada 2 mahluk hidup yaitu tanaman sawit (plant) dan manusia (people). Plus satunya, yaitu lingkungan (planet) untuk berkelanjutan.
“Jadi, bagaimana plant, people dan planet harus dijaga. Ini adalah fokus yang kami agar dilakukan dengan baik dalam menjalankan bisnis sawit berkelanjutan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan untuk poin plant. Perlu replanting? Kenapa, karena tanaman sudah tua, produktivitasnya turun. Kalau ini tidak dilakukan maka ke depan akan menjadi problem, produktivitasnya rendah.
“Maka, replanting menjadi hal yang penting dan harus dilakukan, 30% tanaman sawit sudah memasuki masa replanting. Dan, 30% tanaman sawit juga sudah direplanting. Kami juga berencana menambah jumlah lahan yang akan direplanting sebanyak 8.000 ha tanaman sawit akan direplanting dengan bibit unggul, supaya dapat mengejar produktivitas,” ungkap Tet Fa.
Terkait, dengan replanting diperlukan bibit unggul agar produktivitasnya bisa meningkat. Selain itu, dari sisi tinggi tanaman juga tidak terlalu tinggi sehingga akan memudahkan proses panen. Astra Agro sudah menyiapkan bibit sawit hasil dari divisi Research and Development melalui kultur jaringan, dan bibit sawit toleran Ganoderma.
Selain itu, Astra Agro juga sudah melakukan transformasi untuk mendukung operasionalnya dengan memanfaatkan teknologi digital. Yang mencakup seluruh rantai nilai dari pembibitan, perkebunan, hingga pabrik pengolahan. Djap memberi contoh, antara lain, penggunaan drone dan digitalisasi untuk memprediksi cuaca, mengoptimalkan pemupukan, dan memantau kesehatan tanaman secara real-time.
“Strategi lain, yaitu people (manusia) yang terlibat dalam industri sawit harus mengalami peningkatan dan regrenasi. Tiga treatmennya. Pertama, edukasi dan training untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang terampil dan adaptif terhadap teknologi baru,” katanya.
Yang tak kalah penting, dari sisi kompetensi karyawan dalam pengembangan karir di semua level. Astra Agro memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berkarir. Memberikan kesempatan kepada karyawati untuk berkarir. Dan, ajang inovasi serta memberikan penghargaan dalam mencari solusi efisiensi dan keberlanjutan.
“Lalu, untuk point ketiga yaitu planet. Dengan komitmen komitmen NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation). Astra Agro telah memiliki dua unit methane capture, yang berlokasi di Riau. Desember nanti bertambah satu lagi, juga di Riau. Tahun depannya akan ada satu lagi di Sulawesi. Tahun 2030, kita targetkan memiliki total 10 unit methane capture di seluruh wilayah konsesi pada 2030 untuk penurunan emisi 30 persen,” kata Tet Fa.
Hal itu, menyangkut penurunan emisi karbon yang berasal dari palm oil mill effluent (POME). Gas methane dari POME merupakan gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat dari CO2.














