• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Pelatihan SDM Jadi Solusi Atasi Beragam Persoalan Sawit di Luwu Utara

Makassar, SAWIT INDONESIA – Pemerintah Kabupaten Luwu Utara menaruh harapan besar agar pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) pekebun kelapa sawit tidak berhenti pada transfer ilmu di ruang kelas, tetapi mampu menjadi solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi sektor sawit di daerah tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara, Pasalongan, saat sambutan di pembukaan Pelatihan SDMP 2026. Pelatihan yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian ini, terbagi menjadi 3 kelas, Teknis Budidaya Kelapa Sawit (dua kelas) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) satu kelas, diikuti 92 peserta terdiri dari pekebun, penyuluh, tenaga pendamping dan ASN dari Luwu Utara (Lutra), pada 24–30 Juli 2026, di hotel ternama di Makassar.

Menurut Pasalongan, Luwu Utara merupakan salah satu sentra sawit terbesar di Sulawesi Selatan dengan luas perkebunan mencapai sekitar 33.000 hektare. Sawit kini menjadi komoditas andalan yang menopang perekonomian masyarakat sehingga peningkatan kapasitas pekebun menjadi kebutuhan yang sangat penting.

"Problematika sawit di Luwu Utara cukup kompleks. Karena itu kami berharap pelatihan seperti ini benar-benar menjadi jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi petani," ujarnya.

Ia mengungkapkan, salah satu persoalan terbesar adalah rendahnya harga tandan buah segar (TBS) sawit di Sulawesi dibandingkan daerah lain. Saat harga sawit di Sumatera dan Kalimantan telah mendekati Rp4.000 per kilogram, harga di Luwu Utara masih berada di kisaran Rp2.600 per kilogram.

Padahal, menurutnya, kualitas sawit dari Luwu Utara tidak kalah baik karena didukung kondisi lahan yang subur. Pemerintah daerah pun terus berupaya menyuarakan persoalan tersebut bersama pemerintah provinsi, DPRD, hingga berbagai pemangku kepentingan agar harga sawit lebih berpihak kepada pekebun.

Selain persoalan harga, Pasalongan juga menyoroti masih berkembangnya stigma yang mengaitkan perkebunan sawit dengan bencana banjir. Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pekebun di Luwu Utara telah memahami pentingnya menjaga kawasan sempadan sungai sehingga tudingan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Ke depan, ia berharap materi pelatihan tidak hanya berfokus pada budidaya, tetapi juga mencakup pemilihan varietas unggul, hilirisasi, pengolahan limbah sawit menjadi produk bernilai tambah, hingga penguatan kelembagaan pekebun.

Pemerintah Kabupaten Luwu Utara juga optimistis pembangunan pabrik kelapa sawit baru di daerah tersebut dapat memperbaiki rantai pasok dan memberi dampak positif terhadap harga TBS yang diterima petani.

Pasalongan turut mendorong agar program pengembangan SDM sawit diperluas, termasuk melibatkan kelompok perempuan melalui pelatihan usaha berbasis produk turunan sawit. Menurutnya, kreativitas dalam mengolah limbah maupun hasil samping sawit dapat membuka sumber pendapatan baru bagi keluarga pekebun.

"Kami berharap peserta pulang membawa ilmu yang benar-benar bisa diterapkan di kebun. Pelatihan ini harus menjadi solusi, bukan sekadar kegiatan seremonial. Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, BPDP, Ditjenbun, dan seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis sawit Luwu Utara akan semakin maju dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.

Artikel Terkait