Petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit (APSKS), Labuhanbatu merasakan manfaat positif setelah mengikuti pelatihan Biodiverse & Inclusive Palm Oil Supply Chain (BIPOSC). Manfaat yang dirasakan menerapkan perkebunan regeneratif tersebut yaitu tanah yang makin subur, meningkatkan efisiensi biaya produksi hingga terdongkraknya produktivitas pohon sawit mereka.
Pelatihan dalam program BIPOSC ini berfokus pada penerapan praktik Best Management Practices (BMP) pertanian regeneratif. Di antaranya pengaplikasian pupuk kompos, pengaplikasian bio input (penggunaan bahan organic untuk kesuburan tanah) hingga pengendalian hama terpadu.
Program yang merupakan kolaborasi jangka panjang Musim Mas Group, bersama Livelihoods Fund for Family Farming (L3F), SNV Indonesia, dan ICRAF ini diharapkan dapat mendorong hasil panen pekebun dan meningkatkan kesehatan tanah.
“Sebelum pelatihan contohnya cara menanam bibit itu saya asal tanam aja. Setelah pelatihan itu harus 40X40 cm lubang tanamnya. Hasilnya lebih bagus ternyata. Kemudian, jarak tanam juga ternyata idealnya 9×9, agar cahaya matahari bisa tetap menjangkau pohon, bukan 8X8 seperti biasa kami lakukan,” ujar Jansen, salah satu petani swadaya usai pelatihan BMP Pelatihan Regeneratif di Rantauprapat, Labuhanbatu, Sumut, Selasa (10 Desember 2024).
Hal yang sama juga dirasakan petani lainnya, seperti Syafi’i, petani swadaya Labuhanbatu yang hanya mempunyai 0,9 hektar lahan sawit. Menurut anggota APSKS Labuhanbatu itu tantangan petani swadaya itu adalah mengubah kesadaran dan perilaku dalam perkebunan yang berkelanjutan.
Padahal kata dia, dengan perilaku yang berubah produksi pun otomatis meningkat. “Setelah mengikuti pelatihan, petani mulai penyusunan pelepah leter U, pengurangan pupuk kimia, ambil buah yang masak saja. Hal hal itu dilaksanakan pekebun. Dulu kan pupuknya asal-asalan. Asal campur-campur aja,” ujarnya saat ditemui di Kantor ASPKS Labuanbatu.
Dia mengungkap, produktivitas kebunnya sebelum dan sesudah mempraktekkan perkebunan regeneratif cukup berubah drastis.
“Dulu produksinya 500 kilogram per sekali panen dalam 10 hari. Jadi sebulan kita panen sebulan tiga kali. Cara panen itu mempengaruhi. Dulu asal panen aja, semua hajar. Sekarang tiap panen bisa 700 kg-800 kg. Sekarang enggak pernah trek lagi sepanjang tahun,” jelasnya.
Indonesia Communication Lead Musim Mas, Reza Rinaldi Mardja mengatakan tujuan BIPOSC adalah mendorong pekebun swadaya menerapkan perkebunan regeneratif menuju masa depan kelapa sawit yang berkelanjutan.
“Namun, pekebun swadaya kelapa sawit di Indonesia masih memiliki banyak tantangan, di antaranya adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai praktik perkebunan yang baik, hasil kebun yang rendah, hingga terbatasnya akses pasar,” kata Reza dalam Media Tour ‘BIPOSC-Biodiverse and Inclusive Palm Oil Suply Chain’, di Labuhanbatu Sumatera Utara (Sumut) 10/12/2024
Untuk itu, lanjut Reza, diperlukan dukungan dan intervensi dari sejumlah pemangku kepentingan agar para pekebun swadaya ini dapat menerapkan best management practices (BMP) untuk mengelola industri kelapa sawit yang berkelanjutan.
“Musim Mas sebagai pelaku industri kelapa sawit saat ini sudah melakukan langkah itu melalui program BIPOSC sejak 2021 dengan memberikan pendampingan kepada para pekebun swadaya tersebut. Program itu sejatinya merupakan program lanjutan dari Indonesian Palm Oil Development for Smallholders (IPODS) yang bekerja sama dengan International Finance Corporation (IFC), bagian dari United Nation (PBB) pada tahun 2015,” kata Reza.
Untuk itu, lanjut Reza, diperlukan dukungan dan intervensi dari sejumlah pemangku kepentingan agar para pekebun swadaya ini dapat menerapkan best management practices (BMP) untuk mengelola industri kelapa sawit yang berkelanjutan.
“Musim Mas sebagai pelaku industri kelapa sawit saat ini sudah melakukan langkah itu melalui program BIPOSC sejak 2021 dengan memberikan pendampingan kepada para pekebun swadaya tersebut. Program itu sejatinya merupakan program lanjutan dari Indonesian Palm Oil Development for Smallholders (IPODS) yang bekerja sama dengan International Finance Corporation (IFC), bagian dari United Nation (PBB) pada tahun 2015,” kata Reza.
Reza mengatakan program BIPOCS ini berisikan pelatihan-pelatihan untuk pekebun swadaya agar bisa mencapai BMP perkebunan regeneratif.
Bharaty Sai, Program Manager SNV – BIPOSC mengatakan penerapan regeneratif perkebunan dilakukan untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta meningkatkan keanekaragaman hayati.
Dalam program BIPOSC petani swadaya dibekali pelatihan best management practices (BMP) Perkebunan Regeneratif, Agroforestri Kelapa Sawit, penguatan kapasitas institusi ke kelompok pekebun, koperasi dan asosiasi, peningkatan akses ke pendanaan untuk penanaman kembali dan pemberdayaan ekonomi pekebun perempuan.
“Pengaplikasian model perkebunan regeneratif. Kolaborasi yang dimulai pada 2021 ini telah diterapkan pada pekebun swadaya di Labuhanbatu, Sumatera Utara,” kata Bharaty di Kantor BIPOSC, Labuhanbatu.
Dengan demikian, lanjutnya, diharapkan mampu menjadi solusi menciptakan rantai pasok minyak kelapa sawit bebas deforestasi. BIPOCS itu adopsi praktik yang sudah distandarkan dan bersifat non-profit dengan target pekebun swadaya kelapa sawit yang bernaung di bawah Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu (APSKS-LB), Sumatera Utara.
Bharaty menjelaskan selama tiga tahun pertama penerapan program BIPOSC, 1.000 petani mengalami peningkatan pengetahuan perkebunan regeneratif, agroforestry, dan pengembangan unit bisnis.
“1.000 petani swadaya telah menerapkan regeneratif agriculture, dan mereka sudah belajar kurangi pupuk kimia. Tak kurangi 100 persen, tapi step by step, kurangi 10 persen, 20 persen, 30 persen,” tutur dia
Kemudian ada 15 pekebun swadaya sudah menjadi role model bagi pekebun lainnya seiring komitmen untuk menerapkan program BIPOSC dengan pendekatan perkebunan regeneratif.
“Mereka ini bisa menjadi messenger teman lainnya. Ada fasilitator desa. Ada 42 fasilitator desa. Kemudian ada lebih 1.000 hektare lahan yang sudah apply regeneratif agriculture, dan ada 7 demo plot,” katanya.
Dalam kesempatan ini, Majalah Sawit Indonesia berkesempatan mengunjungi dua kebun demo plot Program BIPOSC di Labuhanbatu. Demo plot tersebut sudah berjalan 3 tahun yang kondisinya sama pada awalnya. Namun, saat ini terdapat perbedaan yang signfikan antara dua kebun tersebut. Kebun yang menerapkan pertanian regeneratif terlihat lebih rimbun dan hijau dibanding yang tidak menerapkan. Kemudian, tandan pun lebih lebat dibanding kebun yang tidak menerapkan pertanian regeneratif.
“Dalam demo plot ini satu kebun yang tidak menerapkan pertanian regeneratif menunjukkan gejala-gejala kekurangan nutrisi. Pertama, kekurangan nitrogen terlihat dari daun yang pucat dan pendek. Kedua, kekurangan posfor terlihat dari batangnya yang mengerucut dan tumbuh di sekitarnya melastoma,” ungkap Project Field Officer BIPOSC, Abdi Dhani.
“Selanjutnya, kekurangan kalium yang terliihat bercak kuning di sekitar daun. Bunganya pun rontok dan otomatis tidak ada buah. Keempat, daun tuanya menguning yang artinya kekurangan magnesium,” tambahnya.
Menurut Syahrianto, Ketua Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu (APSKS LB), Sumatera Utara Program BIPOSC ini memberikan dampak positif yang lebih luas kepada petani.
“Musim Mas menyediakan dukungan dari sisi teknis dan logistik, terutama dalam penyediaan bahan baku kompos untuk mendukung praktik pertanian regenerative,” kata Syahrianto.
Dia berujar, salah satu terobosan terbesar dalam program BIPOSC adalah pengembangan Unit Composting yang dijalankan oleh asosiasi petani swadaya di Labuhan Batu yang memiliki manfaat besar bagi petani lokal. Syahrianto menambahkan, pendirian Composting Unit berkapasitas 100-150 ton per bulan tersebut telah membantu para pekebun swadaya dalam mengakses pupuk kompos berkualitas dengan harga terjangkau.
“Dengan adanya unit kompos, kami bisa memproduksi pupuk organik sendiri, yang biayanya jauh lebih murah dibandingkan membeli dari luar. Kompos yang kami hasilkan digunakan oleh seluruh anggota asosiasi, dan ini sangat membantu dalam menekan biaya produksi. Harga pupuk kompos yang diproduksi di unit ini hanya Rp95.000 per 50 kg, hampir setengah dari harga di pasaran,” jelas Syahrianto.
Di tahun pertama beroperasi pada 2023, sebanyak 588 ton telah berhasil diproduksi dan dipasarkan hingga menghasilkan keuntungan sebesar Rp421 Juta. Pendirian Unit Composting ini juga memberikan benefit untuk anggota yang diberikan setiap satu tahun sekali lewat pemberian THR, menyediakan dana operasional asosiasi, peningkatan kapasitas dan keahlian anggota, memberikan jaminan sosial berupa BPJS-TK, pemberian alat bekerja sesuai standar, pemberian dana sosial untuk warga sekitar dan pengembangan aset.
Menurut Syahrianto, APSKS-LB hingga saat ini memiliki anggota 1.260 orang pekebun swadaya di dua kabupaten, delapan desa dan lima kecamatan dan sudah bersertifikasi RSPO. Sementara, 1.075 anggota pun juga sudah tersertifikasi ISPO. “Kedepan, Composting Unit direncanakan untuk direplika atau dibangun di beberapa lokasi lainnya,” pungkasnya.














