• Kamis, 1 Oktober 2026
Kinerja

Menggeber Santri Dalam Usaha Kelapa Sawit

Industri kelapa sawit memberikan peluang bagi santri dan pesantren untuk menjadi bagian dari rantai bisnisnya. Di Riau, kalangan santri terlibat dalam usaha penangkaran bibit sawit.

Desa Suka Maju, Rokan Hilir yang berjarak 1.500 km dari Jakarta menjadi saksi perbincangan Wapres RI, KH. Ma’ruf Amin dengan sejumlah petani dan santri. Kendati berlangsung virtual, pertanyaan dan keluhan mengalir tanpa sekat.

Hampir setengah jam lamanya, Wapres Ma’ruf Amin mendengarkan lalu menjawab pertanyaan. Salah satunya adalah santri bernama Muzaki Musofa yang turut terlibat dalam progam Santri preneur Berbasis Kelapa Sawit yang diprakarsai Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dalam percakapan melalui konferensi video tersebut, Muzaki mengungkapkan bahwa para santri dan alumni pondok pesantren, melalui Santri preneur berharap dapat mendirikan pabrik mini minyak goreng sawit. Menurutnya, pendirian pabrik mini minyak goreng sawit ini membutuhkan teknologi yang cukup sederhana, sehingga memungkinkan untuk direalisasikan.

“Hasil produksinya nanti akan diberinama Minyak Goreng Santri,” ucapnya penuh percaya diri.

Mendengar harapan tersebut, Wapres pun mengapresiasi dan mendukung rencana para santri di Provinsi Riau untuk mendirikan pabrik mini minyak goreng sawit melalui program Santri preneur berbasis kelapa sawit.

“Pembangunan pabrik mini minyak goreng sawit, tentunya merupakan salah satu dari bentuk hilirisasi komoditas kelapa sawit. Saya mengapresiasi dan saya minta juga disiapkan namanya yang menarik, kemudian pendanaannya juga diupayakan,” ungkap Wapres.

Lebih lanjut, Wapres menuturkan bahwa untuk merealisasikan hal ini nantinya dapat menggunakan dana dari pemerintah atau pun pihak lain.

“Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) supaya memfasilitasi untuk mencarikan sumber dananya. Saya kira dana-dana di BPDPKS maupun di perbankan ada dan bisa (digunakan) untuk membangun itu. Yang penting feasible, saya kira tidak ada masalah,” ujarnya.

Selama programnya jelas, Wapres meyakini bahwa lembaga pembiayaan seperti perbankan tidak akan menolak untuk membantu membiayai. Bahkan menurutnya saat ini banyak bank-bank yang mencari produk-produk yang feasible.

Pada kesempatan ini, Wapres kembali mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya bahwa program Santri preneur berbasis Usaha Kecil, Menengah, dan Koperasi (UKMK) Kelapa Sawit telah menghasilkan bukti nyata. Salah satunya dengan sudah berjalannya program pembibitan yang bahkan telah dipasok kekebun Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

“Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan, namun hilirisasinya belum optimal. Tentunya potensi-potensi kewira usahaan yang berbasis pesantren harus terus dikembangkan (dan) disesuaikan dengan kearifan lokal, dalam hal ini adalah kelapa sawit,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, kata Wapres, pelibatan santri menjadi penting, karena pemerintah memang mendorong para santri dan pesantren untuk berkontribusi aktif dalam menekan angka kemiskinan dan meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) melalui penguatan kemandirian dan kewira usahaan. Menurutnya, dari total jumlah pesantren di seluruh Indonesia yang mencapai 28.194, sejumlah 44,2% atau sekitar 12.469 berpotensi dapat mengembangkan ekonomi.

Dikatakan Wapres, pesantren yang berada di daerah-daerah penghasil komoditi sawit dari 12 ribu itu diharapkan akan dapat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian terutama pada masa pemulihan ekonomi ini melalui kerja sama dengan petani lokal.

“Program ini diharapkan dapat menggerakkan potensi ekonomi pesantren dan melahirkan santri preneur-santri preneur yang berkarakter kuat, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, atau saya menyebutnya sebagai Gus Iwan, [yaitu] santri bagus, pintar mengaji, dan usahawan,” ungkap Wapres.

(selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 119)

Artikel Terkait