Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu prioritas utama dalam menjaga daya saing dan keberlanjutan industri kelapa sawit nasional. Hal ini kembali ditegaskan dalam konferensi pers Program Pengembangan SDM Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang digelar pada Kamis (11/9/2025).
Sejak April hingga September 2025, PT LPP Agro Nusantara dengan dukungan BPDP Kementerian Keuangan RI dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI menyelenggarakan serangkaian pelatihan bagi pekebun sawit di 17 provinsi. Tahunini, BPDP menargetkan 10.786 peserta, dengan LPP Agro mendapat mandat melatih 2.066 peserta – meningkat dari 1.339 peserta pada tahun 2024.
Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo, menjelaskan bahwa pelatihan yang dijalankan bukan sekadar materi klasikal di ruang kelas, tetapi juga praktik langsung di lapangan.
“Materi mencakup budidaya sawit berkelanjutan, panen dan pascapanen, pengelolaan kelembagaan, administrasi keuangan, promosi hasil sawit, hingga pemetaan lokasi perkebunan. Melalui bentuk pelatihan seperti ini, pekebun tidak hanya mengerti secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya di kebun masing-masing,” ungkapnya.
Menurut Pranoto, pendekatan metodologi yang berbeda mutlak diperlukan. “Petani terbiasa bekerja di lapangan, sehingga masuk kelas tidaklah mudah. Karena itu, metode seperti field trip, ice breaking, hingga praktik lapangan menjadi kunci,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kompetensi dan kemampuan menginspirasi dari narasumber juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pelatihan.
Sejak tahun 2016, BPDP mempercayakan LPP Agro Nusantara sebagai salah satu penyelenggara pelatihan SDM sawit. LPP yang berdiri sejak 1950 ini memiliki rekam jejak panjang dalam meningkatkan keterampilan tenaga kerja perkebunan, baik pada level teknis maupun manajerial.
Tahun 2025, pelatihan oleh LPP dilaksanakan dalam 71 kelas yang mencakup 11 jenis pelatihan teknis dan manajerial, tersebar di 9 provinsi: Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Papua Barat, dan Sulawesi Barat.
“Peningkatan kapasitas SDM ini merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan perkebunan kelapa sawit yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Suhendri, Direktur SDM & TI PT Perkebunan Nusantara IV Subholding Perkebunan.
BPDP: Sawit Penopang Ekonomi Nasional
Direktur Penyalur Dana Sektor Hilir BPDP Muhammad Alfansyah menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. “Hampir semua bagian pohon sawit bisa dimanfaatkan. Dari pangan, energi, kosmetik, hingga industri hilir lainnya. Kontribusinya terhadap penerimaan negara di luar migas sangat besar,” paparnya.
Ia menekankan, keberlanjutan industri sawit tak bisa dilepaskan dari regenerasi SDM. “Kita harus memastikan generasi muda menguasai sawit. Karena itu, pelatihan dan beasiswa menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga ketahanan industri ini,” tegasnya.
Program pelatihan dan beasiswa BPDP bersama LPP Agro menegaskan bahwa pengembangan SDM adalah kunci dalam meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan industri sawit. Dengan kualitas tenaga kerja yang lebih baik, perkebunan rakyat diharapkan mampu mengejar produktivitas perusahaan besar, sekaligus menjaga peran sawit sebagai komoditas strategis Indonesia.
“Produktivitas kebun rakyat rata-rata 3–3,5 ton CPO per hektare per tahun. Jika bisa ditingkatkan menjadi 5–6 ton, kebutuhan pangan, industri hilir, hingga bioenergi akan tercukupi,” kata Alfansyah.
Selain pelatihan, BPDP juga menjalankan program beasiswa pendidikan formal, mulai dari D1 hingga S1, khusus untuk anak-anak pekebun. Tahun ini, sebanyak 4.000 mahasiswa baru dari total 20.800 pendaftar berhasil memperoleh beasiswa penuh di 41 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
“Para penerima beasiswa ini akan menjadi pejuang sawit masa depan. Mereka tidak hanya mendapat gelar formal, tetapi juga ijazah kompetensi yang siap diterapkan di lapangan,” tambahnya.
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, DirektoratJenderal Perkebunan, Baginda Siagian, menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu faktor penentu dalam mendorong lonjakan produktivitas sawit rakyat.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 167)














