Jakarta, SAWIT INDONESIA – Di tahun ini, LPP Agro Nusantara tuntaskan pekerjaan (pelatihan petani sawit) dari Badan Pengelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Ditjen Perkebunan dalam rangka peningkatan kapasitas sumberdaya manusia pekebun sawit. Pelatihan ini merupakan bagian dari program pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit dari BPDPKS kerjasama dengan Ditjen Perkebunan yang melibatkan lembaga pelatihan.
Dalam hal ini, LPP Agro Nusantara merupakan satu dari 15 lembaga pelatihan yang ditunjuk BPDPKS melalui seleksi untuk menyelenggarakan pelatihan petani sawit. Di tahun ini, dipercaya melaksanakan pelatihan petani sawit sebanyak 43 kelas dengan 11 jenis pelatihan yang diikuti oleh pekebun sawit dari 7 Provinsi yang dilaksanakan pada Mei – Agustus 2024.
SEVP Operation, LPP Agro Nusantara, Pugar Indriawan mengungkapkan memiliki pengalaman puluhan tahun dalam hal pelatihan perkebunan, salah satunya untuk pengembangan SDM sawit. Di tahun ini kembali dipercaya oleh BPDPKS dan Ditjen Perkebunan untuk menyelenggarakan pelatihan petani sawit.
“Jumlah peserta yang sudah dilatih LPP Agro Nusantara sebanyak 1.339 orang, dengan sebaran pelatihan ada di 7 provinsi antara lain di Riau 23 kelas, Sumatera Barat 6 kelas, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat 7 kelas, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat 7 kelas,” ungkapnya, dalam press conference yang diadakan secara online, pada Selasa (3 September 2024).
“Pelatihan yang diselenggarakan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas petani (pekebun sawit), dalam peningkatan produktivitas yang masih rendah dibanding perkebunan yang dikelola perusahaan. Selain pengetahuan teknis, pengembangan bisnis harus menjadi mindset baru pekebun,” imbuh Pugar.
Dari data yang ada pekebun sawit hanya mampu memproduksi 2-3 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektar per tahun. Sementara, produksi sawit yang dikelola perusahaan (swasta dan BUMN), rata-rata produksi mencapai 6-8 ton COP per hektar per tahun.
BPDPKS mendapat rekomendasi teknis (rekomtek) untuk pendanaan peserta pelatihan petani sawit sebanyak 6.437 orang yang telah diselesaikan tahun ini oleh 15 lembaga pelatihan. Peserta pelatihan terbagi dalamberbagai kelas pelatihan yang terdiri 11 jenis pelatihan, mulai dari pelatihan teknis seperti Budidaya Tanaman Kelapa Sawit; atau Pengelolaan Sarana dan Prasarana Perkebunan hingga pengembangan bisnis seperti Informasi Pasar dan Promosi; atau Manajemen & Administrasi Keuangan.
Kepala Divisi Program Pelayanan - BPDPKS, Arfie Thahar menyampaikan program pengembangan SDM terbagi menjadi 2, pelatihan dan beasiswa. Untuk kegiatan pelatihan bertujuan untuk peningkatkan keterampilan dan kompetensi dari para pekebun untuk menjalankan Good Agricultural Practices.
“Program Pengembangan SDM untuk pelatihan sudah berjalan sejak tahun 2016. Hingga tahun 2024, sudah lebih dari 18 ribu pekebun mendapatkan pelatihan dengan skema pendanaan dari BPDPKS. Program ini menjadi langkah kami mempersiapkan SDM berkualitas yang sanggup mengadapi tantangan bisnis” ujar Arfie.
Skema monitoring sedang disiapkan
Meski sudah berjalan dan tidak sedikit para pekebun sawit yang telah mengikuti kegiatan pelatihan, namun belum ada monitoring secara formal dari pihak pemerintah terutama dari BPDPKS dan Ditjen Perkebunan.
Pugar mengatakan terkait dengan monitoring para peserta pascapelatihan, secara formal memang belum ada sistem monitoring berkelanjutan.
“Tetapi, kami akan melakukan evaluasi dan pendampingan dengan membuat group discussion dengan para peserta. Di dalam group tersebut ada sesi sharing dan diskusi yang melibatkan tim expert yang ada di LPP Agro Nusantara. Seperti pelatihan-pelatihan yang telah dilaksanakan pada 2021, group masih aktif dan masih ada sharing dan diskusi. Memang untuk saat ini belum ada sistem monitoring tetapi ke depan akan disusun. Tentu kami harapkan ada dukungan dari Ditjen Perkebunan dan BPDPKS,” katanya.
Sementara itu, Arfie menambahkan untuk sistem monitoring yang dilaksanakan baru memantau pre test dan post test pelaksanaan pelatihan. Untuk melihat hasil dari pelatihan dari sebelum dan sesudah pelatihan.
“Sedangkan untuk monitoring pascapelatihan untuk saat ini kita sedang menyiapkan untuk memantau terutama dampak produktivitas pekebun. Apakah dengan adanya pelatihan ada peningkatan produktivitas atau tidak? Mungkin ini salah satu poin yang akan dipantau. Kami sedang menyiapkan dengan Ditjen Perkebunan metoda apa yang pas, dan akan berdiskusi dengan para lembaga pelatihan yang terlibat dalam penyelenggaraan,” kata Arfie.














