• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Motor Bensin Sawit Tempuh Jarak 2.000 Km

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Hampir seminggu lamanya, Muhammad Ferrian touring menggunakan motor KTM 390 CC Adventure dari Bogor ke Bandung lalu dilanjutkan ke Kota Medan, Sumatera Utara. Yang berbeda dari touring sepeda motor lainnya adalah penggunaan bahan bakar bensin sawit. “Saya ingin mendapatkan pengalaman langsung penggunaan bensin pada kendaraan bermotor dalam jarak jauh,” ujar Ferrian. Menurutnya, motor berbensin sawit ingin ditampilkan dalam kegiatan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) yang waktunya bersamaan dengan Indonesia Palm Oil Stakeholders Forum (IPOS-Forum) ke-7 di Hotel Santika, Medan, Sumatera Utara. Ferrian menjelaskan bahwa jarak yang harus ditempuhnya mencapai 2.000 km.”Setelah dari Medan saya lanjutkan ke Sabang, Aceh,” urainya. Bensin sawit yang digunakannya adalah pengembangan teknologi Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan PT Kemurgi Indonesia yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Ferrian menjelaskan bahwa motor yang digunakannya menggunakan bahan bakar Pertamax dan Pertamax Turbo lalu dicampur bensin sawit sebanyak 20%. Cara ini dilakukan untuk mengetahui dampak bensin sawit ini kepada mesin motor. “Alhamdulillah aman dan sangat bagus. Mesin tidak mengalami “knocking” yang biasa dialami kalau menggunakan bahan bakar yg tidak berkualitas. Selain itu, konsumsi bahan bakar juga efisien,” ujarnya. Prof. Dr. Subagjo menjelaskan bahwa saat ini bensin sawit telah diproduksi sebanyak 1.000 liter. Potensi produksi masih terbuka karena Indonesia memiliki perkebunan sawit cukup luas. Eddy Abdurrachman, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), mengapresiasi uji motor bensin sawit ini yang menjadi bagian dari program penelitian dan pengembangan BPDPKS. “Beberapa riset yang didanai telah sampai pada tahap Pilot Plant yang telah siap untuk masuk ke tahap komersialisasi termasuk bensin sawit,” ujarnya. Sebagai informasi ,demonstrasi produksi dengan nama Bensa (Bensin Sawit) ini dilaksanakan pada 11 Januari 2022 bertempat di Workshop PT Pura Engineering, Kudus, Jawa Tengah. Saat demonstrasi tersebut dilakukan juga uji coba Bensa terhadap kendaraan roda dua dan roda empat dan hasilnya Bensa dapat bekerja dengan baik sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Unit demo ini mengkonversi minyak sawit industrial (industrial vegetable oil, IVO) menjadi bensin sawit melalui proses perengkahan yang dikembangkan oleh Pusat Rekayasa Katalisis ITB (PRK ITB), Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis ITB (LTRKK ITB), Program sSudi Teknik Bioenergi dan Kemurgi (TBE) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Subagjo. Proses konversi IVO menjadi bensin sawit dilaksanakan dalam reaktor menggunakan katalis berbasis zeolit yang juga dikembangkan oleh PRK ITB dan LTRKK ITB. Minyak sawit yang menjadi bahan baku untuk produksi bahan bakar tersebut berasal dari Crude Palm Oil (CPO). Sebelum dapat digunakan dalam proses produksi bahan bakar nabati, CPO tersebut harus melalui serangkaian proses pemurnian untuk menyingkirkan kontaminan yang keberadaannya dapat menimbulkan efek negatif pada proses produksi Untuk mengembangkan proses pemurnian tersebut, ITB bekerjasama dengan PT Kemurgi Indonesia. Hasilnya diperoleh minyak sawit yang memenuhi kriteria sebagai bahan baku produksi bahan bakar nabati. Standar kriteria tersebut ditetapkan dalam SNI 8875:2020 tentang Industrial Vegetable Oil (IVO). Pengembangan teknologi proses pemurnian tersebut sampai pada akhirnya menghasilkan teknologi yang tidak saja dapat menyingkirkan zat-zat yang menimbulkan efek negatif pada proses produksi bahan bakar nabati, tetapi juga kontaminan yang mengurangi kualitas minyak sawit termasuk kontaminan yang dapat menyebabkan terciptanya 3-MCPDE pada minyak sawit. Pada tahun ini, PT Kemurgi Indonesia bekerjasama dengan ITB dan BPDPKS akan melengkapi teknologi proses pemurnian tersebut dengan teknologi pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) skala kecil yang nantinya akan dirangkai menjadi unit yang terintegrasi dengan teknologi produksi bahan bakar nabati dan produksi minyak makan sawit bernutrisi tinggi.

Artikel Terkait