Jakarta, Sawit Indonesia - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut, produksi, ekspor hingga konsumsi CPO pada Maret 2024 meningkat. Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono mengatakan, produksi Maret 2024 mencapai 4.102 ribu ton atau naik 5,50% dari 3.888 ribu ton pada Februari 2024. Demikian juga dengan produksi PKO naik sekitar 5,97% dari 369 ribu ton pada Februari 2024 menjadi 391 ribu ton pada Maret 2024.
“Naiknya produksi ini disebabkan antara lain oleh jumlah hari kerja pada Maret yang lebih banyak dibandingkan Februari,” ungkap Mukti dalam keterangan pers, Selasa (28/5/2024).
Mukti menambahkan, total konsumsi dalam negeri pada Maret juga mengalami kenaikan sebesar 1,40% dibandingkan Februari 2024 yaitu dari 1.864 ribu ton menjadi 1.898 ribu ton. Konsumsi pada Maret untuk pangan mengalami kenaikan 7,54% menjadi 827 ribu ton dari 769 ribu ton pada Februari.
Demikian juga konsumsi untuk oleokimia naik 6,86% menjadi 187 ribu ton dari 175 ribu ton pada Februari sedangkan konsumsi biodiesel pada Maret turun 3,95% menjadi 884 ribu ton dari 920 pada Februari.
Di sisi ekspor, lanjut Mukti, kinerja total ekspor Maret mengalami kenaikan 18,21% yaitu dari 2.166 pada Februari menjadi 2.560 ribu ton pada Maret. Kenaikan ekspor pada Maret yang terbesar terjadi pada CPO sebesar 114,73% dari 152 ribu ton pada Februari menjadi 327 ribu ton.
“Diikuti oleh oleokimia sebesar 17,91% dari 364 ribu ton pada Februari menjadi 429 ribu ton dan olahan CPO sebesar 12,20% dari 1.495 ribu ton pada Februari menjadi 1.677 ribu ton,” papar Mukti.
Menurut Mukti, penurunan ekspor Maret terjadi pada PKO sebesar 98,73% menjadi 0,19 ribu ton dari 15 ribu ton pada Februari. Sedangkan biodiesel sebesar 54,54% menjadi 5 ribu ton dari 11 ribu ton pada Februari dan olahan PKO sebesar 5,69% menjadi 121 ribu ton dari 129 ribu ton pada Februari.
“Nilai ekspor Maret naik 4,47% menjadi US$ 2.178 juta dari US$ 2.082 juta pada Februari yang didukung oleh kenaikan harga CPO dari US$ 965 per ton menjadi US$ 1.042 per ton,” jelas Mukti.
Lebih lanjut Mukti mengatakan, kenaikan volume ekspor dari Februari ke Maret yang terbesar terjadi untuk tujuan India yakni sebesar 216 ribu ton menjadi 456 ribu ton, setelah turun sebesar 287 ribu ton pada Februari. Diikuti oleh Bangladesh yang naik sebesar 128 ribu ton menjadi 162 ribu ton, setelah turun 43 ribu ton pada Februari. Sedangkan ekspor ke China naik sebesar 121 ribu ton menjadi 447 ribu ton setelah turun 49 ribu ton pada Februari.
“Penurunan volume ekspor pada Maret terjadi untuk tujuan Amerika Serikat (AS) sebesar 74 ribu ton menjadi 129 ribu ton, Eropa sebesar 24 ribu ton menjadi 317 ribu ton dan Malaysia sebesar 37 ribu ton menjadi 52 ribu ton,” kata Mukti.
Secara YoY sampai dengan Maret 2024 terhadap 2023, ekspor tujuan Pakistan meningkat 68,49% menjadi 741 ribu ton berbanding 440 ribu ton pada 2023. Demikian juga untuk India yang naik dengan 3,62% menjadi 1,223 ribu ton berbanding dengan 1,180 ribu ton untuk tahun 2023. Sedangkan untuk tujuan China YoY Maret 2024 lebih rendah 4,2% berbanding dengan 2023, tujuan Eropa 3% lebih rendah dan AS 1,16% lebih rendah.
“Dengan stok awal Maret sebesar 3.264 ribu ton, produksi CPO dan PKO 4.493 ribu ton, konsumsi dalam negeri 1.898 ribu ton dan ekspor 2.560 ribu ton, maka stok akhir Maret 2024 menjadi 3.300 ribu ton atau meningkat sekitar 1,09 % dibandingkan stok bulan Februari 2024,” tutup Mukti.
Sumber: gapki.id














