Jakarta, SAWIT INDONESIA - Industri kelapa sawit nasional dihadapkan pada tantangan besar yaitu stagnasi produksi, kebutuhan energi berbasis sawit yang meningkat, dan tuntutan efisiensi dalam operasi. Di tengah tekanan tersebut, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan pentingnya replanting, riset genetika, dan mekanisasi sebagai strategi utama untuk mendongkrak produktivitas.
Hal ini ditegaskan oleh Dr. Cahyo Sri Wibowo, Tim Bidang Riset GAPKI dalam forum Expert Connect 2025 bertajuk “Unstoppable Agriculture: Peak Productivity and Operations Efficiency” yang digelar di Bandung, Rabu (18 Juni 2025).
“Produksi CPO dan PKO kita relatif stagnan. Tahun 2023 sempat naik ke 54 juta ton, lalu turun menjadi 52 juta ton. Tahun ini diperkirakan hanya naik sedikit ke 53 juta ton,” ujar Cahyo.
Meningkatnya konsumsi dalam negeri, khususnya untuk kebutuhan biodiesel, justru membuat ekspor CPO dalam bentuk bahan mentah menurun. “Kini ekspor didominasi produk hilir, sementara CPO-nya terserap di dalam negeri. Naiknya tingkat konsumsi ini menggembirakan bagi industri, tapi juga menjadi tantangan karena perlu usaha ekstra untuk meningkatkan produktivitas,” tambah Cahyo yang juga Senior Vice President Research and Development PT Astra Agro Lestari Tbk.
Salah satu hambatan utama peningkatan produksi adalah dominasi tanaman sawit tua yang memasuki fase replanting. Banyak kebun—baik milik perusahaan besar maupun petani rakyat—mengalami penurunan hasil akibat usia tanaman yang menua.
Ia juga menyoroti pentingnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) agar dapat berjalan maksimal, mengingat masih rendahnya capaian program ini secara nasional.
GAPKI pun mengusulkan agar pemerintah mulai menetapkan “dedicated area” khusus untuk produksi CPO berbasis energi (bioenergi) agar kebutuhan biodiesel tidak menggerus pasokan untuk pangan dan ekspor.
Dalam sesi tersebut, Cahyo mengungkapkan kolaborasi GAPKI dengan Ditjen Perkebunan dan BPDPKS melalui serangkaian riset strategis. Salah satunya adalah eksplorasi Sumber Daya Genetik (SDG) kelapa sawit ke Tanzania, bekerja sama dengan TARI (Tanzania Agricultural Research Institute). Hasilnya, sebanyak 102 aksesi sawit berhasil dikoleksi dari wilayah pesisir dan dataran tinggi, mencakup tipe dura dan tenera.
“Tujuan eksplorasi ini untuk memperkaya keanekaragaman genetika sawit Indonesia, sekaligus mencari varietas yang tahan terhadap penyakit seperti Ganoderma dan mampu meningkatkan produktivitas,” jelasnya.
GAPKI juga kembali mengaktifkan konsorsium riset Ganoderma serta memperkenalkan serangga penyerbuk baru dari Afrika, guna mengatasi masalah rendahnya tingkat polinasi yang sejak 2010 berdampak pada hasil panen tandan buah segar (TBS).
Cahyo juga menekankan bahwa masa depan industri sawit Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan tenaga kerja manual.
“Dengan makin sulitnya mencari tenaga kerja untuk lokasi-lokasi remote, mekanisasi dan digitalisasi adalah solusi mutlak,” ujarnya.
PT Astra Agro Lestari Tbk, misalnya, telah lama menggunakan berbagai alat berat dan kendaraan khusus—mulai dari excavator, hole digger, fertilizer spreader, mini tractor (wintor), crane, hingga armroll—untuk mempercepat proses tanam, pemupukan, dan pengangkutan buah.
Dikatakan Cahyo, terdapat lima tantangan dalam penerapan mekanisasi. Pertama, tingginya biaya investasi karena implementasi awal membutuhkan high investment dan perencanaan tepat guna (roadmap plan). Kedua, pemilihan dan penentuan jenis alat dengan cara pemilihan jenis alat/vendor yang sesuai dengan kebutuhan operasional & teruji secara keandalan (long-term).
Ketiga, manajemen operasi karena dibutuhkan perencanaan, penggunaan tenaga kerja dan teknisi, dan Integrasi dengan sistem operasional yang sudah ada untuk meningkatkan produktivitas.
Keempat, manajemen rantai pasokan berkaitan kemudahan dan kepastian penyediaan unit alat dan suku cadang di tengah banyaknya vendor dan produk impor. Kelima, keterbatasan dan perawatan infrastruktur mengenai perencanaan dan kesiapan cost penunjang support maintenance baik dari kesiapan unit, dan keahlian manpower.
Berkaitan tantangan inilah, dikatakan Cahyo, GAPKI juga membentuk konsorsium mekanisasi dan merencanakan kunjungan lapangan ke Kalimantan Tengah untuk mengevaluasi praktik terbaik yang sudah diterapkan perusahaan anggota.














