Jakarta, SAWIT INDONESIA - Penurunan produksi kelapa sawit tidak hanya dipengaruhi perubahan iklim dan kemarau panjang, tetapi faktor tanah, kualitas benih, serta pengelolaan kebun yang belum sepenuhnya mengikuti standar operasional prosedur (SOP) budidaya.
Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia (AII), Prof. (Ris). Ir. H. Didiek Hadjar Goenadi, MSc, PhD, INV, mengatakan tanah dan tanaman merupakan dua aset utama yang menentukan produksi kelapa sawit. Keduanya harus didukung manajemen pemeliharaan yang tepat dan antisipatif terhadap perubahan lingkungan.
“Kalau kita bicara penurunan produksi, itu kembali kepada aset awalnya. Dalam perkebunan kelapa sawit terdapat dua faktor utama yaitu tanah dan tanaman,” ujarnya melalui sambungan telepon.
Menurut Prof. Didiek, banyak perkebunan sawit dikembangkan di lahan marginal dengan kesuburan rendah. Karena itu, penyehatan tanah menjadi kunci untuk menjaga produktivitas secara berkelanjutan.
Salah satu upayanya mengembalikan biomassa yang tidak terbawa saat panen ke dalam tanah untuk menjaga bahan organik dan stok karbon. Pengelolaan tanah yang baik juga menjadi pondasi efisiensi pemupukan.
“Efisiensi pemupukan hanya bisa dicapai kalau kita menyehatkan tanah. Kalau tanahnya masih sakit, masih lelah, diberi pupuk berapa pun tidak akan efektif,” tegasnya.
Prof. Didiek juga menyoroti pentingnya penanaman cover crop atau tanaman penutup tanah sejak awal pembangunan kebun. Praktik ini terkadang diabaikan karena keterbatasan tenaga kerja, bahkan ada kebun yang tidak menerapkannya.
Padahal, tanaman penutup tanah membantu mengurangi erosi, menjaga kelembapan, dan menambah bahan organik. Dalam jangka panjang, perbaikan kondisi tanah berpotensi meningkatkan efisiensi pemeliharaan.
Selain itu, penggunaan benih unggul dari sumber yang terjamin menjadi investasi penting untuk mendukung potensi produktivitas tanaman.
Kekeringan Tekan Produksi
Penurunan produksi juga dapat diperparah oleh kekeringan, termasuk dampak El Nino. Keterbatasan air mengganggu metabolisme tanaman dan menghambat penyerapan unsur hara. Akibatnya, penambahan pupuk belum tentu efektif ketika tanaman tidak memperoleh air yang cukup.
Prof. Didiek menilai bahwa pengelola kebun perlu meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air melalui pengelolaan bahan organik serta konservasi tanah dan air. Langkah tersebut harus dilakukan jauh sebelum kekeringan terjadi.
“Ketika kekeringan sudah muncul, kita baru panik. Padahal, tidak mungkin memperbaiki tanah dalam waktu singkat lalu langsung memperbaiki kondisi tanamannya,” ujar Prof. Didiek yang juga Komite Litbang Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Selain kekeringan, serangan hama dan penyakit juga menjadi ancaman bagi produksi. Karena itu, pemantauan kondisi tanaman dan deteksi dini perlu dilakukan agar penanganan tidak terlambat.
Utamakan Manajemen Antisipatif
Prof. Didiek menilai pengelolaan perkebunan masih kerap bersifat reaktif di mana baru mengambil tindakan setelah gejala kerusakan atau potensi kerugian terlihat.
Padahal, sebagai tanaman tahunan, dikatakan Prof Didiek, kelapa sawit butuh waktu untuk merespons perubahan lingkungan dan tindakan pemeliharaan.
Sebaliknya, manajemen antisipatif mengutamakan pencegahan melalui pemantauan kondisi tanah dan tanaman, pengelolaan air, pemupukan sesuai kebutuhan, penggunaan benih bermutu, serta penerapan SOP secara konsisten.
Menurutnya, penyehatan tanah harus menjadi program jangka panjang, bukan tindakan mendadak ketika produksi menurun.
Pendekatan tersebut penting untuk menjaga efisiensi biaya, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap perubahan iklim, dan mempertahankan produktivitas kebun.
“Yang diperlukan adalah manajemen yang antisipatif, bukan reaktif, dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit agar dapat mencapai tingkat keberlanjutan,” pungkasnya.














