• Kamis, 1 Oktober 2026
Berita Terbaru

Sawit dalam Ujian, Prof Bayu Krisnamurthi Minta APKASINDO Jadi Garda Depan Perubahan

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Profesor Dr. Bayu Krisnamurthi, Guru Besar IPB University menyampaikan pesan reflektif kepada Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) yang merayakan hari jadi ke-25 pada Selasa (28/10/2025). Dalam pesannya, Bayu menekankan pentingnya Apkasindo mempertegas peran dan kontribusinya terhadap anggota, khususnya petani sawit di seluruh Indonesia.

“Selamat ulang tahun Apkasindo ke-25. Semoga selalu bisa berperan untuk sawit Indonesia. Usia 25 tahun adalah usia matang,” ujar Bayu. “Kalau manusia, di usia ini sudah bisa menegaskan jati diri dan peranannya bagi kehidupan dan masyarakat. Apkasindo saya kira harus lebih tegas menegaskan hal tersebut.”

Bayu menilai bahwa fungsi utama organisasi harus berangkat dari kepentingan anggotanya. “Peranan organisasi untuk anggota tidak harus dilakukan oleh pihak luar, tapi oleh organisasi itu sendiri. Baru setelah itu, organisasi memperjuangkan keluar,” tutur Dewan Pakar APKASINDO ini.

“Apkasindo semakin berperan, semakin dikenal, dan semakin dilibatkan. Eksistensinya sudah diterima masyarakat. Sekarang tantangannya adalah bagaimana memberikan nilai tambah bagi anggota dan membawa kepentingan mereka keluar, dan sawit Indonesia secara keseluruha ” ujar Bayu.

Bayu mengingatkan bahwa industri sawit Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian besar. Ia menekankan bahwa tidak ada kekuatan eksternal yang dapat menjatuhkan sawit Indonesia, kecuali dirinya sendiri, bangsa ini sendiri.

“Dalam sejarah banyak cerita tentang komoditas yang hebat dan dikagumi, namun akhirnya ditelan sejarah karena tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri,” katanya.

Salah satu isu yang disorot Bayu adalah perbandingan harga minyak sawit yang lebih tinggi dari minyak nabati lain seperti kedelai. “Ketika harga sawit lebih mahal, itu bisa berbahaya. Karena konsumen di negara berkembang seperti Bangladesh, Pakistan, dan India akan beralih ke minyak lain. Begitu mereka beralih, sulit untuk kembali,” jelasnya.

Bayu juga mengingatkan bahwa selisih harga minyak sawit yang terlalu tinggi — misalnya mencapai US0 di atas minyak nabati lain — tampak menguntungkan jangka pendek, namun berisiko menimbulkan koreksi tajam di masa depan.

Lebih jauh, Bayu menyoroti potensi risiko dari kebijakan biodiesel yang tidak dikelola dengan baik. Ia menilai, kebijakan yang awalnya dimaksudkan untuk memperkuat industri sawit bisa justru menjadi bumerang jika dijalankan tanpa keseimbangan.

“Biodiesel kalau tidak dikelola dengan baik, tadinya bisa jadi penolong tapi nanti justru membuat sawit Indonesia kehilangan segalanya. Kalau dipaksakan, pendapat saya terakhir itu B50 bisa menjadi genta kematian sawit,” tegasnya.

Selain kebijakan, tantangan besar lain adalah regenerasi petani dan lahan sawit yang saat ini sangat menarik perhatian. Menurut Bayu, dua hal tersebut perlu dijawab dengan strategi jangka panjang, bukan sekadar pendekatan sesaat.

Artikel Terkait