Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pemerintah melalui Ditjen Perkebunan – Kementerian Pertanian menginginkan petani sawit tidak hanya menguasai satu aspek dalam pengelolaan kebun sawitnya. Sebab, satu aspek dengan aspek lainnya sangat berkaitan.
Hal itu disampaikan Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Ir. Hendratmojo Bagus Hudono,M.Sc, usai menghadiri acara penutupan pelatihan petani sawit – Panen dan Pascapanen -, yang dioperatori AKPY STIPER, di Palembang, pekan lalu.
Diungkapkan Bagus, untuk pelatihan petani sawit modul Panen dan Pascapanen merupakan salah satu dari modul pelatihan. Masih ada modul-modul lainnya yang bisa didapatkan petani melalui pelatihan, program pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit, dari BPDPKS dan Ditjen Perkebunan.
“Untuk pelatihan petani sawit memang tidak hanya pada modul Panen dan Pascapanen, melainkan ada modul lain. Sebab, kita tidak ingin petani sawit hanya menguasai satu aspek, karena untuk tata kelola tidak dapat dipisahkan antara aspek satu dengan aspek lainnya,” ungkapnya.
Sebagai informasi, dalam pelatihan petani sawit program pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit (SDM PKS) dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Ditjen Perkebunan, ada beberapa modul yang diberikan. Antara lain Panen dan Pascapanen, Teknis Budidaya Tanaman Kelapa Sawit, Penumbuhan Kebersamaan Pekebun hingga Manajemen Administrasi Keuangan, dan masih ada modul lainnya.
Khusus untuk pelatihan dengan modul Panen dan Pascapenan, kata Bagus, para peserta mendapatkan beragam materi yang berkaitan dengan modul tersebut.
“Misalnya, kriteria TBS yang siap panen agar petani bisa membedakan TBS yang siap panen dan belum siap panen. Ini yang harus dipahami petani sawit agar TBS yang dihasilkan berkualitas (rendemen-nya). Sebab, kalau salah memilih TBS yang dipanen hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dan, akan berdampak pada pertumbuhan tanaman kelapa sawit,” jelasnya.
“Ketika mereka sudah memahami aspek Panen dan Pascapanen dan bisa menjual dengan harga tinggi. mereka juga harus bisa berpikir jangka panjang, sustainability harus bisa dicapai. Dengan menyisihkan dari hasil panen, untuk persiapan panen di masa mendatang,” imbuh Bagus.














