• Jumat, 6 November 2026
Berita Terbaru

Pasar CPO Kembali Melemah pada 6 November 2026, Pelaku Pasar Nanti Rilis Data MPOB

KUALA LUMPUR, SAWIT INDONESIA - Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026) pagi. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi seiring tingginya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan stok minyak sawit Malaysia, potensi percepatan ekspor dari Indonesia, serta pelemahan harga minyak nabati pesaing di bursa global.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.00 WIB, harga CPO kontrak berjangka acuan di Bursa Malaysia Derivatives terkoreksi 0,21 persen ke level MYR4.368 per ton dibandingkan penutupan Kamis (5/11/2026) sebesar MYR4.377 per ton.

Pelemahan ini melanjutkan koreksi tajam sebesar 2,65 persen pada perdagangan sebelumnya dari level MYR4.496 per ton, sekaligus menempatkan harga CPO mendekati posisi terendah dalam delapan bulan terakhir.

Poin-poin utama lonjakan persediaan Malaysia, proyeksi ekspor Indonesia menjelang mekanisme Danantara 2027, serta proyeksi teknikal meliputi:

Proyeksi Lonjakan Stok Minyak Sawit Malaysia:

  • Hasil survei Reuters memperkirakan persediaan minyak sawit Malaysia periode Oktober 2026 bakal melesat 6,8 persen menjadi 3,75 juta ton, dari posisi 3,51 juta ton pada September 2026.

  • Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menilai peningkatan volume produksi yang melampaui estimasi awal memicu kekhawatiran penumpukan persediaan. Pelaku pasar kini menantikan rilis resmi data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada 10 November 2026.

Dampak Isu Biaya Registrasi Ekspor Danantara 2027:

  • Eksportir Indonesia diproyeksikan mempercepat volume pengiriman barang pada dua bulan terakhir 2026 guna memanfaatkan tarif pungutan ekspor yang lebih rendah.

  • Langkah percepatan pengiriman ini juga didorong antisipasi kian dekatnya penerapan mekanisme biaya transaksi registrasi ekspor oleh Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang dijadwalkan berlaku mulai Januari 2027. Pasokan tambahan dari Indonesia berpotensi memperbesar risiko surplus CPO global.

Tekanan Minyak Pesaing dan Penguatan Ringgit:

  • Harga minyak kedelai di Bursa Dalian terkoreksi 0,74 persen dan kontrak CBOT turun 0,96 persen. Pelemahan minyak nabati komparatif ini menekan daya saing CPO di pasar internasional.

  • Penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia sebesar 0,42 persen terhadap Dolar AS turut menjadikan harga minyak sawit terasa lebih mahal bagi pembeli pemegang mata uang asing.

Potensi Surplus Minyak Mentah dan Analisis Teknikal:

  • Laporan JPMorgan dan Goldman Sachs menunjukkan pasar minyak mentah global berisiko surplus hingga 1,4 juta barel per hari, yang berpotensi mengurangi daya tarik ekonomi CPO sebagai bahan baku campuran biodiesel.

  • Analis komoditas Reuters, Wang Tao, memproyeksikan pergerakan teknikal CPO berisiko melanjutkan penurunan menuju area support MYR4.316–MYR4.332 per ton, dengan batas penopang lanjutan di MYR4.292 per ton. Sebaliknya, area resistance terdekat berada pada posisi MYR4.399 per ton.

Rilis resmi data persediaan dan ekspor oleh MPOB pada pekan depan akan menjadi indikator krusial dalam menentukan arah pergerakan harga CPO di tengah dinamika pasokan hulu dan kebijakan ekspor kawasan.

Sumber: cnbcindonesia.com

Topik:CPO

Artikel Terkait