Palangka Raya, SAWIT INDONESIA – Sawit semakin menarik bagi masyarakat Kabupaten Barito Utara karena dinilai memberikan hasil ekonomi yang menjanjikan. Namun, pemerintah daerah menilai daya tarik tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas pekebun agar tidak sekadar menanam, tetapi mampu mengelola kebun secara lebih profesional.
Pesan itu mengemuka dalam penutupan pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 171 pekebun dan enam ASN dari kabupaten Barito Utara, Sabtu (15/8/2026), di Palangka Raya.
Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Barito Utara, Yoyok Harijatmiko, mengatakan sawit merupakan salah satu potensi perkebunan penting di daerahnya.
“Masyarakat sudah sangat paham bahwa sawit ini sangat cuan, sangat menghasilkan,” ujar Yoyok.
Menurutnya, potensi ekonomi tersebut harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan pekebun. Salah satunya melalui penguatan sumber daya manusia.
“Bagaimanapun kita mengharapkan kesejahteraan petani itu harus terlaksana, apa pun komoditasnya,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, mengatakan pelatihan enam hari tidak dirancang sebagai proses belajar satu arah. Pengalaman para pekebun di lapangan justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
“Bapak-Ibu semua ini sebetulnya lebih berpengalaman. Kalau ada kami, kami ini cuma nambah-nambah sekaligus sharing,” ujarnya.
Oleh karena itu, peserta didorong aktif berdiskusi dan saling berbagi praktik. Pembelajaran juga diperkuat melalui praktik di kelas dan field trip ke kebun sebagai ruang studi banding.
Peserta dapat melihat langsung praktik budidaya, kemudian membandingkannya dengan kondisi kebun masing-masing.
“Kalau studi banding berarti kita bisa membandingkan. Mungkin kebun kita juga lebih bagus, tapi ada hal-hal lain yang bisa kita peroleh dari field trip,” kata Idum.
Lebih lanjut, Yoyok menambahkan, kesempatan mendapatkan pembelajaran teknis tersebut merupakan hal yang sudah lama diharapkan pemerintah daerah. Selama ini, para pekebun lebih banyak mengandalkan pengalaman di lapangan.
Ia menyebut mereka sebagai “pejuang di lapangan” yang perlu diperkuat dengan pengetahuan dan keterampilan teknis.
“Ini adalah mimpi kami yang sangat kami harapkan. Kami sudah lama bermimpi bagaimana membawa pekebun mendapatkan bimbingan pelatihan,” ujarnya.
Yoyok berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan langsung diterapkan ketika peserta kembali ke kebun.
“Ilmu, wawasan, dan keterampilan yang diperoleh dapat diaplikasikan dan diterapkan secara nyata sehingga membawa perubahan pada pengelolaan perkebunan yang lebih produktif dan berkelanjutan,” katanya.
Dr. Idum menambahkan, manfaat pelatihan juga tidak berhenti pada pengetahuan teknis. Selama enam hari, peserta yang sebelumnya mungkin belum saling mengenal telah membangun jejaring yang bisa terus dimanfaatkan.
Menurutnya, komunikasi antar peserta dan narasumber perlu tetap berjalan melalui grup yang telah terbentuk. Jejaring tersebut dapat menjadi ruang bertanya ketika menghadapi persoalan di lapangan, berbagi informasi baru, hingga membuka peluang kerja sama.
“Kalau nanti di lapangan ada sesuatu yang perlu ditanyakan atau sesuatu yang baru, bisa disampaikan juga kepada kami,” ujarnya.
Dr. Idum mengapresiasi dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Pemerintah Kabupaten Barito Utara dalam pelaksanaan program tersebut.
Untuk itu, hasil pelatihan diharapkan tidak berhenti pada 171 peserta. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat ditularkan kepada pekebun lain.
Pada akhirnya, ketika sawit semakin menjanjikan secara ekonomi, tantangannya bukan sekadar menambah tanaman, tetapi membuat setiap kebun dikelola lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan oleh pekebun yang semakin profesional.














