• Jumat, 25 September 2026
Sajian Utama

Solusi Pelumas Shell Indonesia Dukung Efisiensi Operasional Industri Sawit

Shell Indonesia melalui portofolio pelumas menegaskan kesiapan mendukung peningkatan efisiensi operasional pada industri sawit, teknologi monitoring, serta layanan purna jual. Langkah ini juga sejalan dengan transisi penggunaan biodiesel di Indonesia.

Farista Andi Kusuma, Vice President Technical Lubricants Shell Indonesia, menjelaskan bahwa Shell Indonesia menghadirkan rangkaian pelumas industri yang digunakan pada berbagai tahapan operasional, termasuk untuk sektor sawit. Produk yang tersedia mencakup pelumas mesin diesel tugas berat Shell Rimula, pelumas gardan dan transmisi Shell Spirax, pelumas hidrolik Shell Tellus, hingga gemuk atau grease Shell Gadus.

“Sebagai mitra sektor energi hilir di Indonesia, kami menyediakan portofolio pelumas industri yang komprehensif untuk mendukung performa dan keandalan peralatan di industri sawit,” ujar Farista Andi Kusuma.

Selain produk, Shell Indonesia juga menawarkan solusi layanan purna jual dan teknologi digital seperti Shell LubeAnalyst untuk pemantauan kondisi pelumas, Shell VideoCheck untuk pemantauan kondisi bagian dalam dari mesin diesel, serta memperkenalkan Shell Soot Sense, alat untuk mendeteksi jelaga pada mesin diesel.

Menurut perusahaan, pemakaian pelumas yang tepat dapat mengurangi total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO) melalui penurunan downtime (waktu henti) dan biaya perawatan. Shell Indonesia menyebut telah menjalankan proyek efisiensi (Value Improvement Project) untuk memastikan performa pelumas dan meningkatkan produktivitas dengan sejumlah perusahaan sawit sebagai mitra pengguna pelumas industri Shell.

“Pada salah satu aplikasi gemuk Shell Gadus untuk bearing armada truk pengangkut tandan buah segar, usia pakai gemuk meningkat hingga lima kali lipat dibandingkan produk sebelumnya, dengan potensi penghematan perawatan mencapai Rp1,7 miliar per tahun,” jelasnya.

Shell Indonesia memiliki lebih dari 30 tahun pengalaman dalam pemantauan kondisi pelumas untuk mesin pelanggan, sekaligus bekerja sama dengan pelaku industri sawit untuk menekan biaya perawatan dan meningkatkan produktivitas.

Adapun untuk mendukung energi yang lebih bersih, Shell Indonesia juga menyiapkan kompatibilitas pelumas terhadap biodiesel B50. Biodiesel berbasis Palm Oil Methyl Ester (POME) diketahui memiliki viskositas lebih tinggi dibandingkan solar konvensional dan berpotensi meningkatkan pembentukan jelaga (soot), terutama pada mesin dengan sistem Exhaust Gas Recirculation (EGR).

“Kami telah melakukan riset internal sehingga pelumas seperti Shell Rimula siap mendukung penggunaan biodiesel dengan kontrol soot yang lebih baik,” ujar Farista Andi Kusuma.

Shell Indonesia menyebut data lapangan menunjukkan performa Shell Rimula unggul dalam mengendalikan soot pada mesin Mercedes-Benz OM 906 LA, meskipun diuji pada standar setara API CI-4.

Pihak perusahaan menambahkan bahwa kombinasi pelumas tepat dan pemantauan cerdas seperti Shell SootSense dapat membantu operator menjaga performa mesin, mengurangi downtime, dan memastikan operasional yang berkelanjutan.

Indonesia tercatat sebagai salah satu pasar pelumas strategis bagi Shell. Perusahaan telah membangun dan mengoperasikan pabrik pelumas di Indonesia sejak 2015. Pada 2022, perusahaan meningkatkan kapasitas produksi pelumas menjadi 300 juta liter per tahun.

Shell Indonesia juga tengah membangun pabrik manufaktur gemuk (grease manufacturing plant) dengan kapasitas produksi hingga 12 kiloton per tahun.

“Ekspansi ini memungkinkan kami menjawab kebutuhan pelumas untuk pasar domestik sekaligus berkontribusi terhadap penguatan industri hilir nasional,” kata Farista.

Selain produksi, peringkat global Shell dalam bisnis pelumas turut dipertahankan. Berdasarkan laporan Kline & Company, Shell dinobatkan sebagai pemasok pelumas nomor satu di dunia selama 19 tahun berturut-turut.

Program Biodiesel

Shell Indonesia juga mendukung program mandatori biodiesel agar pengguna tetap nyaman dan optimal saat berkendara. Apabila terjadi pencampuran biodiesel yang tidak optimal, akan terjadi risiko pembentukan soot/jelaga meningkat signifikan dan deposit pada mesin diesel. Hal ini terjadi karena kualitas bahan bakar yang buruk, terutama akibat sisa gliserol, sabun, atau bahan bakar yang tidak terkonversi sempurna.

Pembentukan jelaga inilah yang akan berdampak kepada mesin kendaraan antara lain deposit jelaga dan sedimen dapat menyumbat filter bahan bakar dengan cepat. Dampaknya kepada injector adalah mengganggu pola penyemprotan bahan bakar. Selain itu dapat menghasilkan emisi gas buang yang lebih kotor (berwarna hitam).

Dikutip dari Newsletter Shell Lubricant Solutions, efek dari penumpukan jelaga menyebabkan pelumas harus bekerja lebih keras untuk menahan beban jelaga dan asam, yang dalam jangka panjang dapat mempercepat keausan komponen.

Salah satu kunci sukses implementasi biodiesel adalah pelumas yang andal dalam mengontrol soot. Jika pelumas gagal, mesin akan mengalami penumpukan deposit, sludge, dan penurunan efisiensi.

Shell memiliki solusi yaitu Shell Rimula. Inovasi ini memiliki performa unggul dibandingkan kompetitor dalam mengendalikan soot pada mesin Mercedes-Benz OM 906 LA (Bus), meskipun keduanya sama-sama berstandar API CI-4. Performa superior ini memberikan perlindungan lebih baik pada komponen mesin, menjaga kebersihan, dan memperpanjang masa pakai.

Shell Rimula R4 X 15W-40 menjaga kebersihan mesin dengan menghilangkan jelaga secara efektif. Tidak ada endapan lumpur berat pada jarak tempuh ± 15.000 km. Endapan kental pada mekanisme katup saat menggunakan pelumas kompetitor 15W-40 pada jarak tempuh kurang dari 10.000 km.

Artikel Terkait