• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Negosiasi Dagang: RI Sodorkan Sawit, AS Diminta Turunkan Tarif

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo, mengungkapkan bahwa Indonesia tengah mengupayakan penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat yang saat ini sebesar 19 persen.

Dwisuryo menjelaskan bahwa pada pekan kedua September, delegasi Indonesia akan mengajukan usulan pengurangan tarif dengan menawarkan ekspor sejumlah komoditas unggulan yang tidak diproduksi di AS. Salah satunya adalah minyak sawit.

“Amerika Serikat sangat membutuhkan minyak kelapa sawit. Jadi, jika kita mengekspor sawit, diharapkan tarifnya bisa dikurangi, bukan lagi 19 persen,” ujarnya dilansir Antara, Rabu (10 September 2025).

Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor minyak sawit Indonesia ke AS pada 2024 tercatat sekitar 2,2 juta ton, sedikit menurun dari 2,5 juta ton pada 2023. Meskipun ada penurunan, permintaan tetap tinggi, mendekati 2 juta ton.

Selain sawit, Indonesia juga akan menawarkan udang, kayu, furnitur, tembaga, dan nikel. Dwisuryo menambahkan peluang untuk meningkatkan ekspor tekstil dan garmen juga terbuka, meski saat ini kapasitas produksinya baru memenuhi kurang dari 20 persen kebutuhan pasar AS.

“Kita tahu semua bentuk kerja sama akan menguntungkan kedua negara. Tekstil dan garmen Indonesia memiliki pasar besar di AS, namun produksinya masih belum optimal,” katanya.

Meski tidak menyebut target spesifik, termasuk kemungkinan tarif 0 persen, Dwisuryo menegaskan bahwa pemerintah berharap melalui penawaran komoditas unggulan, tarif impor dapat kembali ditekan.

“Untuk saat ini, mari kita beri ruang bagi delegasi Indonesia di Washington D.C. yang sedang berdiskusi dengan pihak AS mencari jalan terbaik,” tambahnya.

Pada 2024, ekspor Indonesia ke AS tercatat sebesar US miliar (Rp426,5 triliun), sementara ekspor AS ke Indonesia hanya US miliar (Rp164,4 triliun), sehingga Indonesia membukukan surplus perdagangan US miliar (Rp262,5 triliun). Tarif impor produk Indonesia sebelumnya mencapai 32 persen, namun berhasil ditekan menjadi 19 persen setelah komunikasi langsung antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.

Kendati demikian, negosiasi masih berlangsung dengan target penurunan tarif lebih lanjut untuk sejumlah produk tertentu, seiring AS yang masih membuka ruang diskusi.

Artikel Terkait