Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Limbah biomassa kelapa sawit selama ini identik sebagai residu perkebunan yang pemanfaatannya masih terbatas. Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan tandan kosong, pelepah, hingga daun sawit memiliki potensi besar sebagai bahan baku media tanam jamur yang mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkuler di sektor perkebunan.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian kolaborasi Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER) bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025. Penelitian bertajuk Efektivitas Biomassa Limbah Kelapa Sawit sebagai Media Tanam Beberapa Jenis Jamur dipimpin Julsento HP, S.P., M.Sc., dengan anggota Herlina Mega Puspitasari, S.P., M.Sc. dan Wini Prayogi Abdila, S.T.P., M.Sc.
Riset ini berangkat dari meningkatnya volume limbah biomassa seiring bertambahnya luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Tandan kosong, pelepah, dan daun sawit mengandung lignoselulosa, komponen utama yang juga dibutuhkan sebagai media tumbuh jamur. Dengan karakteristik tersebut, limbah sawit dinilai berpotensi menggantikan bahan baku konvensional seperti serbuk kayu maupun jerami padi.
Ketua tim peneliti, Julsento HP, menjelaskan bahwa biomassa sawit memiliki peluang besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah, salah satunya sebagai baglog atau media tanam jamur.
"Selama ini tandan kosong, pelepah, maupun daun sawit lebih banyak dimanfaatkan secara terbatas atau bahkan menjadi limbah. Padahal kandungan seratnya sangat potensial untuk mendukung pertumbuhan miselium jamur apabila diformulasikan dengan komposisi yang tepat," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Minggu (26 Juli 2026).
Hasil Penelitian
Penelitian menguji tiga jenis biomassa limbah sawit, yakni tandan kosong, pelepah, dan daun sebagai media tanam bagi tiga komoditas jamur, yaitu jamur tiram, jamur merang, dan jamur lingzhi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis jamur memiliki karakteristik media tanam yang berbeda.
Pada jamur tiram, media berbahan pelepah dan daun sawit memberikan hasil terbaik. Kedua media tersebut mampu mempercepat kolonisasi miselium, mempercepat pembentukan tubuh buah, serta meningkatkan produktivitas dibandingkan media tandan kosong.
Sebaliknya, jamur merang menunjukkan performa terbaik pada media tandan kosong (empty fruit bunch/EFB), baik dari sisi pertumbuhan maupun hasil produksi.
Sementara itu, jamur lingzhi hanya mampu tumbuh optimal pada media berbahan pelepah sawit. Penggunaan media daun maupun tandan kosong tidak mampu menghasilkan tubuh buah hingga akhir masa pengamatan.
"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan jenis biomassa sawit yang sesuai menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan budidaya jamur. Karakteristik biologis setiap jenis jamur memerlukan media tanam yang berbeda agar mampu menghasilkan produktivitas optimal," tulis tim peneliti dalam laporan akhirnya.
Mendukung Hilirisasi Limbah Sawit
Selain menghasilkan laporan penelitian, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa AKPY dan UNS mulai dari proses persiapan bahan baku hingga pengamatan pertumbuhan jamur sebagai bagian dari penguatan kompetensi riset.
Luaran ilmiah penelitian berupa artikel berjudul The Potential of Palm Oil Waste Biomass as a Mushroom Growing Medium: A Preliminary Study of Nutrient Content juga telah dinyatakan diterima (accepted) untuk dipublikasikan pada Tropical Plantation Journal yang terindeks SINTA 4.
Ke depan, tim peneliti akan mengembangkan formulasi media tanam yang lebih optimal dan konsisten sehingga berpotensi diajukan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selain itu, mereka juga tengah menyusun buku berjudul Berkah Jamur dari Limbah Sawit sebagai referensi ilmiah mengenai pemanfaatan biomassa sawit untuk budi daya jamur.
Penelitian ini diharapkan dapat membuka peluang hilirisasi limbah biomassa kelapa sawit melalui pengembangan usaha budidaya jamur yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi. Bagi industri sawit, inovasi tersebut menjadi salah satu alternatif pemanfaatan limbah yang tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru melalui pengembangan produk berbasis biomassa.














