Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Saat menyampaikan sambutan di acara Konsolidasi dan Workshop Nasional APMI 2025, Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Mohammad Alfansyah, mengutarakan pernyataan yang menggugah semangat yang ditujukan kepada pengurus dan anggota Asosiasi Planters Muda Indonesia (APMI), yang hadir langsung maupun yang mengikuti secara online, dan mengikuti secara live melalui channel YouTube plantersmuda.
Dikatakan Alfansyah bahwa pada 2025 ini, program Beasiswa SDM Sawit akan (kembali) dibuka secara nasional, dengan kuota 4.000 penerima. Sementara, untuk jumlah total mahasiswa penerima beasiswa sawit yang dikelola oleh BPDP, saat ini mencapai kurang lebih 9.000-an orang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Dari data BPDP, sejak 2016-2024 telah memberikan beasiswa kepada 9.265 orang, dengan sekitar 3.400 orang di antaranya telah lulus dari berbagai program pendidikan, termasuk D1, D2, D3, dan D4.
"Dengan jumlah penerima dan yang akan menerima beasiswa SDM Sawit yang cukup banyak. Yakin tidak! Bisa digarap semuanya jadi anggota APMI?", katanya, di AKPY ‘STIPER’, Yogyakarta, pada Rabu (23 April 2025).
Pernyataan ini bukan hanya menggugah semangat pengurus dan anggota APMI, tetapi juga mengguncang kesadaran kolektif peserta yang hadir di acara tersebut. Melainkan, menjadi sebuah tantangan sebagai sinyal kuat bahwa BPDP tidak hanya menyalurkan beasiswa, tetapi juga berharap munculnya gerakan mahasiswa yang bisa menjadi motor penggerak transformasi sektor sawit dari sisi sumber daya manusianya.
APMI, yang selama ini tumbuh sebagai organisasi independen dan digerakkan oleh semangat kolektif anak muda perkebunan, menyambut tantangan itu dengan sikap terbuka dan penuh keyakinan.
Kerja nyata akan menjawab tantangan
Pernyataan dari Direktur Penyaluran Dana - BPDP, Mohammad Alfansyah itu, ditanggapi Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) APMI, Muhammad Nur Fadillah. "Pernyataan dari pak Alfansyah adalah sebuah tantangan. Bahwa tantangan tersebut bukan hal yang perlu dihindari, justru harus dijawab dengan kerja nyata dan semangat generasi muda yang ingin berkontribusi bagi masa depan sawit Indonesia," ujarnya.
"Kami tahu angka 9.000-an (penerima Beasiswa SDM Sawit) itu besar (banyak). Tapi yang lebih besar dari itu adalah semangat dan potensi anak-anak muda di balik angka itu. Kami tidak akan berpikir soal kendala dulu. Kami akan bergerak dulu. Bergerak menyapa, mengajak, menginspirasi, dan merangkul mereka satu per satu," imbuh Fadil dengan penuh semangat.
Lebih lanjut, ia menegaskan APMI bukan organisasi yang lahir dari struktur formal, melainkan dari kesadaran kolektif anak muda perkebunan yang ingin berbuat lebih untuk perkebunan rakyat.
"APMI dibangun oleh mereka yang percaya bahwa masa depan sawit ada di tangan generasi muda yang sadar akan perannya, dan siap berjuang bukan hanya demi beasiswa, tetapi demi keberlanjutan dan keadilan sektor sawit nasional," tegasnya.
"Kami bukan hanya ingin menjadikan mereka anggota. Kami ingin menjadikan mereka bagian dari gerakan. Bagian dari misi membangun perkebunan sawit rakyat yang kuat, adil, dan berkelanjutan. Kalau ditanya yakin atau tidak, kami jawab: kami akan buktikan," sambung Fadil penuh keyakinan.
Tantangan dari pihak BPDP, kini telah menjadi cambuk bagi APMI untuk meningkatkan kapasitas organisasi, memperluas jangkauan, dan memperdalam nilai gerakan. Dari sinilah generasi baru sawit akan terus tumbuh, tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai penjaga masa depan sawit rakyat Indonesia.
Dalam penutup pernyataannya, Fadil mengutarakan pesan yang menggambarkan semangat generasi sawit hari ini. “Kami tidak perlu ditanya bisa atau tidak. Yang kami butuhkan hanya ruang untuk membuktikan bahwa anak muda sawit Indonesia siap mengambil peran, dan kami sudah mulai dari sekarang,” pungkasnya.














