Sawit dan Kedaulatan Indonesia

Salam Sawit Indonesia,

Menyambut perayaan Kemerdekaan  ke-75 Republik Indonesia, ragam inovasi dan kebijakan terus berjalan di tengah pandemi. Di sektor energi terbarukan, Pertamina sedang mengembangkan green fuel berbasis sawit. Green fuel ini dapat dipakai kendaraan bermotor sampai pesawat. Kedaulatan energi menjadi sangat penting bagi Indonesia. Potensi sawit sedemikian besar dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan dan non pangan.

Di edisi Agustus, kami mengulas informasi yang bersifat inovatif dan positif untuk merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia. Indonesia bisa merdeka dari kebodohan dan ketertinggalan asalkan dapat mengoptimalkan sumber dayanya. Kelapa sawit merupakan solusi menuntaskan persoalan tersebut. Di bidang energi, kontribusi sawit bagi produk energi terbarukan dapat dirasakan. Begitu pula di sektor pangan. Pelaku  usaha dan petani meminta dukungan serta kemudahan dari pemerintah dalam beraktivitas. Keinginan ini menjadi prasyarat supaya komoditas ini tidak menjadi beban di kala pandemi.

Rubrik Sajian Utama mengangkat OWL Plantation yang berkomitmen inovasi di saat pandemi Covid-19 terjadi. Sebagai perusahaan berbasis teknologi, bisnis yang dijalankan OWL bernilai tambah bagi perusahaan sawit.  Masa pandemi Covid-19 yang membatasi interaksi sosial, secara tidak langsung membuka peluang lebih luas bagi OWL Plantation untuk mengedukasi software perkebunan pada perusahaan-perusahaan perkebunan, tak terkecuali perkebunan sawit. Peluang ini juga bisa ditangkap oleh perusahaan yang belum melakukan digitalisasi dengan menggunakan remote control menggunakan software berbasis ERP.

Dengan sistem OWL, perusahaan mampu beroperasi dan mengawasi kegiatan di perkebunan serta pabrik. Tidak perlu berkunjung langsung. Cukup menggunakan gadget maupun laptop untuk mendapatkan laporan setiap jam dan menit. Selain itu, perusahaan akan terbantu dalam pengambilan keputusan cepata dan tepat.

Rubrik Hot Issue menampilkan persoalan ISPO yang akan diwajibkan kepada petani sawit. Waktu berjalan cepat, 54 bulan lagi petani harus mengikuti sertifikasi. Wajib tanpa kecuali. Muncul kekhawatiran, petani tidak akan bisa sertifikasi ISPO. Hambatan mereka sangat banyak khususnya legalitas. Apa bila tidak punya sertifikat ISPO, buah petani terancam membusuk. Pabrik enggan membeli. Kalau ini terjadi, siapa yang bertanggung jawab? Kebijakan ISPO seharusnya lebih bijak. Menjadi solusi bukan beban baru.

Pembaca, semangat kemerdekaan haruslah dijaga. Di tengah pandemi, kita semua bergandeng tangan dan memperkuat solidaritas. Demi tanah kelahiran kita. Tabik.

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like