JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) merilis laporan kinerja industri minyak sawit selama triwulan pertama 2026. Data menunjukkan nilai ekspor meningkat yoy (year on year), volume ekspor tumbuh 11,91% menjadi 8,54 juta ton dari Januari-Maret 2026, lebih tinggi daripada periode sama tahun lalu berjumlah 7,63 juta ton.
Kenaikan volume ini berdampak terhadap nilai ekspor yang mencapai Rp162,7 triliun hingga triwulan pertama tahun ini. Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, dalam laporan tersebut, mengatakan Peningkatan nilai ekspor secara YoY terjadi karena meningkatnya volume ekspor dan juga karena harga rata-rata Januari-Maret 2026 sebesar US$ 1.356/ton Cif Rotterdam yang lebih tinggi dari rata-rata Januari-Maret 2025 sebesar US$ 1.230/ton Cif Roterdam.
Dari faktor konsumsi domestik, jumlahnya ikut meningkat menjadi 6,52 juta ton daripada triwulan pertama 2025 yang berjumlah 6,07 juta ton. Begitupal dari produksi, jumlah produk sawit (CPO+PKO) tumbuh menjadi 15,55 juta ton atau 18,44% lebih tinggi dari produksi 2025 sebesar 13,13 juta ton.
Hasilnya menunjukkan tren penurunan pada sektor produksi, konsumsi dalam negeri, dan ekspor, yang berimbas pada lonjakan stok kelapa sawit nasional.
Keterangan: produksi, ekspor, dan konsumsi domestik dalam satuan metrik ton.Secara geografis, penurunan ekspor khusus di bulan Maret 2026 terbesar terjadi ke negara tujuan China (-314 ribu ton) dan India (-291 ribu ton). Sebaliknya, ekspor ke Rusia menjadi satu-satunya yang tumbuh positif dengan kenaikan 24 ribu ton.
Akibat lesunya serapan pasar domestik maupun pasar global di tengah angka produksi yang masih tinggi, stok akhir minyak sawit Indonesia pada akhir Maret 2026 membubung ke angka 2,56 juta ton. Angka ini meningkat signifikan dari stok akhir bulan Februari yang berada di posisi 2.02 juta ton.














