• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

STA Resources Cetak Pendapatan Rp6,43 Triliun, Laba Bersih Melonjak 88,04%

Jakarta, SAWIT INDONESIA – PT Sumber Tani Agung Resources Tbk menikmati berkah tingginya harga sawit sepanjang 2024. Hal ini dibuktikan dengan pendapatan PT Sumber Tani Agung Resources Tbk tumbuh 21,83% menjadi Rp6,43 triliun sepanjang 2024, dibandingkan periode 2023 sebesar Rp5,28 triliun.

Merujuk Laporan Keuangan perseroang, kenaikan pendapatan emiten berkode STAA ini ditopang segmen produk minyak sawit yakni Rp5,08 triliun atau sekitar 78,95% dari total penjualan Perseroan. Sementara produk minyak inti sawit menyumbang Rp939,72 miliar (14,59%), serta inti sawit sebesar Rp246,72 miliar (3,83%), dan produk lainnya Rp176 miliar.

Seiring penjualan, beban pokok penjualan STAA juga naik sebesar 9,86% jadi Rp4,25 triliun pada 2024, dari Rp3,87 triliun 2023. Namun, Laba kotor Perseroan melejit 54,96% jadi Rp2,18 triliun pada 2024, dari Rp1,41 triliun pada tahun 2023.

Di sisi lain, beban penjualan dan pemasaran STAA meningkat 12,28% jadi Rp266,81 miliar, dari Rp237,61 miliar pada tahun 2023. Adapun beban umum dan administrasi naik 2,23% jadi Rp197,39 miliar, dari sebelumnya rp193,08 miliar.

Kendati beban operasi naik, laba usaha perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan aset Rp8,08 triliun per Desember 2024 itu melambung 77,56% menjadi Rp1,86 triliun pada 2024, jika dibandingkan Rp1,05 triliun pada tahun 2023.

Alhasil, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,28 triliun (Rp118 per saham) pada 2024, melonjak 88,04% jika dibandingkan Rp681,88 miliar (Rp63 per saham) pada tahun 2023.

PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) adalah perusahaan yang didirikan pada tahun 1970 di Medan, Sumatera Utara. Ini adalah perusahaan induk dari grup perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan 13 anak perusahaan.

Saat ini, Perseroan dan entitas anak telah mengakuisisi lebih dari 42.000 hektar perkebunan kelapa sawit, yang terdiri dari 13 perkebunan kelapa sawit, 9 pabrik kelapa sawit, 1 fasilitas penggilingan inti, dan 1 pabrik ekstraksi pelarut di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Artikel Terkait