• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Pelatihan Panen dan Pascapanen Dorong 151 Pekebun Bengkulu Naik Kelas

BENGKULU, SAWIT INDONESIA — Sebanyak 151 pekebun sawit dari Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah mengikuti Pelatihan Panen dan Pascapanen dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian, pada 28 September – 2 Oktober 2026, di Bengkulu.

Pelatihan tidak hanya membekali pekebun dengan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong perbaikan manajemen kebun untuk meningkatkan produktivitas.

Praktisi Kebun AKPY, Ir. Tri Haryadi, mengatakan targetnya adalah membuat pekebun “naik kelas” melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

“Dengan tagline naik kelas itu targetnya supaya pekebun bisa mencapai produktivitas minimal 24 ton TBS per hektare per tahun. Dengan rendemen 24–25 persen, CPO-nya bisa sekitar 6 ton per hektare per tahun,” ujar Tri, saat hadir mewakili Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan yang berhalangan hadir, pada Senin (28 September 2026).

Menurutnya, target tersebut tidak cukup dicapai hanya dengan bibit unggul. Produktivitas juga ditentukan oleh kualitas SDM, teknik budidaya, pemupukan, serta manajemen panen.

Sebagian besar pekebun di Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah telah menggunakan bibit unggul, bahkan sebagian mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Namun, pengelolaan panen masih perlu diperbaiki karena belum seluruhnya dilakukan secara terencana.

“Bibit unggul sudah digunakan, sebagian juga sudah mengikuti PSR. Tetapi dalam penanganan panen masih masing-masing.

Belum ada perencanaan organisasi panen yang sesuai dengan GAP,” katanya.

Perbaiki Organisasi dan Rotasi Panen

Salah satu materi penting dalam pelatihan adalah membangun organisasi panen, mulai dari pembagian seksi, jadwal hingga rotasi panen.

Tri mengatakan masih ada pekebun yang melakukan panen hanya dua kali sebulan. Pola tersebut perlu ditingkatkan menjadi tiga hingga empat kali rotasi agar pengelolaan kebun lebih optimal.

“Organisasi panen harus disiapkan, termasuk seksi panennya dan rotasinya. Selama ini petani biasanya panen dua kali sebulan. Kita harapkan bisa menuju tiga sampai empat kali dalam sebulan,” jelasnya.

Selain rotasi, kriteria matang panen menjadi titik kritis. Pekebun perlu memahami bahwa buah yang terlihat merah belum tentu siap dipanen. Kematangan harus ditandai antara lain dengan adanya brondolan alami.

“Buah matang itu harus merah dan sudah ada brondolan alami,” katanya.

Bibit Unggul Harus Diikuti Pemupukan

Tri juga mengingatkan bahwa potensi bibit unggul tidak akan maksimal tanpa pemupukan yang tepat. Kebutuhan unsur hara, termasuk NPKMg dan boron, harus dipenuhi sesuai kebutuhan dan rekomendasi teknis kebun.

“Bibit unggul sudah digunakan, tetapi produksinya tidak akan tercapai kalau pupuknya tidak cukup,” ujarnya.

Kesadaran pekebun dalam pemupukan, lanjut Tri, masih beragam. Ada yang telah memberikan pupuk 4–6 kilogram per pokok per tahun, tetapi ada pula yang baru membeli pupuk ketika memiliki sisa uang dari hasil panen.

Sebaliknya, sebagian pekebun mulai menyisihkan hasil panen untuk memastikan kebutuhan pupuk tersedia dan pemupukan dapat dilakukan secara teratur.

Pelatihan juga mengingatkan pekebun mengenai bahaya penggunaan api di kebun, terutama pada musim panas dan setelah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

“Karena ini musim panas dan kita baru saja ada karhutla, kita ingatkan agar hati-hati dengan api. Jangan melakukan pembakaran dalam kegiatan berkebun,” kata Tri.

Ia berharap 151 peserta tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan pribadi. Mereka diharapkan membawa pengetahuan tersebut ke kelompok tani sehingga terjadi efek berantai di tingkat kebun.

“Naik kelas bukan hanya soal sudah ikut pelatihan, tetapi bagaimana pengetahuan itu diterapkan di kebun dan akhirnya berdampak pada produktivitas,” pungkas Tri.

Artikel Terkait