Jakarta, SAWIT INDONESIA - Minyak sawit merah (red palm oil) berpotensi menjadi pangan fungsional yang mendukung peningkatan status gizi ibu hamil sekaligus menurunkan risiko bayi berat lahir rendah (BBLR). Temuan tersebut merupakan hasil penelitian Guru Besar Departemen Gizi Universitas Indonesia (UI), Prof. Ratu Ayu Dewi Sartika, yang dipaparkan dalam seminar Inovasi Teknologi Pemanfaatan Bioaktif Sawit untuk Gizi dan Kesehatan pada rangkaian Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta, Rabu (22 Juli 2026).
Menurut Ratu Ayu, kelapa sawit memiliki kandungan bioaktif yang sangat potensial untuk mendukung perbaikan status gizi masyarakat apabila dimanfaatkan secara tepat dan berkelanjutan.
"Kelapa sawit memiliki kandungan nutrisi yang sangat potensial untuk mendukung perbaikan status gizi masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penelitian mengenai minyak sawit telah dilakukan sejak 2004. Dalam perkembangannya, fokus riset diarahkan pada red palm oil karena kandungan karotenoid alaminya yang sangat tinggi, termasuk beta karoten sebagai prekursor vitamin A, vitamin E, dan berbagai senyawa antioksidan.
Ratu Ayu mengatakan persoalan kekurangan vitamin A masih menjadi tantangan pemenuhan kebutuhan mikronutrien, khususnya bagi ibu hamil dan bayi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Oleh karena itu, tim peneliti mengembangkan produk turunan minyak sawit merah dalam bentuk sirup suplemen sebagai intervensi gizi selama masa kehamilan.
"Selama ini pemanfaatan red palm oil lebih banyak dalam produk pangan seperti margarin atau minyak goreng. Kami ingin membangun bukti klinis mengenai efektivitas suplementasi dalam bentuk sirup terhadap ibu hamil dan luaran kehamilan," katanya.
Penelitian dilakukan terhadap ibu hamil trimester ketiga di empat puskesmas di Kabupaten Bogor dengan usia kehamilan 24–33 minggu. Dari lebih dari 160 responden yang direkrut, sebanyak 105 ibu hamil menyelesaikan seluruh tahapan penelitian hingga akhir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok ibu hamil yang mengonsumsi sirup red palm oil mengalami peningkatan kadar hemoglobin dan serum retinol dibandingkan kelompok kontrol.
Lebih jauh, penelitian juga menemukan bahwa ibu yang tidak memperoleh suplementasi memiliki risiko sekitar empat kali lebih tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dibandingkan kelompok yang mengonsumsi sirup minyak sawit merah.
Sementara itu, untuk parameter panjang badan bayi saat lahir belum ditemukan perbedaan yang signifikan. Penelitian terhadap kualitas air susu ibu (ASI) juga masih memerlukan kajian lanjutan karena sampel ASI pada penelitian ini hanya diambil pada masa nifas.
Selain itu, tim peneliti menemukan hubungan erat antara anemia pada ibu hamil dengan rendahnya kadar vitamin A dalam darah. Ibu hamil yang mengalami anemia memiliki risiko sekitar 3,7 kali lebih tinggi mengalami defisiensi serum retinol.
Ratu Ayu berharap penelitian ini dapat dilanjutkan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi red palm oil terhadap kualitas ASI selama enam bulan masa pemberian ASI eksklusif.
"Melalui riset yang berkelanjutan, kita dapat mengembangkan berbagai produk pangan berbasis sawit yang tidak hanya aman, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang lebih luas," ujarnya.














