• Kamis, 1 Oktober 2026
Sajian Utama

Riset Dibutuhkan bagi Diplomasi Sawit Indonesia

Selain menjadi bagian pengembangan industri, program riset sawit BPDPKS juga diperlukan untuk menjadi bagian diplomasi dan menyuguhkan fakta positif untuk menjawab kampanye negatif di dunia internasional.

Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa dan Sumber Daya Alam Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Dr. Musdhalifah Machmud menilai riset terhadap sawit diperlukan untuk menunjukkan dan membuktikkan semua aspek positif tentang sawit kepada dunia global.

“Jadi hasil hasil riset yang diselenggarakan untuk kebutuhan dalam negeri, juga untuk diplomasi kita ke pasar global. Soalnya riset itu membuktikan bahwa sawit itu baik untuk ekonomi, sosial dan lingkungan dan itu dapat dilakukan melalui serangkaian riset yang komprehensif,” ujar Musdhalifah saat dihubungi, Kamis (26/9/2024).

Oleh karena itu, dia mengungkapkan program riset BPDPKS sangat diperlukan untuk mendukung keberlanjutan industri sawit. Menurutnya, banyak hasil riset sawit yang membuktikan segala macam wacana negatif soal sawit itu salah.

“Saya tidak bisa menggambarkan satu-satu ya tapi riset kita itu banyak soal alih fungsi lahan misalnya. Alih fungsi lahan itu berapa persen sih ada tuh di risetnya. Yang dari forest langsung atau dari lahan kritis supaya tidak jadi beban negara, maka lahan kritis itu ditanami sawit. Sehingga bermanfaat untuk ekonomi,” bebernya.

Dia juga menambahkan, terdapat juga riset bahwa keanekaragaman hayati dalam sawit tidak kalah dengan keaneragaman hayati yang berada di hutan alami. Karena ada ekosistem baru tersebut, maka makhluk hidup yang ada di sawit sangat beragam.

“Wild life di kebun sawit sama beragamnya. Jadi bukan berarti dengan diganti ekosistem akan tercipta ekosistem baru yang berimbang dengan keanekaragaman hayati di dalamnya. Itu dibuktikan dengan riset,” ujar Musdhalifah.

Meski demikian, dia mengakui, saat ini tidak semua pihak mau membaca atau mendengarkan riset positif soal sawit.

“Tapi banyak juga yang merespons positif. Disana juga kepentingannya beda-beda. Memang yang memperhatikan fakta pasti akan terpengaruh dengan hasil riset, lalu mereka juga akan memperhatikannya. Ini dibuktikan banyaknya stakeholder di sana yang berpihak ke produsen (sawit) saat ini,” ungkapnya.

Musdhalifah pun berharap ke depannya semua stakeholder sawit terus melakukan riset dan inovasi mengenai komoditas sawit.

“Kita harus terus menerus melakukan pembuktian terhadap berbagai hal yang memang dari aspek sosial, pengaruh sosial, dampak lingkungan, kita harus memberikan bukti bukti. Kemudian hilirisasi, teknologinya agar memberikan keberlanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, jika sawit ingin terus berkelanjutan maka riset inovasi harus terus berjalan. Dia mengatakan, Indonesia tidak boleh puas dengan yang ada sekarang. Tapi harus berkembang maju dan berkreasi agar industri sawit bisa terus berkelanjutan. “Kalau sekarang misalnya produk tidak hanya jadi minyak dan biodieselnya, bahkan kita wastenya juga bermanfaat ya untuk bahan industri seperti DHA dan lain sebagainya. Termasuk riset di ITB itu bisa menggantikan karakter bensin dan avtur. Jadi produk hilirnya itu used cooking oil sudah banyak diminati. Jadi semuanya terus bergerak jangan terpaku dengan yang ada sekarang. Karena itulah, riset jadi tumpuan Indonesia agar lebih sustainable untuk memenuhi kebutuhan dunia,” pungkasnya.

Artikel Terkait