• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

SDM Jadi Penentu Masa Depan Sawit: 160 Pekebun Seluma Ikuti Pelatihan

Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Masa depan industri kelapa sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas kebun, bibit unggul, maupun pupuk. Kualitas sumber daya manusia (SDM) petani menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas, mutu TBS, sekaligus pendapatan.

Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Pelatihan Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 bagi 160 peserta dari Kabupaten Seluma, Bengkulu, Kamis (20/8/2026). Pelatihan yang dilaksanakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Ditjen Perkebunan tersebut mencakup kelas Budidaya Kelapa Sawit serta Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan pelatihan SDM menjadi penting karena tantangan perkebunan sawit semakin kompleks. Petani tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, tetapi harus mampu mengikuti perkembangan teknologi, menghadapi perubahan iklim, dan memenuhi tuntutan praktik perkebunan berkelanjutan.

“Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk, tetapi ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh SDM-nya,” ujarnya.

Menurut Dr. Idum, pemerintah melalui BPDP menunjukkan komitmen peningkatan kapasitas petani melalui beragam program. Selain budidaya dan panen-pascapanen, program pengembangan SDM juga mencakup sarana dan prasarana perkebunan, pemetaan, pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), hingga pengembangan kelembagaan.

Ia menilai pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sawit rakyat tidak dapat dilakukan hanya dari satu sisi. Produktivitas kebun, tata kelola, teknologi, keberlanjutan, hingga kapasitas petani harus dibangun secara bersamaan.

Dua Titik Penting Pendapatan Petani

Dalam pelatihan selama enam hari tersebut, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai budidaya serta panen dan pascapanen. Dua aspek ini dinilai menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kinerja kebun rakyat.

Pada sisi budidaya, materi mencakup pemeliharaan tanaman, pemupukan, pemilihan bibit, pengendalian gulma, konservasi tanah dan air, serta penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Sementara pada tahap panen dan pascapanen, petani dibekali teknik menentukan kematangan buah, memanen sesuai standar, mengumpulkan brondolan, hingga mempercepat pengiriman TBS ke pabrik.

Dr. Idum menekankan bahwa kehilangan pendapatan petani tidak selalu disebabkan oleh rendahnya produksi. Kesalahan dalam panen dan pascapanen juga dapat menurunkan mutu TBS dan rendemen minyak.

“Panen tepat waktu, pemanenan sesuai standar, pengumpulan brondolan yang baik serta pengiriman TBS yang cepat ke pabrik akan menentukan mutu buah, rendemen minyak dan pada akhirnya pendapatan,” katanya.

Sebab itu, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas hasil panen. Petani tidak hanya dituntut menghasilkan TBS lebih banyak, tetapi juga menjaga agar hasil tersebut tetap berkualitas hingga diterima pabrik.

Petani Dituntut Adaptif

Idum juga mengingatkan petani Seluma terhadap sejumlah tantangan jangka panjang, termasuk tanaman tua yang membutuhkan peremajaan, pemilihan benih yang tepat, perubahan iklim, serta tuntutan pasar internasional terhadap keberlanjutan dan ketertelusuran produk.

Kesalahan memilih benih, misalnya, dapat berdampak hingga puluhan tahun. Karena itu, petani diminta tidak sekadar mengejar harga murah saat membeli benih, tetapi memastikan sumber dan kualitasnya.

Di sisi lain, perubahan pola hujan juga dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman dan meningkatkan risiko gangguan organisme pengganggu tanaman. Kondisi tersebut menuntut petani terus memperbarui pengetahuan dan menyesuaikan praktik pengelolaan kebun.

“Petani masa depan adalah petani yang tidak hanya belajar dari pengalaman, tetapi mampu beradaptasi terhadap perubahan, memahami teknologi, mencatat usahanya dengan baik dan menerapkan prinsip keberlanjutan,” tutur Idum.

Ia berharap 160 peserta dari Seluma dapat menjadikan pelatihan bukan sekadar kegiatan enam hari di ruang kelas, melainkan sebagai bekal untuk memperbaiki praktik pengelolaan kebun setelah kembali ke daerah masing-masing.

Investasi pada SDM diharapkan mampu mendorong kebun rakyat menjadi lebih produktif, efisien dan berkelanjutan. Pada akhirnya, peningkatan kualitas petani menjadi bagian penting dari upaya memperkuat daya saing sawit Indonesia.

Artikel Terkait