• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

SDM Jadi Fondasi Sawit Modern, Petani Bengkulu Perkuat Kemitraan dan Manfaatkan Teknologi

BENGKULU, SAWIT INDONESIA — Penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu kunci penting dalam membangun perkebunan kelapa sawit yang maju, mandiri, dan modern. Teknologi dan sarana produksi dapat tersedia, namun kemampuan manusia untuk mengelola dan memanfaatkannya harus terus dibangun melalui proses pembelajaran berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Dr. M. Apuk Ismane, S.Pi., M.Si. mewakili Ketua Pusat Pelatihan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, saat membuka Pelatihan Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026, kelas Panen dan Pascapanen Angkatan IV - VIII bagi petani kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah, dengan total 151 peserta, pada Senin (28 September 2026) di Bengkulu.

Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Secara rinci, kegiatan pelatihan diikuti 151 pekebun dari Kabupaten Bengkulu Utara (112 pekebun) dan Bengkulu Tengah (39 pekebun).

Menurut Dr. Apuk, kegiatan pelatihan tidak semata-mata menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan teknis. Lebih dari itu, pelatihan menjadi ruang bertemunya pengalaman, pengetahuan, inovasi, dan praktik terbaik antarpelaku perkebunan.

“Keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan sarana produksi. Teknologi dapat dibeli, mesin dapat diproduksi, infrastruktur dapat dibangun, tetapi kualitas SDM hanya dapat dibentuk melalui proses belajar yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menilai posisi pekebun sangat strategis karena menjadi bagian penting dari proses pembelajaran, inovasi, kewirausahaan, sekaligus penguatan kelembagaan petani di pedesaan.

Dr. Apuk juga mendorong pekebun untuk memperkuat kelembagaan petani, termasuk melalui Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).

Menurutnya, P4S dapat menjadi wadah bagi petani untuk saling belajar dan berbagi pengalaman, sekaligus menjadi pusat pembelajaran pertanian yang tumbuh dari dan untuk masyarakat petani.

Karena itu, ia mengajak kelompok-kelompok petani di Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah yang telah memiliki maupun yang berpotensi membentuk P4S agar mendapatkan pendampingan dan mengusulkannya kepada Kementerian Pertanian.

“Mohon dibantu support untuk pembentukan dan diusulkan ke pusat di Pusat Pelatihan Pertanian di Kementerian Pertanian,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan kelembagaan menjadi semakin penting karena tantangan perkebunan ke depan tidak dapat dihadapi oleh petani secara sendiri-sendiri.

Lima Langkah Perkuat SDM Pekebun

Dalam kesempatan tersebut, Apuk mengajak para pekebun untuk melakukan sedikitnya lima langkah strategis.

Pertama, menyatukan kekuatan antarpelaku perkebunan melalui pertukaran pengalaman, teknologi, metodologi pelatihan, serta sumber daya yang dimiliki.

Kedua, membangun kemitraan yang lebih luas dengan dunia usaha, dunia industri, lembaga keuangan, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Ketiga, menciptakan model bisnis yang mandiri agar kelembagaan petani memiliki sumber daya berkelanjutan untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan peningkatan kapasitas pekebun.

Keempat, memanfaatkan transformasi digital untuk memperluas akses pembelajaran, promosi usaha, hingga pemasaran produk perkebunan kelapa sawit.

Kelima, mendorong lahirnya lebih banyak petani muda yang modern, profesional, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki orientasi agribisnis.

Lima langkah tersebut, kata Apuk, perlu diterjemahkan dalam kegiatan nyata sehingga pelatihan tidak berhenti pada ruang kelas.

“Harapan kami forum ini tidak hanya menghasilkan diskusi dan berbagi pengalaman, tetapi juga menghasilkan komitmen kolaborasi antarpekebun, peluang kemitraan bisnis yang konkret, jejaring pemasaran yang lebih luas, dan langkah nyata dalam penguatan SDM pertanian Indonesia,” katanya.

Dari Pelatihan Menuju Perubahan di Kebun

Dr. Apuk menilai pelatihan panen dan pascapanen memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan pembangunan perkebunan saat ini. Pengetahuan mengenai panen yang tepat dan penanganan hasil setelah panen menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produksi dan meningkatkan nilai ekonomi hasil perkebunan.

Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat dibawa pulang dan diterapkan di kebun masing-masing.

“Bapak, Ibu sekalian mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan pada kesempatan ini. Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring,” ujarnya.

Dr. Apuk pun mengaitkan penguatan SDM pertanian dengan agenda pembangunan nasional, termasuk upaya mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

Menurutnya, pembangunan pertanian membutuhkan manusia yang tidak hanya mampu menjalankan praktik budidaya, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, membangun usaha, memperkuat kelembagaan, serta membuka akses pasar.

Pelatihan SDMP 2026 di Bengkulu diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan 151 peserta, tetapi dapat menghasilkan efek berantai melalui penerapan pengetahuan di kebun, berbagi pengalaman dengan sesama pekebun, serta penguatan kelembagaan petani di tingkat lokal.

“Pelatihan bukan hanya ajang berkumpul para pelaku kebun, tetapi juga tempat lahirnya gagasan, inovasi, dan kolaborasi yang akan menentukan masa depan pertanian nasional,” pungkas Dr. Apuk.

Artikel Terkait