Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XLII)

Saya ingin agar semua kalangan bisa benar-benar memahami keadaan di Indonesia, khususnya mengenai pentingnya pekerjaan bagi rakrat. Di sebagian negara Eropa, pengangguran mendapatkan tunjangan dari negara yang akan terus diberikan untuk waktu tertentu. Dalam masa menganggur itu dinas sosial akan mencarikan pekerjaan yang cocok untuk pencari kerja. Selain itu, pencari kerja itu pun mendapatkan voucher makan dari dinas sosial yang disebut food stamps untuk memenuhi kebutuhan pangannya sehari-hari.

Tentu saja itu tidak terjadi di Indonesia. Pemerintah Indonesia belum bisa memberikan jaminan yang seperti yang bisa diberikan oleh negara maju kepada warganya. Bayangkan di Indonesia, kalau pembukaan kebun sawit tiba-tiba distop. Disekitar lahan perkebunan seringkali banyak orang dewasa yang duduk-dudk dipingir jalan. Mereka sebenarnya sedang menanti untuk dibawa kerja, entah bagaimana panen buah sawit atau sekedar pembersih kebun. Mereka bisa membawa pulang Rp. 35.000 sehari untuk menafkahi keluarga mereka dirumah. Tentu jumlah tersebut masih jauh dari harapan, tetapi itu lebih baik daripada mereka mengangur sama sekali tanpa pekerjaan. Saya katakan kepada seluruh undangan dalam forum itu bagaimana jadinya jika semua itu distop? Apa yang kita lakukan kepada mereka untuk menopang hidup keluarganya?

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like