• Selasa, 29 September 2026
Analisis

Momentum Kebangkitan Agro Industri Kelapa Sebagai Kekuatan Ekonomi Kerakyatan Melalui Koperasi

Pengantar

Tanah air Indonesia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sumber daya alam yang terdapat di perairan, darat dan laut seperti minyak, gas dan mineral dibawah permukaan tanah, keragaman flora dan fauna -berbagai jenis tanaman dan tumbuhan yang tumbuh subur dan produktif.

Khusus untuk tanaman perkebunan yang sudah dibudidayakan secara luas dan komersil antara lain adalah Kelapa. Tanaman ini sangat mudah kita temukan di seluruh pelosok tanah air, dari Sabang sampai Merauke terutama di pedesaan mulai dari dataran rendah hingga dataran medium.

Tanaman kelapa merupakan sumber daya hayati yang digunakan sebagai minyak goreng sebelum berkembangnya industri kelapa sawit sebagai penghasil utama minyak goreng di Indonesia. Namun demikian, minyak goreng kelapa masih dapat kita temukan di super market dalam jumlah terbatas dan harganya relatif jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan minyak goreng sawit.

Di kawasan Asia Tenggara, semua negara anggota the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang terdiridari 11 negara memiliki budidaya kelapa hingga perkebunan skala besar, kecuali Singapura. Anggota ASEAN yang menghasilkan kelapa dan sekaligus sebagai produsen utama dunia adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam dan Timor Leste.

Kelapa yang diproses segar dan buah yang dikeringkan (Kopra) dapat menghasilkan minyak yang bernilai tambah tinggi. Kopra yang menghasilka nminyak (coconut oil) banyak digunakan sebagai bahan baku untuk pangan, farmasi, kosmetik dan bahkan sebagai Bioavtur/Jet fuel. Dunia penerbangan saat ini sedang menyusun peta jalan penggunaan jet fuel yang berbasis minyak nabati yang dikenal dengan istilah Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang salah satu sumber bahan bakunya menggunakan minyak kelapa (coconut oil). Indonesia sebagai salah satu negara produsen utama kelapa dan/atau minyak kelapa memiliki peluang sebagai pemain utama untuk memproduksi SAF tersebut.

Minyak kelapa sebagai sumber pangan mengandung fitonutrien yang sangat bermanfaat bagi Kesehatan. Fitonutrien tersebut adalah sebagai berikut: alkaloid 38.230 mg/100g; tannin 28.124 mg/100g; saponins 16.185 mg/100g; flavonoid 29.745 mg/100g; phenol 79.167 mg/100g; steroid 0.915 mg/100g; terpenoid 1.251 mg/100g; and glycoside 0.506 mg/100g.

Minyak kelapa juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri oleochemical untuk menghasilkan produk intermediat seperti Fatty Alcohol, Fatty Acid, Ester, Medium Chain Triglyceride (MCT), Glyceril Monostearate (GMS) dan lain-lain. Produk intermediat tersebut selanjutnya akan digunakan oleh industri lainnya seperti kosmetik, farmasi dan oleo pangan.

Selain kedua hal tersebut (sebagai sumber fitonutrien dan oleochemical) minyak kelapa memiliki peluang yang sangat besar digunakan sebagai bahan baku untuk mengasilkan Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Minyak kelapa ini mirip dengan minyak inti kelapa sawit Refined Bleached and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) yang sudah diuji coba terbang oleh maskapai Garuda Indonesia. Uji terbang tersebut dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2023 yang lalu dengan menggunakan pesawat seri 737-800 NG dengan campuran 2.4% pada rute bandara Soekarno Hatta, Jakarta - bandara Adisoemarmo, Solo (Pulang Pergi).

Di organisasi penerbangan sipil internasional/International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non standar di dalam positive list ICAO - ICAO document - CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels, Edisi ke-6 pada tanggal 28 Oktober 2024. Kelapa non standar itu meliputi kelapa tua, berukuran sangat kecil, sudah bertunas, mulai membusuk atau berjamur dan yang pecah. Berdasarkan data dari beberapa riset yang dilakukan bahwa jumlah kelapa non standar di Indonesia diperkirakan mencapai 30% dari produksi kelapa Indonesia.

Namun demikian, untuk minyak kelapa (laurat) yang diproses melalui Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA) belum masuk di daftar Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) sebagai bahan baku SAF, masih HEFA secara umum yang berbasis minyak nabati umum. Hal ini menjadi tugas kita bersama pemerintah dan pelaku industri untuk memasukkan minyak kelapa sebagai bahan baku SAF.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah SAWIT INDONESIA, Edisi 165)

Artikel Terkait