Solidaridad Indonesia mendorong penerapan regenerative agriculture (pertanian regeneratif) sebagai jawaban atas ancaman degradasi lahan pertanian yang terus berlanjut hingga saat ini, khususnya di sektor kelapa sawit.
Edy Dwi Hartono, Kepala Pengembangan Program Solidaridad Indonesia menjelaskan bahwa pertanian regeneratif mengacu pada tiga pilar, yaitu metode pertanian yang menghasilkan peningkatan kesehatan tanah, peningkatan keanekaragaman hayati, dan sumber daya air yang sehat.
Dia mengatakan, regenerative agriculture sendiri sudah ada sejak tahun 1980-an dengan nama sustainability agriculture (SA). Hadirnya SA lantaran saat itu sudah banyak dirasakan dampak buruk terhadap lingkungan akibat pola pertanian yang hanya mengejar peningkatan produktivitas dengan pupuk kimia (dampak negatif dari Revolusi Hijau), namun mengabaikan kelestarian tanah dan keseimbangan alam.
“Regenerative agriculture bertumpu pada 3 pilar: Kesehatan tanah, konservasi air, dan keanekaragaman hayati. Poin poin perbaikan tanah itu yang jadi pilar, karena Tanah menjadi tumpuan bagi kehidupan tanaman yang tumbuh di atasnya. Tanah tidaklah mati, tapi hidup dan perlu asupan yang berasal dari mikro organisme seperti bakteri dan jamur pengurai serta organisme mikroba pengikat Nitrogen agar nutrisi dalam tanah tetap terjaga. Tanaman penutup seperti legum dan rerumputan untuk mengendalikan erosi juga penting untuk menjaga kelembaban tanah dan meningkatkan nutrisi tanah, dan menarik serangga penyerbuk.”
“Jadi bahan-bahan organik dan ekosistem kecil di seputar tanaman tersebut akan menambah asupan alami yang dapat menyuburkan tanah,” ujar Edy saat ditemui di Kantor Solidaridad, di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (16/12/2024).
Dia mengungkapkan, pengaplikasian perkebunan regeneratif di sektor sawit sendiri masih terbilang baru dibanding komoditas lainnya seperti kakao atau kopi, misalnya.
“Pada 2006 saat mulai marak perkebunan kelapa sawit, regeneratif agriculture ini belum cukup familiar saat itu. Namun tanaman lain seperti kopi atau kakao cukup familiar menggunakan kompos,” terang Edy.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan BPS tahun 2023, luas perkebuan sawit di Indonesia adalah 16,36 Juta hektar atau 7,4% dari total luas lahan di Indonesia. Karena itu, Indonesia menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan tidak kurang 50 juta ton per tahun, dan memiliki peran yang sangat strategis di dalam pemenuhan kebutuhan minyak sawit dunia.
Sebagai salah satu komoditi hasil perkebunan, kelapa sawit memiliki peran penting untuk Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2024 tercatat 4,95%, sementara produk domestik bruto pada sektor pertanian dan perkebunan tumbuh positif di 1,69%. Komoditas kelapa sawit menjadi salah satu motor penggerak pada kedua sektor tersebut.
Pada sisi ekspor, industri kelapa sawit juga merupakan salah satu penyumbang terbesar untuk ekspor nonmigas Indonesia. Menurut data Kementerian Perdagangan, sampai dengan September 2024 menunjukkan kinerja ekspor nonmigas sebesar USD181,14 Milyar, dan untuk ekspor lemak dan minyak nabati mencapai USD14,43 Miliar termasuk didalamnya minyak dari kelapa sawit.
Dari total luas perkebunan sawit di Indonesia, sekitar 6,77 juta hektar atau 41 % merupakan perkebunan swadaya. Diprediksi, jumlah tersebut akan meningkat menjadi 60% pada tahun 2030. Namun, pekebun swadaya kelapa sawit di Indonesia masih memiliki banyak tantangan, diantaranya adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai praktik perkebunan yang baik, hasil kebun yang rendah, hingga terbatasnya akses pasar. Karena itu, diperlukan dukungan dan intervensi agar pekebun sawit dapat menerapkan good agricultural practices (GAP) atau praktik pertanian yang baik dan best management practices (BMP) atau praktik pengelolaan terbaik untuk industri sawit yang berkelanjutan.
Perkebunan regeneratif solusi masalah produktivitas
Edy mengatakan Solidaridad telah bekerja sama dengan sekitar 2.000 petani sawit swadaya di Kalimantan Barat untuk mengaplikasikan perkebunan regeneratif dan telah tersertifikasi Regen Agridari Control Union. Berdasarkan pengalaman tersebut, menurutnya banyak hasil positif yang dirasakan petani dalam penerapan perkebunan regeneratif. Mulai dari efisiensi biaya produksi hingga produktivitas yang naik signifikan.
“Berdasarkan pengalaman temen-temen petani bahkan perusahaan ternyata mengurangi biaya dan meningkatkan kesuburan tanah, karena juga mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia sebanyak 40 persen. Contohnya petani menggunakan urea 1-2 sak, Rp600 ribu. Ketika dikurangi 40 persen berarti dia saving sekitar Rp240 ribu,” ungkap Edy.
Selain itu, pengalaman petani-petani yang didampingi Solidaridad pun mengalami kenaikan produksi. Hal ini dikarenakan tanah yang diintervensi menggunakan pupuk alami yang berdampak langsung pada kesuburan dan kelembaban tanah.
“Cacing dan mikro organisme pun disana hidup dan membantu proses penguraian. Tanah tidak kering. Sehingga dampak yang dirasakan Petani, Ketika Petani lain mengalami masa Trek (produk sawit menurun), mereka tidak mengalaminya.,” ujarnya. “Bahkan, ada pengalaman TBS pun satu buah bisa mencapai 30 kg (setelah menerapkan regenerative agriculture,” tambahnya.
Lebih lanjut, Edy mengatakan pengaplikasian perkebunan regeneratif bertujuan menjadi solusi menciptakan rantai pasok minyak kelapa sawit bebas deforestasi. Oleh karenanya, Solidaridad mendorong Sertifikat Sawit Berkelanjutan. Edy mengatakan, sertifikat tersebut mempunyai sejumlah keuntungan bagi petani sawit, dari menghasilkan lebih banyak sawit dengan menggunakan lebih sedikit lahan, meningkatkan kredibilitas hingga membuka peluang pasar lebih luas.
“Khusus untuk sertifikat kami terkait dengan kegiatan Regenerative Agriculuture, Bersama Control Union, Solidaridad mengembangkan sebuah model sertifikasi yang diberi nama Regenagri. yang mulai dikembangkan sejaktahun 2019 dan sudah diterima serta diakui secara global,” ucapnya.
Tentang Solidaridad
Solidaridad Indonesia merupakan bagian dari Solidaridad Asia yang sudah beroperasi sejak 2013, dan terdaftar sebagai Yayasan Solidaridad Network pada 2015. Solidaridad menjadi pelopor dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, memperjuangkan kepentingan petani, pekerja, dan penambang kecil serta marjinal. Organisasi ini mendorong terciptanya rantai pasok yang berkelanjutan dan inklusif, dengan fokus pada upaya mewujudkan kemakmuran bagi semua, menerapkan prinsip inklusivitas, serta produksi yang seimbang dengan daya dukung alam. Solidaridad Indonesia berfokus pada komoditas kelapa sawit, khususnya yang berkaitan dengan inklusifitas petani kelapa sawit mandiri di wilayah Sumatera, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Selain komoditas sawit, Solidaridad Network Indonesia juga memperhatikan komoditas teh di Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta rempah pala di Maluku.














