SAWIT INDONESIA - Kebutuhan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di industri sawit telah meluas termasuk di bidang akuntansi, keuangan, dan perpajakan. Politeknik YKPN (Yayasan Keluarga Pahlawan Nasional) Yogyakarta memiliki kemampuan tersebut melalui program Beasiswa Sawit untuk Diploma III (D3) Akuntansi dan Sarjana Terapan/Diploma IV (D4) Akuntansi Perpajakan.
Wakil Direktur Bidang Akademik Politeknik YKPN, Prof. Dr. Nung Harjanto, S.E., M.A.A.C., Ak., CA, mengatakan kebutuhan tenaga akuntansi, keuangan, dan akuntansi perpajakan di sektor sawit cukup besar. Kompleksitas bisnis membuat perusahaan membutuhkan SDM yang mampu mengelola transaksi, biaya, dokumen, kewajiban pajak, hingga informasi manajerial secara akurat.
“Industri sawit merupakan industri yang memiliki rantai bisnis panjang, mulai dari pembibitan, pemeliharaan tanaman, panen dan pengangkutan TBS, pengolahan di pabrik kelapa sawit, hingga penjualan CPO, kernel, dan produk turunannya,” katanya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Majalah Sawit Indonesia, pada bulan lalu.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa investasi SDM sawit perlu mencakup berbagai bidang keahlian. Industri membutuhkan tenaga yang memahami proses produksi sekaligus mampu menerjemahkan seluruh aktivitas bisnis tersebut ke dalam sistem akuntansi dan perpajakan.
Di sinilah Beasiswa SDM Sawit memiliki peran penting. Pendidikan yang diberikan kepada penerima beasiswa dapat menjadi investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi profesional pada bidang akuntansi, keuangan, dan perpajakan yang memahami karakter industri sawit sekaligus memiliki kompetensi tata kelola.
Pada 2025, Politeknik YKPN menerima 60 mahasiswa penerima Beasiswa Sawit, terdiri atas 30 mahasiswa D3 Akuntansi dan 30 mahasiswa Sarjana Terapan Akuntansi Perpajakan. Kehadiran mahasiswa penerima beasiswa pada kedua bidang tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan SDM sawit tidak hanya berada di lapangan, tetapi juga pada fungsi pengelolaan perusahaan.
Dari Beasiswa Menjadi Investasi SDM Industri
Menurut Prof. Nung, produktivitas tanaman memang menjadi salah satu indikator keberhasilan perusahaan sawit. Namun, pencapaian produksi harus ditopang dengan tata kelola biaya, kas, persediaan, aset, tenaga
kerja, perpajakan, pengendalian internal, dan pelaporan yang baik.
Aktivitas di kebun menghasilkan beragam komponen biaya, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, panen, premi tenaga kerja, hingga angkutan TBS. Sementara di PKS terdapat biaya pengolahan, tenaga kerja, utilitas, pemeliharaan mesin, pengelolaan limbah, serta pengendalian rendemen dan kehilangan produksi.
“Seluruh kegiatan tersebut harus diterjemahkan menjadi informasi keuangan yang akurat agar manajemen dapat menilai efisiensi dan mengambil keputusan,” jelasnya.
Sebab itu, mahasiswa penerima Beasiswa SDM Sawit di bidang akuntansi dan akuntansi perpajakan tidak hanya dipersiapkan untuk memahami pencatatan transaksi. Mereka diarahkan agar mampu melihat hubungan antara kegiatan operasional perkebunan dengan kondisi keuangan perusahaan.
Ketua Program Pengelolaan Hibah Politeknik YKPN, Hermada Dekiawan, S.E., M.Sc., mengatakan pendidikan bagi penerima Beasiswa SDM Sawit perlu diarahkan agar mahasiswa memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Menurutnya, pemahaman akuntansi, keuangan, dan perpajakan harus dibarengi dengan kemampuan membaca proses bisnis, mengelola data, serta memahami perkembangan sistem administrasi dan keuangan yang semakin terdigitalisasi.
“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori akuntansi, keuangan, dan perpajakan. Mereka perlu memahami konteks industri sawit, karena setiap aktivitas operasional akan menghasilkan data dan transaksi yang harus dikelola, dicatat, dianalisis, dan dipertanggungjawabkan,” ujar Hermada.
Ia menambahkan, pendidikan vokasi memiliki posisi penting dalam menjembatani kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan. Karena itu, pembelajaran perlu memberikan pengalaman yang mendekati kondisi kerja nyata agar mahasiswa lebih siap ketika memasuki perusahaan perkebunan maupun sektor pendukungnya.
Kebutuhan tenaga akuntansi tersebar di berbagai lini, mulai dari kantor pusat, estate, afdeling, pabrik kelapa sawit (PKS), kantor wilayah, bagian KTU, gudang, jembatan timbang, administrasi plasma, perpajakan, audit internal, hingga pengendalian biaya.
Lulusan D3 Akuntansi dapat diarahkan untuk mengisi posisi seperti staf akuntansi atau pendukung KTU, junior auditor, tax officer, serta staf akuntansi manajerial atau kerani. Sementara lulusan D4 atau Sarjana Terapan Akuntansi Perpajakan diproyeksikan mengisi posisi profesional dan supervisor perpajakan, konsultan pajak, analis keuangan dan perpajakan, hingga tenaga profesional akuntansi perkebunan dan industri sawit.
Politeknik YKPN Perkuat Misi Beasiswa SDM Sawit
Sebagai lembaga pendidikan yang mendidik penerima Beasiswa SDM Sawit, Politeknik YKPN menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Pendidikan vokasi dikembangkan berbasis Outcome-Based Education, dengan kurikulum yang mengacu pada KKNI dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
Konteks industri sawit diintegrasikan ke dalam berbagai mata kuliah, seperti Akuntansi Keuangan, Akuntansi Biaya, Perpajakan, Pengauditan, Sistem Informasi Akuntansi, Tata Kelola dan Akuntansi Keberlanjutan, Budidaya Kelapa Sawit, Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, serta Hilirisasi Produk Kelapa Sawit.
Dengan pendekatan tersebut, penerima Beasiswa SDM Sawit tidak hanya mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai lingkungan kerja yang kelak mereka masuki.
Mahasiswa belajar mengenali istilah, dokumen, struktur organisasi, dan alur kerja di estate, afdeling, PKS, KTU, jembatan timbang, gudang, plasma, payroll, hingga proses pengolahan TBS menjadi CPO dan kernel.
“Mahasiswa memahami istilah, dokumen, struktur organisasi, dan alur kerja di estate, afdeling, PKS, KTU, jembatan timbang, gudang, plasma, payroll, serta proses pengolahan TBS menjadi CPO dan kernel,” katanya.
Siapkan SDM Sawit Hadapi Transformasi Digital
Transformasi digital turut mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja di industri sawit. Karena itu, penerima Beasiswa SDM Sawit juga dibekali kemampuan menggunakan teknologi dalam pengelolaan data dan keuangan.
Mahasiswa menggunakan Microsoft Excel untuk penyusunan anggaran, proyeksi laporan keuangan, analisis varians, dan penghitungan biaya. Pada Praktikum Akuntansi Digital, mahasiswa menggunakan Accurate
Versi 5 Education dengan kasus perusahaan industri sawit.
Di bidang perpajakan, pembelajaran diarahkan pada sistem digital, mulai dari pengisian dan pelaporan SPT secara elektronik, bukti potong, faktur pajak, setoran elektronik, hingga simulasi Praktikum Akuntansi Perpajakan Digital menggunakan Coretax.
Kompetensi tersebut menjadi bekal agar penerima beasiswa mampu mengikuti perubahan sistem kerja industri yang semakin mengandalkan integrasi data, otomatisasi, ketertelusuran, dan kecepatan pengambilan keputusan.
Pendidikan vokasi juga diperkuat melalui pengalaman langsung di dunia kerja. Program magang menjadi jembatan bagi mahasiswa penerima Beasiswa SDM Sawit untuk memahami bagaimana teori dan kompetensi yang diperoleh di kampus diterapkan dalam operasional perkebunan maupun perusahaan sawit.
Pengalaman pada saat magang tersebut diharapkan membuat penerima beasiswa lebih siap memasuki dunia kerja sekaligus memahami kebutuhan industri secara nyata.
Beasiswa SDM Sawit Cetak Penjaga Tata Kelola
Nung menilai lulusan Politeknik YKPN memiliki peluang untuk mengambil peran strategis dalam memperkuat tata kelola industri sawit. Tenaga akuntansi dan perpajakan dibutuhkan untuk memastikan transaksi tercatat dengan tepat, biaya terkendali, kewajiban pajak terpenuhi, dokumen dapat ditelusuri, risiko teridentifikasi, dan laporan disajikan secara transparan.
Oleh karena itu, Beasiswa SDM Sawit tidak berhenti pada pemberian akses pendidikan, tetapi menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun kapasitas industri sawit nasional.
Kehadiran penerima beasiswa di bidang akuntansi, keuangan, dan perpajakan memperluas perspektif pembangunan SDM sawit. Jika tenaga teknis berperan menjaga produktivitas kebun dan pabrik, maka tenaga akuntansi dan perpajakan berperan memastikan aktivitas tersebut dikelola secara tertib, efisien, akuntabel, dan sesuai ketentuan.
Materi pembelajaran juga diperluas ke pengendalian internal, audit, etika profesi, manajemen risiko, tata kelola digital, ESG, materialitas, indikator lingkungan dan sosial, validasi data keberlanjutan, risiko greenwashing, hingga penyusunan laporan keberlanjutan.
“Lulusan diharapkan dapat menjadi penjaga integritas informasi perusahaan. Mereka dapat membantu menghubungkan data operasional dari kebun dan PKS dengan laporan keuangan, laporan perpajakan, informasi manajerial, dan pengungkapan keberlanjutan,” Prof. Nung.
















