• Sabtu, 17 Oktober 2026
Kinerja

PERISAI 2026 Jadi Motor Hilirisasi Inovasi Industri Kelapa Sawit

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi industri kelapa sawit melalui penyelenggaraan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026. PERISAI 2026 diselenggarakan pada 20 - 21 Juli 2026 di Jakarta.

Mengusung tema "Shaping the Palm Oil Industry Ecosystems for a Sustainable Future", ajang ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga penelitian, industri, asosiasi, investor, pekebun, mahasiswa, hingga masyarakat untuk mempercepat hilirisasi hasil riset dan meningkatkan daya saing industri sawit nasional yang berkelanjutan.

Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, mengatakan riset tidak lagi dapat berhenti pada publikasi ilmiah semata, melainkan harus mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Arah BPDP ke depan adalah mempertemukan kebutuhan industri (market pull), inovasi (technology push), dan kebutuhan masyarakat. Melalui PERISAI, kami ingin mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberikan dampak nyata bagi kemajuan industri dan kesejahteraan masyarakat," ujar Eddy dalam sambutannya.

Menurutnya, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia harus mampu menjadi pemimpin dalam inovasi dan teknologi. Di tengah tantangan perubahan iklim, digitalisasi, bioekonomi, hingga tuntutan keberlanjutan, investasi di bidang riset menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas dan daya saing industri sawit nasional.

PERISAI 2026 diikuti sebanyak 24 hasil Grant Riset Sawit BPDP dan 10 inovasi riset mahasiswa dipamerkan kepada publik. Pengunjung juga diperkenalkan pada sejumlah teknologi unggulan, seperti Beton Precast Foam Concrete berbasis biomassa sawit, Drone Penyerbuk Sawit, hingga pemanfaatan Astaxanthin dari Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai contoh inovasi yang siap memasuki tahap komersialisasi.

Sejak Program Grant Riset Sawit dimulai pada 2015, BPDP telah mendukung 466 kontrak penelitian yang melibatkan 109 lembaga penelitian, sekitar 1.900 peneliti, dan ratusan mahasiswa. Program tersebut menghasilkan 395 publikasi ilmiah serta 84 paten, dengan lebih dari 100 hasil riset telah memasuki tahap komersialisasi melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) bersama industri maupun pembentukan startup berbasis teknologi sawit.

Pada tahun 2026, BPDP kembali memperluas dukungannya melalui penandatanganan 56 kontrak riset baru, termasuk penelitian mengenai pengembangan kelapa nasional dan kesiapan implementasi Biodiesel B50. Ruang lingkup penelitian mencakup budidaya, bioenergi, oleokimia, biomaterial, lingkungan, sosial ekonomi, hingga teknologi informasi.

Selain penguatan riset, BPDP juga terus mengembangkan sumber daya manusia melalui kerja sama dengan 44 perguruan tinggi, pemberian beasiswa kepada 13.265 mahasiswa, serta pelatihan bagi lebih dari 30 ribu petani dan pekebun guna mempercepat adopsi inovasi di lapangan.

Riset Menjawab Persoalan Industri

Komitmen memperkuat keterkaitan antara riset dan kebutuhan industri juga ditegaskan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melalui penandatanganan Komitmen Bersama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan BPDP dalam mendukung Program Pengembangan SDM Perkebunan melalui Beasiswa Kelapa Sawit.

PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo (PTPN IV PalmCo) menekankan pentingnya peningkatan produktivitas di sektor hulu kelapa sawit melalui penerapan riset, penggunaan bibit unggul, dan penguatan kelembagaan petani. Hal ini dinilai krusial untuk menyeimbangkan tingginya permintaan hilirisasi, khususnya dalam pemenuhan mandatori biodiesel B50, tanpa harus mengorbankan stabilitas pasokan ekspor nasional.

Hal itu tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, saat hadir sebagai Keynote Speaker dalam pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta (20/07/2026).

Mengangkat tema "Strategi Industri dalam Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit melalui Inovasi dan Upaya Pemenuhan

Sertifikasi Keberlanjutan", Jatmiko menyoroti kondisi industri kelapa sawit saat ini yang membutuhkan penyesuaian strategi hulu.

"Hari ini kita menghadapi sebuah paradoks kelapa sawit nasional. Misi hilir sangat jelas dengan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, kemandirian energi B50. Di sisi lain, kita juga perlu terus menjalankan ekspor secara berkelanjutan.

Sekarang kalau kita tengok realitas hulu kita, produktivitas CPO cenderung stagnan," papar Jatmiko.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Jatmiko menekankan bahwa kuncinya ada pada peningkatan produktivitas, khususnya pada perkebunan sawit rakyat yang mencakup sekitar 42 persen dari total luasan lahan nasional.

"Seandainya satu ton saja produktivitas masyarakat naik, itu ada tambahan suplai CPO 6.000.000 ton. Kebutuhan biodisel B50 langsung bisa kita jalankan. Ini gap yang mesti kita jawab, sehingga kita mesti berpikir juga bagaimana kita menciptakan market driven research, ketemu peneliti dan juga dengan pengusaha dan juga rakyat. Tidak hanya berhenti di sebuah jurnal," tegasnya.

Sebagai pembuktian kontribusi perusahaan, Jatmiko memaparkan inisiatif perusahaan dalam membuka akses ketersediaan bibit bersertifikat bagi pekebun secara luas, serta optimalisasi pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit (POME) menjadi sumber energi baru terbarukan (EBT) Biometana.

"Bibit unggul, ini yang mungkin saya perlu ajakin teman-teman pengusaha, ayo kita buka bibit unggul kita, tetapi tidak harus menjadi mitra kita, siapapun boleh datang dan beli," ujar Jatmiko.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, menyoroti urgensi kemitraan untuk mendukung Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

"PSR itu tidak akan maju kalau kita tidak gandeng semua pihak, bagaimana supaya ada kemitraan antara perusahaan dengan petani sawit. Kemitraan itu sebenarnya sangat bagus, karena di situ perusahaan hadir membantu tumbang chipping-nya, standar kebun kita harapkan juga sama dengan kebunnya swasta," jelas Heru.

Hilirisasi Jadi Strategi Penguatan Ekonomi

Menutup rangkaian PERISAI 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa riset, inovasi, dan hilirisasi merupakan fondasi utama dalam memperkuat daya saing industri kelapa sawit sekaligus mendukung ketahanan ekonomi nasional.

Menurut Airlangga, industri sawit masih menjadi sektor strategis dengan kontribusi sekitar 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), nilai ekspor mencapai USD30,87 miliar, serta penerimaan negara dari pungutan ekspor dan bea keluar sebesar Rp53,13 triliun pada 2025.

"Implementasi Biodiesel B50 menunjukkan bahwa riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri mampu berjalan selaras. Ke depan, keberhasilan ini harus menjadi pijakan untuk mengembangkan hilirisasi menuju produk bernilai tambah seperti Green Diesel, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan bensin sawit," kata Airlangga.

Menko Airlangga mengapresiasi BPDP beserta seluruh pemangku kepentingan yang telah berkontribusi dalam pengembangan industri sawit nasional dan berharap PERISAI menjadi wadah lahirnya kolaborasi konkret yang mampu mempercepat penerapan hasil riset di dunia usaha.

Dengan total pendanaan riset yang telah mencapai Rp921 miliar, BPDP menargetkan Indonesia tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, tetapi juga berkembang menjadi Global Hub for Sustainable Palm Oil Research and Innovation, tempat lahirnya inovasi yang mampu memperkuat daya saing industri sawit nasional di pasar global.

Artikel Terkait