• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Rendemen Sawit Luwu Timur Masih 16%, 88 Pekebun Dibekali Jurus Panen

Makassar, SAWIT INDONESIA – Rendemen minyak sawit di sejumlah pabrik Kabupaten Luwu Timur disebut masih sekitar 16 persen. Padahal, dengan bibit unggul dan tata kelola panen yang baik, potensinya dapat menembus lebih dari 25 persen.

Kondisi ini menjadi perhatian dalam Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit yang diikuti 88 pekebun Luwu Timur di Makassar, 7–11 Agustus 2026. Kegiatan tersebut merupakan sinergi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Pemprov Sulawesi Selatan, Pemkab Luwu Timur, dan PT Trifos Internasional Sertifikasi (TRIC).

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Luwu Timur, Abshar Abdur Razak, mengatakan peningkatan rendemen tidak hanya bergantung pada pabrik, tetapi juga kualitas TBS dari kebun.

“Rendemen pabrik kita selama ini ada yang hanya bertahan di angka 16 persen, padahal dengan bibit unggul dan tata kelola panen yang disiplin, potensinya bisa menembus lebih dari 25 persen,” ujarnya.

Menurut Abshar, saat harga CPO dipengaruhi pasar global, pekebun perlu mengoptimalkan hal yang bisa dikendalikan dari kebun, salah satunya mutu TBS.

Kesalahan Panen Bisa Turunkan Nilai TBS

Direktur Utama TRIC, Rendy Agung Firmansyah, mengatakan dua persoalan yang sering ditemukan di lapangan adalah kesalahan pemotongan TBS dan keterlambatan pengangkutan buah ke pabrik.

Keduanya dapat menurunkan mutu dan nilai jual hasil panen. Karena itu, peserta dibekali teknik panen dan pascapanen, termasuk cara memotong tangkai buah agar tidak terlalu panjang, menangani TBS, serta mempercepat pengangkutan ke pabrik.

“Petani kelapa sawit adalah pahlawan keluarga sekaligus pahlawan devisa negara. Ketika mutu panen dan rendemen minyak sawit meningkat, bukan hanya devisa negara yang terjaga, tetapi kesejahteraan keluarga petani sendiri yang akan terangkat,” kata Rendy.

Pelatihan juga diarahkan membentuk “Petani Sawit Cerdas” yang mampu mengelola mutu hasil kebunnya berdasarkan pengetahuan dan standar teknis, bukan sekadar kebiasaan lama.

Ilmu Ditargetkan Menular

Mewakili Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sulawesi Selatan, Turiah, S.P., M.Si., membuka pelatihan tersebut dan mengapresiasi antusiasme peserta.

Abshar berharap 88 peserta tidak hanya menerapkan ilmu di kebun masing-masing, tetapi juga menularkannya kepada pekebun lain.

Dengan cara ini, pelatihan yang didukung BPDP dan Ditjen Perkebunan tersebut diharapkan menjadi awal peningkatan mutu TBS dan rendemen sawit rakyat di Luwu Timur.

Target akhirnya jelas: mempersempit jarak antara rendemen 16 persen dan potensi lebih dari 25 persen, sehingga nilai ekonomi sawit dan kesejahteraan pekebun ikut meningkat.

Artikel Terkait