• Sabtu, 26 September 2026
Profil Produk

Pascal Biotech Dorong Produktivitas Sawit Melalui Solusi Biotek Melawan Ganoderma

PT Pascal Biotech Indonesia menegaskan komitmennya dalam menghadirkan solusi bioteknologi untuk menjawab dua tantangan terbesar industri kelapa sawit nasional: penyakit Ganoderma dan rendahnya tingkat keberhasilan pembuahan (fruit set) pada berbagai varietas bibit sawit.

Direktur Utama PT Pascal Biotech Indonesia, Miftachul Anwar, mengatakan penanganan Ganoderma masih belum sepenuhnya menjadi prioritas bagi sebagian pelaku perkebunan, padahal penyakit tersebut memiliki dampak jangka panjang yang serius terhadap umur tanaman dan produktivitas kebun.

“Kita sangat peduli terhadap penanganan Ganoderma. Sayangnya, sebagian planter belum melihat masalah ini sebagai investasi jangka panjang. Padahal, 10–15 tahun ke depan serangan Ganoderma bisa dikendalikan jika sejak awal ditangani dengan tepat,” ujarnya dalam wawancara dengan Majalah Sawit Indonesia.

Dia menyebut pengendalian Ganoderma dengan teknologi terbaru milik Pascal menggunakan Bacteri Streptomyces nigrogriseolus GanoSA1 yang mempunyai antibiotik terhadap tanaman. Hal ini dapat mengatasi lajunya Ganoderma dan dapat mengeluarkan metabolik sekunder yang sangat bermanfaat buat tanaman. Streptomyces nigrogriseolus GanoSA1 juga tahan terhadap kondisi yang ekstrim seperti pH rendah dan suhu yang tinggi.

"Sekarang Streptomyces nigrogriseolus GanoSA1 tersedia dalam bentuk produk ready for use ACTINO PLUS,” ujarnya.

Selain penanganan penyakit, Pascal Biotech juga memperkenalkan inovasi untuk meningkatkan tingkat fruit set pada tanaman sawit. Menurut Miftachul, saat ini banyak varietas bibit sawit yang tingkat fruit set-nya berada di bawah 70%, sehingga produktivitas kebun tidak optimal.

Untuk menjawab persoalan itu, perusahaan mengembangkan Pasbiomone, inovasi berbasis feromon aroma yang dirancang khusus menarik serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus.

“Pasbiomone meniru aroma bunga jantan pada fase reseptif dan bunga betina pada fase anthesis. Aromanya sangat efektif menarik kumbang Elaeidobius sehingga populasi penyerbuk di lapangan bisa mencapai 20.000 ekor per hektare,” jelas Miftachul.

Ia menyebutkan produk tersebut telah teruji mampu meningkatkan OER (Oil Extraction Rate) hingga mencapai 24%–26%, angka yang di sejumlah negara penghasil sawit utama telah menjadi standar operasional perkebunan.

“Di luar negeri ini sudah jadi SOP, tetapi di perkebunan sawit Indonesia belum banyak yang menyadari potensinya,” katanya.

Oryctrap, Solusi Baru Kendalikan Serangan Kumbang Badak (Oryctes rhinoceros)

Selain Pasbiomone, perusahaan juga menyiapkan produk baru bernama Oryctrap, yang ditujukan untuk mengendalikan hama kumbang badak (Oryctes rhinoceros), serangga perusak tanaman muda yang kerap menyerang areal replanting.

“Setelah replanting, biasanya banyak larva kumbang badak di tumpukan bahan organik. Jika tidak dikendalikan, tanaman muda bisa rusak bahkan hingga 70%,” ujar Miftachul.

Oryctrap dirancang untuk menangkap kumbang badak jantan dan betina sekaligus, dengan keunggulan daya tahan yang kuat terhadap panas maupun cuaca lembap. Produk ini dapat bertahan hingga tiga bulan dan efektif menjangkau area hingga radius satu kilometer.

Produk ini dikemas dalam sachet plastik monomer berukuran segi empat berisi 2 mililiter bahan aktif feromon dan insektisida. Dalam satu hektare, cukup digunakan satu unit Oryctrap.

“Dalam kondisi cuaca tidak terlalu panas, masa efektifnya bisa mencapai empat hingga enam bulan. Tapi karena kita tidak bisa menunggu serangan, Oryctrap dibuat agar dapat bekerja optimal di segala kondisi cuaca,” ujarnya.

Pascal Biotech menargetkan peluncuran resmi Oryctrap dalam dua bulan ke depan.

Untuk memastikan penggunaan produk yang optimal, perusahaan menyediakan layanan purna jual berupa edukasi dan pendampingan lapangan bagi pelanggan.

“Setiap produk Pascal kami lengkapi dengan pelayanan lapangan dan edukasi intensif. Kami juga akan menggelar acara besar tahun depan bernama PASTI — Pascal Aliansi Symposium, Testimoni & Insight,” tutur Miftachul.

Acara ini akan digelar pada tahun 2026 dan menghadirkan para ahli serta praktisi perkebunan sawit. Tujuannya untuk membedah berbagai kendala di lapangan, khususnya yang berkaitan dengan hama dan penyakit, sehingga produktivitas tanaman sawit dapat terus ditingkatkan.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit indonesia, Edisi 170)

Artikel Terkait