Berita Terbaru
PASPI Usul Perbaikan Harga Sawit Melalui Relaksasi Ekspor dan Penggunaan Domestik
JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Dr. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Institute menjelaskan bahwa industri sawit sedang menghadapi situasi dilema. Saat ini pergerakan harga CPO dunia mengalami penurunan tren.
Dalam beberapa minggu terakhir harga CPO dunia sudah turun dari sekitar RM 5000 menjadi rerata RM 3700/ton. Lalu sebagai produsen dan eksportir sawit terbesar dunia, berapa besar stok dan ekspor Ibdonesia akan mempengaruhi signifikan pasar CPO dunia.
"Saat ini stok minyak sawit domestik sangat besar yakni 6.5 juta ton jauh diatas rata rata normal sekitar 3.5 juta ton akibat kebijakan DMO yang ditempuh. Stok yang berlebihan tersebut harus segera di flush out ( FO) agar dapat menampung produksi CPO/ TBS domestik sehingga produksi TBS termasuk TBS petani terselamatkan," ujarnya.
Menurut Tungkot, dalam kondisi pasar CPO dunia dengan tren menurun tersebut, jika FO dilakukan dengan cara percepatan ekspor (baik melalui pengurangan bea keluar, pungutan maupun menaikkan ratio DMO dari 1:5 menjadi 1:7 ) akan menambah tekanan menurunkan harga CPO dunia yang trennya sudah menurun, sehingga juga akan menurunkan harga CPO dan TBS domestik.
"Cara yang kreatif dan mungkin dilakukan adalah FO dilakukan dengan menyerap stok tersebut dan mengkonversinya menjadi biodiesel untuk kepentingan domestik ( B30 atau perluasanyannya), " jelas Tungkot.
Kapasitas industri biodiesel nasional saat ini sekitar 17 juta kiloliter. Saat ini harga BBM dunia masih tinggi sehingga harga MOPS solar juga mahal sekitar USD 600/ mt. Dijelaskan Tungkot sementara dengan harga CPO domestik saat ini harga HIP biodiesel juga relatif kompetetif yakni sekitar USD 550/ mt, sehingga implementasi B30 atau bahkan B40 sangat feasiable tanpa insentif.
Menurutnya, dengan harga BBM dunia yang saat ini sekitar USD 628/ mt, selain untuk kebutuhan domestik juga menguntungkan untuk ekspor biodiesel.
"Jika FO diselesaikan dengan cara konversi menjadi biodiesel tersebut, selain menyelesaikan stok yang melimpah juga dapat mengangkat harga TBS domestik," tambahnya.
Selain itu dengan tidak masuknya stok minyak sawit Indonesia ke pasar dunia diperkirakan akan mengurangi laju penurunan harga CPO dunia bahkan berpeluang untuk mengangkat kembali harga CPO dunia.
Tungkot menuturkan perlu dilakukan kombinasi secara simultan melalui kebijakan menyerap stok untuk biodiesel domestik dan lakukan relaksasi ekspor.
"Tapi ini tetap berisiko penurunan harga CPO dunia. Penyebab harga cpo dunia trend turun adalah rencana FO Indonesia itu," pungksnya.














