Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXXII)

“Padi masih bisa kita dapat dari kampung, begitu pula daun singkong ada dipekarangan, ikan asin pasti bisa saya cari”, begitu kata saya meyakinkan ibu.

Saya mendapat tugas pertama untuk bekerja dikebun Mata Pao. Sebenarnya saya akan ditugaskan ke Aceh, tetapi saya bilang apakah ada daerah yang lebih dekat dengan Medan. Mata Pao hanya berjarak 54 kilo meter dari medan. Pada 1 Februari 1967 saya bekerja disana. Pihak perkebunan berpesan agar saya membawa kasur karena di perkebunan Mata Pao tidak disediakan kasur untuk tidur. Apa boleh buat, saya mengajukan kas bon gaji terlebih dahulu untuk membeli keperluan hidup dikebun. Untungnya permohonan saya mereka luluskan. Pada pagi hari-H saya berangkat, mobil perusahaan datang menjemput saya. Sejak hari itulah sejarah hidup saya sebagai pegawai PPN Ex Socfin dimulai.

Dikebun Mata pao terdapat tiga afdeling dan satu pabrik. Wilayah kebun Mata Pao tak begitu luas, bahkan kecil untuk ukuran perkebunan zaman sekarang. Kepala kebun Mata Pao atau administrateur (ADM) dijabat oleh Achmad Basri Siregar. Tiap afdeeling dikepalai oleh asisten tanaman. Sementara itu, pabrik pengolahan dikepalai oleh seorang berdarah campuran Indo Belanda E.A. Meulemans. Setibanya dikebun, saya dibawa kesebuah rumah panggung, rumah yang ditinggali E.A. Meulemans dan keluarganya. Kemudian Meulemans menjamu saya makan siang. Kami mengobrol tentang banyak hal dan dalam kesempatan itu ia meminta saya untuk tidak bekerja dulu, “Besok sajalah. Sekarang istirahat dulu”.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like