• Jumat, 25 September 2026
Berita Terbaru

Sawit Jadi Pilar Energi Hijau Indonesia

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Indonesia kembali menegaskan peran strategisnya dalam industri kelapa sawit global melalui penyelenggaraan The 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE) 2025. Acara ini berlangsung pada 1–3 Oktober 2025 di Ballroom BRIN Gatot Subroto, Jakarta, sebagai bagian dari Indonesia Research and Innovation Expo (InaRI Expo).

Mengusung tema “Penguatan Sinergi Sektor Perkebunan Sawit dalam Mendukung Ketahanan Energi Berbasis Inovasi Teknologi”, konferensi ini digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI). Forum tersebut menghadirkan peneliti, akademisi, pelaku industri, pembuat kebijakan, hingga organisasi petani untuk membahas masa depan sawit dalam mendukung transisi energi berkelanjutan.

Dalam sambutan pembukaan, Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Boediastuti Ontowirjo, menegaskan bahwa industri sawit memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional. “Kebijakan mandatori biodiesel yang kini telah mencapai B40 menjadi bukti nyata kontribusi sawit dalam pengurangan emisi dan kemandirian energi,” ujarnya.

Boediastuti menambahkan, riset dan inovasi BRIN telah menghasilkan berbagai terobosan, mulai dari katalis bio-jet fuel, teknologi konversi biomassa limbah sawit, hingga riset lintas disiplin untuk mengembangkan bioavtur, biodiesel efisien, dan biogas. ‘’Salah satu riset unggulan bahkan memperoleh penghargaan UNESCO for Women in Science 2024 melalui inovasi katalis berbasis metal-organic framework yang mampu mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar jet ramah lingkungan,’’ sebutnya.

Ketua Panitia IPORICE 2025 sekaligus Kepala OR Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (TKPEKM) BRIN, Agus Eko Nugroho, menyampaikan bahwa sawit bukan hanya terkait minyak goreng, tetapi juga masa depan energi hijau Indonesia. Ia menyoroti pentingnya aspek sosial-ekonomi, termasuk sertifikasi ISPO, rantai pasok minyak jelantah, serta pemberdayaan petani kecil.

Dari kancah internasional, Sekjen Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Izzana Salleh, menekankan perlunya melawan narasi negatif tentang sawit dengan data ilmiah dan inovasi. Menurutnya, sawit merupakan tanaman penghasil minyak paling efisien dengan kontribusi besar terhadap ekonomi global, di mana 40% produksinya berasal dari petani kecil.

Sementara itu, Deputi Bidang Pangan, SDA, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menyampaikan bahwa dalam RPJP 2025–2045, sawit ditetapkan sebagai komoditas strategis utama. Fokus pengembangannya mencakup peningkatan produktivitas, diversifikasi produk bernilai tinggi seperti green diesel, bioavtur, oleokimia, hingga pemanfaatan limbah sawit untuk energi dan material maju seperti superkapasitor. Ia juga menyoroti peluang pasar Eropa pasca penandatanganan Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

“Sawit kini bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi motor transformasi energi berkelanjutan dan penggerak ekonomi rakyat,” tegas Sambodo.

Konferensi IPORICE 2025 menjadi ajang kolaborasi strategis untuk memperkuat sinergi riset, inovasi, dan kebijakan. Dengan semangat people, planet, and prosperity, Indonesia menegaskan bahwa sawit bukanlah masalah, melainkan bagian penting dari solusi energi hijau dunia.

Acara ini dihadiri perwakilan kementerian, perusahaan perkebunan, akademisi, peneliti, asosiasi petani, organisasi masyarakat sipil, dan media.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait