• Minggu, 18 Oktober 2026
Berita Terbaru

Putu Juli Ardika: SPOT Berpotensi Jadi Lighthouse Teknologi Pengolahan Sawit

YOGYAKARTA, SAWIT INDONESIA — Teknologi Steamless Palm Oil Technology (SPOT) berpotensi menghasilkan minyak sawit bernutrisi sekaligus membuka peluang pemanfaatan komponen lainnya sebagai bahan bakar. Untuk merealisasikan potensi tersebut, optimalisasi teknologi dan kajian kelayakan bisnis menjadi prioritas sebelum diterapkan lebih luas.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Ir. Putu Juli Ardika, MA, menyampaikan hal tersebut usai mengunjungi SPOT Teaching Plant dan memberikan kuliah umum di Institut Pertanian STIPER (INSTIPER) Yogyakarta, Jumat (16 Oktober 2026).

Menurut Putu Juli, teknologi SPOT perlu disempurnakan terlebih dahulu sebelum memasuki tahap pengembangan berikutnya. Pada 2027, pengembangan ditargetkan memasuki tahap pembangunan pilot plant untuk mengkaji kelayakan teknis dan bisnisnya.

“Kita harapkan pada 2027 bisa membuat pilot plant untuk melihat business plan-nya, sehingga teknologi ini dapat disosialisasikan kepada pelaku usaha, terutama koperasi atau perkumpulan petani yang bisa menjalankannya,” ujarnya.

SPOT diharapkan tidak hanya menghasilkan minyak bernutrisi, tetapi juga memungkinkan pemanfaatan komponen hasil pengolahan untuk produk lain, termasuk bahan bakar. Potensi ini perlu dikaji lebih lanjut agar setiap hasil pengolahan dapat memberikan nilai tambah.

INSTIPER Jadi Pusat Pengembangan Teknologi

Putu Juli menilai, keberadaan SPOT Teaching Plant di INSTIPER menjadi jembatan antara pendidikan, riset, dan kebutuhan industri. Fasilitas ini memungkinkan mahasiswa, dosen, dan peneliti terlibat langsung dalam pengujian serta pengembangan teknologi.

Ia berharap INSTIPER dapat menjadi episentrum pengembangan SPOT di Indonesia sehingga teknologi tersebut semakin luas dimanfaatkan oleh masyarakat dan pelaku industri sawit.

“Mahasiswa dan akademisi bisa melihat dan melakukan sendiri, sehingga ide-ide baru muncul dan teknologi ini dapat terus dikembangkan,” katanya.

Untuk mendukung pengembangan SPOT, Kementerian Perindustrian membuka peluang fasilitasi standardisasi produk dan pembiayaan melalui program yang tersedia. Salah satunya program Industri Padat Karya, yang menurut Putu Juli memiliki skema diskon suku bunga sekitar lima persen bagi pelaku usaha yang menggunakan pembiayaan perbankan, sesuai ketentuan yang berlaku.

Peluang koordinasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) juga dapat dijajaki untuk mendukung pengembangan SPOT menjadi kegiatan industri.

Putu Juli menegaskan, dukungan tersebut diarahkan untuk membangun lighthouse atau fasilitas percontohan yang dapat menjadi model bagi pelaku usaha lain dalam mengadopsi teknologi.

“Bantuan itu bukan untuk seterusnya. Kita ingin membangun lighthouse-nya terlebih dahulu. Kalau sudah berkembang, pelaku usaha lain bisa melihat dan mempelajarinya,” jelasnya.

Melalui optimalisasi teknologi, pengujian kelayakan bisnis, dan kolaborasi dengan INSTIPER, SPOT diharapkan berkembang dari prototype menjadi model pengolahan sawit yang dapat diterapkan lebih luas dan memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional.

Artikel Terkait