• Sabtu, 26 September 2026
Kinerja

Petani Sawit Manfaatkan Teknologi DJI Agras

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dan PT Tribuana SolusiInovasi Teknologi (TSIT) secara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait Penerapan Teknologi Drone di Perkebunan kelapa sawit.

Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas data pertanian dengan memanfaatkan teknologi drone. Selain itu, langkah ini juga diambil sebagai strategi dalam mempersiapkan petani sawit untuk menghadapi aturan ketat dari Undang-Undang Anti Deforestasi Uni Eropa (EUDR), yang penerapannya ditunda selama satutahun.

Ketua Umum APKASINDO Gulat Manurung, mengungkapkan bahwa penundaan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para petani sawit untuk berbenah dan memenuhi tuntutan pasar internasional.

“Uni Eropa telah resmi menunda satu tahun. Satu tahun hanya sekejap mata. Nah, oleh karena itu petani sawit tidak berpangku tangan, tidak hanya mengeluh. Maka kita melakukan beberapa terobosan,” kata Gulat di Grand Cemara Hotel, Jakarta Pusat, pada Rabu (16/10/2024).

Gulat menyebutkan, tiga kata kunci utama dalam EUDR adalah kepatuhan terhadap regulasi, larangan deforestasi, dan ketelusuran asal buah dengan geo lokasi. Dua pointer akhir, menurut Gulat, sangat erat kaitannya dengan teknologi pemetaan.

Dengan menggunakan teknologi pemetaan ini, lanjut Gulat, petani sawit dapat memetakan lahan mereka dengan lebih baik, yang pada akhirnya akan membantu melengkapi dokumen yang diperlukan sesuai dengan persyaratan EUDR.

“Kita boleh membantah bahwa EUDR itu hanya ancaman politik dagang dan lain-lain. Tetapi tanpa EUDR juga memang sudah sepatutnya itu petani by name, by address, by location. Artinya apa disitu? Dibutuhkan teknologi,” ucap Gulat.

Gulat menjelaskan bahwa kebutuhan akan teknologi tidak hanya untuk memenuhi tuntutan EUDR, tetapi juga merupakan aspek yang sangat penting bagi para petani sawit.

Dia mencontohkan, dalam pengajuan program peremajaan sawit rakyat (PSR), petani diwajibkan melampirkan peta lahan dengan format SHP (Shape File) yang lengkap, termasuk titik-titik koordinatnya.

Dari kajian yang dilakukan oleh Apkasindo, terungkap bahwa rendahnya jumlah pengajuan program PSR oleh petani disebabkan oleh beberapa faktor. Selain terkait dengan batasan kawasan hutan, masalah biaya dan kurangnya akses terhadap teknologi juga berperan besar.

“Dengan adanya kerjasama ini, kita berharap semua petani pengurus APKASINDO di masing-masing kabupaten/kota dapat memiliki alat ini untuk membantu program-program pemerintah terkait ke replanting,” ungkap Gulat.

General Manager Commercial PT TSIT, Nicko Arywibowo menerangkan, semakin langkanya tenaga kerja padat karya berpotensi memengaruhi produktivitas di sektor kelapa sawit. Untuk itu, pihanya mengusulkan inisiasi kerjasama guna menyelesaikan isu tenaga kerja, khususnya terkait efisiensi pembukaan lahan.

Selain itu, mekanisasi pemupukan yang tepat waktu, dosis dan cara, serta pengendalian hama dan penyakit agar tidak merugikan petani dan pekebun. Dijelaskannya, untuk unit drone DJI Agras T50 misalnya, dapat dikendalikan dari posisi operator remote controller sejauh 2 kilometer.

Drone ini dilengkapi system spraying dan spreading. Kapasitas muatan pupuk granular (spreading) maksimal 50 kg dan tangki spray sebesar 40 liter. DJI Agras T50 dapat menyemprot pestisida maupun cairan pertanian lainnya hingga 21 hektar per-jam, pekerjaan tersebut dapat Anda program terlebih dahulu menggunakan program pemetaan yang presisi, sehingga proses penyemprotan lebih tepat sasaran dan tidak ada cairan ataupun material granular yang terbuang.

“Petani dengan memanfaatkan drone, cukup dua operator melakukan penyemprotan seluas 1 ha dalam waktu 30 menit. Tanpa itu, untuk luas kebun yang sama membutuhkan tenaga kerja hingga 4 orang dengan waktu penyemprotan pupuk hingga 1 hari,” ujar Nicko.

DJI Agras adalah drone yang dirancang khusus untuk keperluan pertanian, dilengkapi dengan teknologi canggih, seperti sistem pemetaan otomatis, sprayer presisi tinggi, dan kapasitas angkut yang besar.

Dalam pengendalian hama Oryctes, peranutama drone ini adalah melakukan penyemprotan pestisida secara lebih tepat sasaran (spot spraying) pada area yang terinfeksi atau berisiko tinggi terkena serangan hama.

Drone DJI Agras dapat memetakan area perkebunan dengan akurasi tinggi menggunakan teknologi GPS dan sistem pencitraan multi spektral. Setelah area yang terinfeksi teridentifikasi, drone dapat dioperasikan untuk menyemprot pestisida pada titik-titik tertentu, mengurangi kebutuhan untuk penyemprotan seluruh lahan, yang sering kali tidak efisien dan mahal.

Operasi spot spraying menggunakan drone DJI Agras memungkinkan pengendalian hama Oryctes yang lebih terfokus dan hemat biaya. Teknik ini melibatkan penyemprotan pestisida hanya pada area spesifik yang telah diidentifikasi terinfeksi oleh hama, dibandingkan dengan penyemprotan konvensional yang umumnya dilakukan secara merata di seluruh perkebunan.

Beberapa keunggulan utama dari operasi spot spraying menggunakan DJI Agras antara lain:

  1. Efektivitas yang lebih tinggi: Drone DJI Agras dilengkapi dengan nozel presisi tinggi yang memastikan pestisida disemprotkan pada area yang tepat. Ini tidak hanya meningkatkan efektivitas pengendalian hama, tetapi juga mengurangi dampak lingkungan akibat penggunaan pestisida berlebihan.
  2. Kecepatan operasi: Dengan kemampuan terbang cepat dan kapasitas angkut yang besar, drone ini dapat menutupi area yang luas dalam waktu yang singkat. Hal ini sangat penting dalam mengatasi hama Oryctes, yang dapat menyebar dengan cepat.
  3. Mengurangi biaya operasional: Dengan penyemprotan terfokus pada area yang terinfeksi, penggunaan pestisida dapat diminimalkan. Selain itu, penggunaan drone juga mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual dalam proses penyemprotan, sehingga menekan biaya operasional secara keseluruhan.

4. Meningkatkan keamanan: Mengingat bahwa pestisida bisa membahayakan manusia, penggunaan drone untuk penyemprotan mengurangi risiko paparan langsung bagi pekerja.

Artikel Terkait