Kementerian Pertanian mendukung bersatunya petani sawit dari negara produsen di dalam satu forum. Langkah ini dapat menopang agenda bersama untuk meningkatkan produktivitas, perdagangan yang adil, dan penguatan posisi pekebun.
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian RI, Iim Mucharam, mengapresiasi forum internasional kelapa sawit yang diinisiasi oleh APKASINDO yang karena menempatkan pekebun kelapa sawit sebagai bagian utama dalam pembicaraan mengenai masa depan industri sawit global.
“Saya melihat forum ini bukan sekadar forum pertukaran informasi, tetapi menjadi platform diplomasi pekebun sawit dunia. Pekebun dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Kolombia, Ghana, Nigeria, India, Pakistan, Honduras, dan negara-negara produsen lainnya memiliki kepentingan yang sama yaitu memastikan industri kelapa sawit berkembang secara berkelanjutan, adil, inklusif, dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat,” ujar Iim saat membacakan sambutan Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Heru Tri Widarto.
Dukungan Kementerian Pertanian ini disampaikan dalam International Oil Palm Smallholders Forum di IKN, pada 27-28 Agustus 2026. Menurutnya, forum ini memiliki peranan strategis untuk menghasilkan agenda bersama pekebun sawit dunia, khususnya dalam peningkatan produktivitas, akses teknologi, pembiayaan, ketertelusuran, sertifikasi, perdagangan yang adil, serta penguatan posisi pekebun dalam rantai nilai global.
Menurutnya, berbicara sawit bukan hanya mengenai komoditas dan perdagangan. Kelapa sawit berbicara mengenai petani, keluarga, lapangan kerja, ekonomi daerah, devisa negara, ketahanan energi, dan masa depan pembangunan berkelanjutan.
Di Indonesia, pekebun rakyat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem industri kelapa sawit. Oleh karena itu, ketika kita berbicara mengenai transformasi industri sawit, maka transformasi tersebut harus dimulai dan dirasakan sampai ke tingkat pekebun.
“Kita tidak boleh membangun industri sawit yang kuat di tingkat hilir tetapi meninggalkan pekebun di tingkat hulu. Sebaliknya, kita harus membangun ekosistem yang memastikan bahwa pekebun semakin produktif, semakin sejahtera, semakin profesional, dan semakin terintegrasi dengan rantai nilai industri kelapa sawit,” paparnya.
Iim berharap IOPS Forum juga mendorong peningkatan produktivitas pekebun melalui dengan penguatan kemitraan. Karena itulah dibutuhkan hubungan yang saling menguntungkan, transparan, adil, dan berkelanjutan antara pekebun dan perusahaan.
“Kemitraan tidak boleh berhenti pada hubungan jual beli TBS. Kemitraan harus berkembang menjadi kerja sama dalam penyediaan benih dan sarana produksi, peningkatan kapasitas dan pendampingan teknis, dan pengembangan hilirisasi serta nilai tambah,” pungkasnya.














