JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya untuk mentransformasi struktur industri perkebunan nasional melalui peningkatan produktivitas di tingkat hulu serta penguatan hilirisasi di tingkat hilir.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Alim Setiawan Slamet, mendorong agar lebih dari 90 persen ekspor perkebunan Indonesia ke depan berbentuk produk turunan bernilai tambah tinggi, guna menghapus ketergantungan historis terhadap pengiriman bahan mentah.
Pernyataan tersebut disampaikan Wamentan Alim saat membuka gelaran International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026 ke-9 di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Rabu (4/11/2026). Inisiatif ini selaras dengan agenda swasembada pangan, kemandirian energi, dan industrialisasi nasional dalam kerangka Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Perkebunan bukan hanya sumber devisa. Perkebunan juga menopang ekonomi, menciptakan lapangan kerja, menyejahterakan masyarakat, dan menjadi tumpuan energi terbarukan kita ke depan. Target kita, mudah-mudahan bisa mencapai lebih dari 90 persen ekspor perkebunan sudah dalam bentuk produk turunan,” ujar Alim Setiawan Slamet.
Poin-poin utama target 7 komoditas hilirisasi, potensi lonjakan nilai tambah kelapa, rehabilitasi lahan hulu, serta integrasi bioenergi meliputi:
Target Hilirisasi 7 Komoditas Unggulan & Perluasan Lahan Hulu:
- Pemerintah memfokuskan program hilirisasi pada 7 komoditas utama: tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala.
- Di tingkat hulu, program ini didukung oleh penyiapan lahan, penyediaan benih unggul bermutu, serta kegiatan perluasan, peremajaan, dan rehabilitasi perkebunan seluas 870 ribu hektare.
- Khusus pada 2026, Kementan mengakselerasi pengembangan kawasan kakao seluas 174.000 hektare dan kawasan kelapa seluas 151.554 hektare.
Simulasi Nilai Tambah: Kelapa Butiran vs Virgin Coconut Oil (VCO):
- Wamentan mencontohkan lompatan ekonomi komoditas kelapa: kelapa butiran mentah seharga Rp1.350 per kg dapat diolah menjadi minyak kelapa seharga Rp60.000 per liter, atau diproses menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) yang nilainya menembus Rp145.000 per liter (melonjak lebih dari 100 kali lipat).
- Pengolahan berprinsip zero waste ini juga memanfaatkan air kelapa, coco fiber, coco peat, hingga arang aktif.
Penekanan Impor Gula & Penyiapan Lahan Bioenergi (B50/E10):
- Swasembada Gula: Kementan memperluas areal tebu dan meneruskan program bongkar ratoon sejak 2025 untuk menekan ketergantungan impor gula nasional yang rata-rata menyedot anggaran Rp44 triliun per tahun.
- Mandatori Bioenergi: Sektor perkebunan disiapkan mendukung mandatori biodiesel B50 dan bioetanol E10 secara bertahap. Kementan mengalokasikan areal pengembangan sawit bioenergi seluas 2 hingga 5 juta hektare, terintegrasi dengan pengembangan komoditas bioetanol berbasis tebu, jagung, ubi kayu, sorgum, dan jambu mete.
Sinergi Pembagian Peran dan Inovasi Teknologi:
- Wamentan menekankan pentingnya riset presisi, mekanisasi, kecerdasan buatan (AI), dan varietas unggul untuk mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif.
- Diperlukan pembagian peran yang konkret: Pemerintah menyiapkan regulasi, infrastruktur, dan insentif; industri memperkuat investasi pengolahan hilir serta menyerap hasil panen; sementara petani dan koperasi menjaga konsistensi mutu dan kontinuitas pasokan bahan baku.
Melalui penyelenggaraan ICExPO 2026, Kementan meyakini kolaborasi antara penentu kebijakan, pengusaha, dan lembaga riset mampu melahirkan terobosan tepat guna demi mewujudkan industri perkebunan Indonesia yang mandiri, berdaya saing global, dan berkeadilan bagi seluruh pekebun.
Sumber: perkebunan.go.id
















