• Kamis, 1 Oktober 2026
Tata Kelola

REKAYASA SOSIAL DALAM AKULTURASI BUDAYA DI INDUSTRI SAWIT

Konflik sosial di perkebunan sering terjadi karena kesenjangan berfikir dan bertindak akibat perbedaan latar belakang dan pandangan hidup serta daya serap terhadap perbedaan yang tidak sama.

Heterogenitas kemasyarakatan di perkebunan mengakibatkan terjadinya Akulturasi Budaya, oleh karena itu tanpa adanya kesadaran dilakukan rekayasa sosial maka akan terbangun Budaya Baru yang tidak selaras dengan dinamika sosial yang sangat cepat.Industri sawit selain memiliki karakteristik padat karya dalam perkembangannya menambah kekhasannya yaitu adanya heterogenitas yang tinggi. Pasalnya, dalam satu perusahaan terdapat berbagai macam suku, ras, dan agama.

Tingginya heterogenitas ini menjadi perhatian khusus oleh salah satu perusahaan perkebunan swasta di Indonesia. Bahkan, sudah sejak lima tahun lalu heterogenitas yang diterjemahkannya dengan pentingnya akulturasi budaya dalam sebuah perusahaan perkebunan swasta (PT Bumitama Gunajaya Agro) yang memiliki kekhasan padat karya.

Direktur Corporate Affair & Partnership, PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA), Priyanto PS, membenarkan perihal heterogenitas yang tinggi di perusahaan perkebunan sawit perlu mendapat perhatian yang serius dan dijaga (dikawal) agar tetap terjaga dan kondusif.

“Keberagaman yang tinggi (heterogenitas) di BGA Group tidak hanya di satu atau dua perusahaan melainkan di semua perusahaan (BGA Group). Keberagaman ada di setiap perusahaan (BGA Group) dari level pimpinan hingga level karyawan seiring dengan beragamnya sumberdaya manusia yang ada dan masyarakat pendatang,” katanya, saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Kita meyakini bahwa interaksi yang bersifat individu maupun kelompok atau kolektif. Sepanjang orang memiliki pikiran dan rasa itu dilakukan dalam waktu yang lama dan dilakukan secara berkesinambungan akan membentuk tata nilai baru. Jadi, akulturasi budaya akan mengacu pada kondisi seperti itu, persentuhan baik individu maupun kelompok dengan latar belakang berbeda akan membentuk atau menghasilkan nilai-nilai baru. Namun, jika tidak dibuat rekayasa sosial, bagaimana ending akulturasi budaya? Akan sulit mendapatkan nilai tambah,” jelasnya pria yang karib disapa Priyanto PS.

Ruang Dialog menjadi Akulturasi di BGA Group

Lantas, bagaimana akulturasi budaya yang terjadi di BGA Group? Sesuai dalam bangun rancang perusahaan tersebut heteroginitas yang tinggi sudah mendapat perhatian yang besar. Salah satunya, saat merekrut karyawan baru.

“Jadi, heteroginitas di BGA cukup tinggi dan dijaga. Sebab, dalam rancang bangun saat rekruitmen sudah disesuaikan dengan kebhinekaan di Indonesia. Sehingga, rekruitment dari berbagai perguruan tinggi pertanian dari Universitas di Indonesia. Tidak lagi melihat suku, ras dan agama serta latar belakang organisasi. Begitu juga saat rekruitmen tenaga panen, tidak selalu merekrut orang-orang dari Jawa, melainkan dari berbagai daerah di Indonesia, misalnya dari NTT, dan tenaga kerja lokal (masyarakat sekitar) yang memiliki minat bekerja di kebun. Inilah yang harus tetap dikawal dan dijaga,” ungkap Priyanto PS.

Lebih lanjut, ia mengatakan paling tidak untuk menjaga heterogenitas yang ada di perusahaan tata nilai (corporate culture) menjadi pedoman utama. Bahwa mereka (karyawan) dalam bekerja harus mengacu pada nilai-nilai yang menjadi acuan dari perusahaan.

“Tetapi, perusahaan juga memberikan ruang misalnya ada perubahan tata nilai baik secara personal (individu) atau kelompok. Ini mesti diturunkan secara bertahap berkesinambungan, sehingga membentuk hubungan budaya baru yang menjadi satu kesatuan. BGA terus berupaya mewujudkannya. Langkah ini harus terus dilakukan tidak bisa berhenti di satu titik,” lanjutnya Priyanto PS.

Sebagai contoh, di internal perusahaan ada Forum Komunikasi Karwayan. Sementara untuk eksternal, BGA juga membentuk Forum Komunikasi Masyarakat.

“Ini menjadi ruang (akulturasi budaya) ketika menghadapi permasalahan. Ruang ini menjadi ruang untuk mencari solusi bersama, tidak saling menyalahkan. Sebab, masalah sosial dinamis karena dipengaruhi faktor eksternal. Sebetulnya akulturasi budaya pasti terjadi. Ini juga harus dijaga secara kesinambungan. Inilah akulturasi budaya yang kami bangun di masing-masing perusahaan (BGA Group) yang terus dijaga dan dikawal yang tidak berhenti dalam satu titik,” urai Priyanto PS.

Menurutnya, akulturasi budaya pasti terjadi. Kenapa itu dimunculkan sebagai isu? Karena kalau tidak disadari bahwa itu pasti terjadi maka semua akan mengalir mencari jalannya sendiri dan tidak bisa mengikuti arah yang diinginkan. Salah satu di antaranya akan terjadi gap (jurang pemisah) antara masyarakat lokal dan pendatang, dikotomi lokal dan pendatang, dan menguatnya isu SARA.

“Ini dapat menyebabkan konflik sosial dan rentan terjadi. Maka, akulturasi budaya harus menjadi perhatian utama dalam rangka meminimalisir terjadinya konflik. Karena persentuhan antara personal atau kelompok akan "menghasilkan limbah sosial", sama seperti proses produksi menghasilan produk dan limbah. Ekses negatif ini kita anggap konflik sosial. Bagaimana mengeliminir itulah yang harus dijaga, salah satunya harus memperkenalkan corporate culture kepada para stekeholders. Baik kepada masyarakat dan karyawan, pembekalan itu harus dilakukan. Itulah yang harus dikuasai dan dilakukan oleh setiap pimpinan,” tambah Priyanto PS.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 156)

Artikel Terkait