- Pangsa Pasar Ekspor Sawit Indonesia ke India tergerus dalam 3-5 tahun terakhir, kendati demikian Indonesia tetap menggungguli Malaysia.
- Importir India meminta pemerintah untuk mengkaji ulang skema pajak ekspor sawit.
Jakarta, SAWIT INDONESIA – Kunjungan Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India yang dimulai pada 25 Januari 2025 diharapkan akan berdampak positif bagi perdagangan sawit Indonesia dan India.
India adalah pelanggan utama produk sawit Indonesia hampir setengah abad lebih. Dalam tujuh tahun terakhir, Indonesia menguasai pangsa pasar ekspor sawit ke India.
Dari data BV Mehta (The Solvent Extractors’ Association of India), total ekspor sawit Indonesia ke India mencapai 5,2 juta ton (56%) lebih tinggi dari Malaysia sebesar 2,9 juta ton (32%) pada 2023.
Kendati demikian, pangsa pasar sawit Indonesia terus tergerus dalam 5 tahun terakhir dibandingkan periode 2018 dan 2020. Ekspor sawit Indonesia ke India mencapai 6,1 juta ton (68%) lebih tinggi dari Malaysia sebesar 2,1 juta ton (29%) pada 2018.
Sedangkan pada 2020, ekspor sawit Indonesia ke India sebesar 4,7 juta ton (64%) dan Malaysia 2,2 juta ton (22%).
Direktur Eksekutif The Solvent Extractors Association of India BV Mehta, saat menjadi narasumber Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) ke-20 di Nusa Dua, Bali, pada akhir 2024, mengakui penurunan impor sawit dari Indonesia untuk kebutuhan India cukup signifikan.
”Dari 68 Persen menjadi 52 persen,” terangnya.Sedangkan permintaan sawit India dari Malaysia justru mengalami peningkatan yang signifikan.
”Dari 24 persen menjadi 37 persen,” lanjut Mehta.Di saat bersamaan, impor sawit India dari Malaysia justru mengalami peningkatan yang signifikan. ”Dari 24 persen menjadi 37 persen,” lanjut Mehta.
Berkurangnya pangsa pasar Indonesia ini akibat tingginya biaya levy atau transaksi dagang sawit dari Indonesia. Sebaliknya, Malaysia malah menurunkan biaya ekspor sawit dari negara tersebut.”Ini menguntungkan Malaysia,” jelas Mehta.
Sebaliknya, Indonesia harus kehilangan sekian persen potensi ekspor sawit ke India, imbas dari pengurangan impor tersebut. Padahal, Tingkat konsumsi minyak sawit di India tiap tahunnya tergolong besar.
Setiap tahun, konsumsi sawit di India total 9,2 juta ton minyak sawit.Itu setara dengan 37,6 persen dari kebutuhan minyak masak di negara tersebut. Disusul minyak kedelai di peringkat kedua dengan Tingkat konsumsi 5,25 juta ton atau 21 persen.
Merujuk data GAPKI, penurunan ekspor sawit terbesar di bulan November 2024 adalah India yang turun 310 ribu ton menjadi 420 ribu ton, diikuti oleh Belanda yang turun 72 ribu ton menjadi 59 ribu ton, Mesir turun 52 ribu ton menjadi 75 ribu ton.














