• Kamis, 15 Oktober 2026
Berita Terbaru

Minyak Mentah dan Pesaing Turun, Harga CPO Terkoreksi 1,51 Persen

KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) mengalami koreksi pada perdagangan Kamis (15/10/2026), mengakhiri tren penguatan (rally) yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Penurunan harga ini dipicu oleh koreksi pada bursa minyak nabati pesaing di Dalian dan Chicago, serta melesunya harga minyak mentah dunia.

Kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat merosot 1,51 persen ke posisi 4.628 ringgit per ton pada pukul 14.50 WIB.

Para pelaku pasar saat ini bersikap wait and see sembari menantikan rilis data statistik ekspor terbaru guna mengukur arah permintaan pasar internasional.

“Kontrak berjangka CPO menyusul pelemahan harga di pasar Dalian dan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade, sembari menunggu kejelasan data ekspor,” ungkap seorang trader komoditas berbasis di Kuala Lumpur.

Poin-poin utama penyebab koreksi harga CPO, dinamika harga minyak mentah, serta kebijakan bea ekspor Malaysia meliputi:

  • Pelemahan Serentak Minyak Nabati Pesaing:

  • Bursa Dalian (Cina): Kontrak minyak kedelai paling aktif terkoreksi 1,66 persen, sedangkan kontrak minyak sawit merosot 2,15 persen.

  • Bursa CBOT (Chicago, AS): Harga minyak kedelai turun 0,64 persen.

  • Pergerakan minyak sawit kerap mengekor dinamika harga minyak nabati lain karena saling berkompetisi merebut pangsa pasar minyak nabati dunia.

  • Dampak Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia: Harga minyak mentah global merosot lebih dari 1 persen akibat potensi kelonggaran sanksi kapal oleh AS guna menekan biaya pengiriman di Selat Hormuz. Turunnya harga minyak mentah mengurangi daya tarik keekonomian minyak sawit sebagai bahan baku utama biodiesel.

  • Penguatan Mata Uang Ringgit: Ringgit Malaysia mencatatkan penguatan tipis 0,02 persen terhadap Dolar AS, yang secara teoritis membuat harga komoditas CPO menjadi sedikit lebih mahal bagi para pembeli asing.

  • Penetapan Bea Ekspor Malaysia: Malaysia mempertahankan bea ekspor CPO di level 10 persen untuk periode November 2026, meskipun harga referensi resminya disesuaikan turun sebagaimana tercantum dalam edaran Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

Dinamika harga CPO dalam jangka pendek diprediksi masih akan ditentukan oleh rilis data ekspor bulanan serta perkembangan harga komoditas substitusi di pasar internasional.

Sumber: idxchannel.com

Artikel Terkait