JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto turun langsung mengawal operasi pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah, Selasa (22/9/2026). Pengawalan intensif ini dilakukan menyusul lonjakan signifikan titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di wilayah Kalteng.
Berdasarkan data SiPongi Kemenhut via satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga Selasa malam, secara nasional terdeteksi 932 hotspot high confidence—melonjak 244 titik dibanding hari sebelumnya. Kalimantan Tengah mendominasi lonjakan tersebut dengan 643 titik panas, disusul Kalimantan Selatan (68 titik) dan Kalimantan Barat (50 titik). Sebaliknya, Riau dan Jambi mencatatkan rekor zero hotspot.
Untuk mempercepat penanganan, Menhut dan Kepala BNPB mengevaluasi dua pilar utama, yaitu pemadaman udara dan pemadaman darat.
Beberapa poin krusial dalam penanganan Karhutla Kalteng mencakup:
- Operasi Udara & OMC: Pemerintah memobilisasi total 61 armada udara (17 unit patroli/OMC dan 44 unit water bombing) untuk menyemai awan potensial dan membasahi ekosistem gambut.
- Penguatan Satgas Darat: Tim Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan relawan memprioritaskan penyekatan, pemadaman langsung, hingga proses mopping up (pendinginan bara gambut bawah tanah).
- Posko Utama Kapuas: Pimpinan Kemenhut dan BNPB berkoordinasi langsung dengan jajaran Pemkab Kapuas, Kapolda Kalteng, dan Pangdam XII/Tanjungpura guna memotong birokrasi koordinasi di lapangan.
Pemerintah mengingatkan bahwa keberadaan hotspot merupakan penanda anomali suhu yang masih harus divalidasi lewat groundcheck. Di sisi lain, memburuknya indeks kualitas udara (PM2,5) di sebagian wilayah Kalimantan membuat masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruang serta dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar.
Sumber: kehutanan.go.id














