Ancaman penyakit busuk pangkal batang akibat jamur Ganoderma masih menjadi bayang-bayang serius bagi keberhasilan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Jika tak dikendalikan, serangan patogen ini dapat memangkas produktivitas hingga memicu kerugian puluhan miliar rupiah per tahun di tingkat kebun.
Direktur PT Mitra Sukses Agrindo, Awang Suwarnoto, mengatakan Ganoderma menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan PSR, selain kualitas bibit, pemupukan, populasi tanaman, dan kesehatan tanah.
“Ganoderma masih menjadi ancaman, terutama untuk keberhasilan PSR di Indonesia. Serangannya bisa menyebabkan kerugian sampai 30 persen. Artinya, kalau luas kebun 10.000 hektare, potensi kerugiannya bisa mencapai Rp252 miliar bila tingkat stres abiotiknya 30 persen,” ujar Awang dalam Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit 2026 Sesi II bertajuk “Kisah Sukses PSR dan Penggunaan Benih Sawit Bersertifikat” di Palembang, Kamis (12 Februari 2026).
Awang menjelaskan, tren serangan Ganoderma meningkat seiring umur dan generasi tanaman. Pada tanaman belum menghasilkan (TBM) generasi pertama umumnya belum terlihat serangan. Namun, pada tanaman menghasilkan (TM), tingkat serangan bisa menembus 17 persen.
Di Bangka Belitung, misalnya, tanaman generasi pertama di lahan berpasir mencatat serangan hingga 10 persen. Pada generasi kedua, serangan di TBM bisa mencapai 4 persen dan di TM hingga 18 persen. Bahkan pada generasi ketiga, serangan di TM dapat melonjak hingga 75 persen jika tidak ada upaya pengendalian.
“Banyak petani tidak menyadari gejalanya sejak awal. Ketika terlihat, kerusakan sudah parah. Padahal penularan paling banyak melalui pertautan akar sakit dengan akar sehat, selain bisa juga lewat serangga, ternak, dan angin,” katanya.
Ia mencontohkan, dengan asumsi produksi 200 kilogram per pohon per tahun dan harga TBS rata-rata Rp3.500 per kilogram, dengan kematian rata2 10 pokok perhektar maka kebun seluas 10.000 hektare berpotensi kehilangan sekitar Rp70 miliar per tahun akibat Ganoderma. Untuk koperasi dengan luas 1.000 hektare, potensi kerugian bisa mencapai Rp7 miliar pertahun.
Strategi Pengendalian Terpadu
Menurut Awang, pengendalian Ganoderma harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pencegahan hingga sanitasi kebun.
Pertama, pekebun perlu mengutip tubuh buah Ganoderma dan memusnahkannya dengan cara Dibakar agar tidak menyebarkan spora ke tanaman lain. Kedua, melakukan eradikasi dan sanitasi terhadap pokok mati yang terinfeksi.
“Sering kali ini tidak dilakukan karena dianggap repot dan mahal. Padahal pokok mati itu menjadi sumber hidup Ganoderma,” ujarnya.
Selain itu, pencegahan dapat dilakukan dengan aplikasi Trichoderma untuk meningkatkan daya tahan tanaman, mengembalikan biomassa kebun ke lahan, serta memperbaiki kesuburan tanah minimal 10 tahun sebelum replanting melalui kombinasi aplikasi pupuk organik dan kimia.
PT Mitra Sukses Agrindo sendiri memproduksi biofungisida berbasis Trichoderma pilihan dengan merek NOGAN, serta pupuk hayati berbasis mikoriza yang juga berfungsi sebagai pengendali Ganoderma.
Sumber: Presentasi PT Mitra Sukses Agrindo dalam Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit 2026
“Produk kami sudah melalui uji efikasi oleh Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology tahun 2019. Dimana hasilnya dari standar efikasi 50 persen, produk kami mencapai 87,5 persen uji efikasinya dan diuji di dua lokasi dengan hasil di atas 50 persen,” jelasnya.
Ia menambahkan, salah satu pembeda produknya adalah penggunaan induser kitin dan kascing yang mendukung efektivitas pengendalian.
Satu-satunya cara efektif mengendalikan jamur Ganoderma adalah dengan memasukkan musuh alaminya berupa biofungisida berbasis Trichoderma spp.dan juga Fungi Mikoriza Arbuskular kedalam tanah, khususnya sejak bibitan, lubang tanam, TBM dan TM pada program PSR.
Kualitas biofungisida tidak hanya tergantung dari jenis atau strain yang dipakai tetapi juga pada material yang digunakan dalam formulasi seperti carrier, induser dan foodbase yang mempunyai efek ganda baik terhadap efikasi maupun ketahanan tanaman.
NOGAN® adalah biofungisida berbasis 3 (tiga) jenis Trichoderma yaitu T. harzianum, T. Asperelloides dan T. Asperrelum dengan strain terseleksi yang diformulasi dengan carrier yang mengandung humus, humat, asam amino, hormon, antibiotika dan asam organik lain serta dilengkapi dengan induser chitin dan foodbase yang berkualitas.
NOGAN® sangat compatible serta dapat meningkatkan populasi Trichoderma di lapangan dalam waktu yang sangat cepat, selain dapat mematikan Ganoderma juga akan membuat tanaman lebih cepat recovery dan vigor.
Kapasitas Produksi dan Respons Pasar
Didirikan 18 tahun lalu, produk PT Mitra Sukses Agrindo sudah digunakan lebih 150 perusahaan kelapa sawit besar di indonesia yang berlokasi di Bogor, perusahaan ini mengembangkan produk melalui riset panjang. Kapasitas produksi Trichoderma mencapai 10.000 ton per tahun, mikoriza 1.500 ton per tahun, serta pupuk organik 3.000 ton per tahun.
Dalam pameran yang menjadi bagian dari workshop di Palembang ini, Awang mengakui antusiasme petani cukup tinggi. Namun, tantangan muncul dari sisi skala pembelian.
“Karena ini tingkat petani,dan penangkar bibit kebutuhannya kecil, sekitar 1-2 ton untuk digunakan oleh penangkar2 bibit. Sementara untuk KUD atau koperasi kebutuhan cukup banyak minimal pembelian kami 10 ton untuk pembelian franco Gudang pembeli.
Hingga hari pelaksanaan, penjualan di arena pameran telah mencapai sekitar 8 ton, dengan potensi transaksi hingga 250 ton.
“Minimal mereka mengenal dulu produk kami. Kalau sudah pesan 1 ton pun berarti sudah ada kepercayaan terhadap produk kami serta ada kepedulian petani dalam aplikasi produk hayati dalam rangka melawan serangan Ganoderma di kelapa sawit. Kami siap mendukung kesuksesan PSR karena kapasitas pabrik kami sudah eksisting dan siap memenuhi kebutuhan program Replanting baik petani maupun skala korprorasi,” kata Awang.














