Jakarta, SAWIT INDONESIA – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyampaikan nilai produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II 2024 sudah mencapai Rp5.300 triliun dan sawit berkontribusi sebesar Rp193 trilun atau 3,5 persen terhadap PDB. Dia pun optimis jika nilai keekonomian sawit hingga 2024 bisa tembus Rp775 triliun.
“Artinya nilai keekonomian 2024 mencapai Rp193 triliun dan diproyeksikan pada 2024 magnitude berbasis sawit mencapai Rp775 triliun tahun ini. Hal tersebut sejalan kerangka hilirisasi menyerap tenaga kerja dan diversifikasi ekonomi kita,” ujarnya dalam acara peluncuran buku eks Menperin Saleh Husein di Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2024).
Lebih lanjut, Agus juga mengungkapkan jika produk turunan yang dihasilkan sawit di dalam negeri terus menerus meningkat. Misalnya pada 2011 tercatat 48 jenis produk turunan sawit dan pada 2023 ada 183, bahkan saat ini ada 200 jenis turunan sawit.
“Belum lagi berupaya mengimplementasikan B40 nanti, mengapa tidak suatu hari B100 yang bisa lebih ramah lingkungan,” imbuhnya.
Oleh karenanya, dia mengaku optimis jika tahun depan ekonomi Indonesia bisa mencapai 8 persen. Kemudian pada 2045 Indonesia bisa keluar dari middle income sehingga tidak masuk dalam middle income trap karena ditopang industri sawit. Saat ini saja, ujar dia, per 2023 nilai ekspor sawit mencapai US,45 miliar atau Rp400 triliun, 11,6 persen dari total ekspor non migas dan menyerap 16,2 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung.
“Sawit adalah anugerah bagi Indonesia dari Allah dan tiket untuk Indonesia terbang maju,” ucap Agus.
Agus juga mengungkapkan pemerintah terus menggencarkan hilirisasi sektor ini sehingga memberikan nilai tambah yang lebih tinggi. Ia menjelaskan, dalam tataran praktis, hilirisasi industri kelapa sawit diupayakan untuk menghasilkan produk turunan berupa pangan (oleofood), nonpangan (oleochemical), bahan bakar terbarukan (biofuel), hingga material baru ramah lingkungan (biomaterial). Sementara pengembangan produk hilir minyak sawit diarahkan ke produk yang memiliki produk unggulan, seperti deterjen cair, kosmetik, cat, serta farmasi yang mampu menghasilkan nilai tambah hingga 580 persen.
"Adapun untuk produk hilir berupa biomass kita arahkan pengembangannya ke produk derivatif seperti dimethyl eter (DME) yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG). Selain itu juga produk seperti kapasitor, biokatalis, serta ethanol G-2," katanya.














