• Kamis, 1 Oktober 2026
Oase

Mikovirus, Strategi Baru Melemahkan Dan Mematikan Ganoderma

Penyakit Busuk Pangkal Batang (Ganoderma) menjadi momok bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan kerugian ekonomis jika tidak segera ditangani dan dikendalikan.

Ir. Henny Hendarjanti, M.M. selaku Praktisi Perlindungan Tanaman serukan pentingnya pengendalian penyakit Busuk Pangkal Batang pada tanaman kelapa sawit yang disebabkan cendawan Ganoderma sp. Mengingat penyakit BPB ini menjadi momok bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain yang memiliki perkebunan kelapa sawit.

Hal tersebut disampaikan di salah satu sesi talkshow di gelaran 2nd Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO) 2024, pada Jum’at (9 Agustus 2024), di Pekanbaru, Riau. Gelaran ini dihadiri pelaku usaha sawit hingga perusahaan supporting, takterkecuali petani sawit.

Pada kesempatan itu, Henny Hendarjanti yang karib disapa Henny, menjelaskan secara runut pengendalian penyakit BPB atau dikenal penyakit Ganoderma, secara terstruktur, sistematis dan komprehensif. Dengan agens pengendali hayati anugerah impresif dalam pengendalian penyakit Ganoderma.

Menariknya, saat mengawali paparannya, Perempuan berdarah Jawa ini justru melontarkan pertanyaan pada audiens, apakah Ganoderma boleh ada atau tidak? jawabannya boleh asal tidak dominan.

“Namun, karena saat ini Ganoderma sudah mulai dominan, maka harus dilakukan insert mikroba lain yang dulunya ada tetapi sekarang berkurang atau bahkan hilang dan perlu pengendalian yang tepat agar serangan cendawan Ganoderma dapat ditekan,” jelas Henny.

Lebih lanjut, ia mengatakan penyakit BPB (Ganoderma) membunuh tanaman sawit secara diam-diam. Pada umumnya sudah ada di semua areal perkebunan kelapa sawit terutama Asia Tenggara. Berpotensi parah di Sumatera (Indonesia), dan Malaysia dengan angka kematian hingga 80% pada usia>15 tahun.

“Kalau dibiarkan tidak ada tindakan pengendalian maka tanaman kelapa sawit akan mati, lambat laun tanaman kelapa sawit di Indonesia akan punah. Maka kita harus lawan Ganoderma,” ujar Perempuan yang sebelumnya menjadi Plant Protection Department Head, di perusahaan perkebunan ternama di Indonesia.

Pengendalian Ganoderma Terpadu

Maka, untuk pengendalian penyakit BPB, Henny menyampaikan prinsip pengendalian terpadu. Diawali dengan sensus Ganoderma, identifikasi gejala dan tanda Ganoderma (TBM dan TM), deteksi dini Ganoderma.

“Kemudian, manajemen dan pengendalian Ganoderma di areal tanam (Tanaman Belum Menghasilkan (TBM): sanitasi pohon terinfeksi Ganoderma (Removal/Deboling), perlakuan preventif; di areal infeksi Ganoderma,” ucapnya.

Di areal Tanaman Menghasilkan. Dengan perlakuan kuratif; isolasi pohon terinfeksi & perlakuan agens hayati, pengikisan batang terinfeksi Ganoderma, soil bio-mounding + Tricoderma, injeksi fungisida kimia, injeksi fungisida biologi (mikrovirus).

Sementara, di areal peremajaan; sanitasi pohon terinfeksi Ganoderma (removal/deboling), perlakuan preventif (penggunaan benih moderat toleran (MT) Ganoderma, perlakuan preventif; aplikasi agens hayati di pembibitan dan lubang tanam.

(Selengkapnya dapat dibac di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 154)

Artikel Terkait