Tanaman sawit di usia 30 bulan sudah bisa berproduksi, dengan angka produksi yang cukup memuaskan. Pada 2023 (TM 1), 11 ton TBS/ha/tahun; 2024 (TM 2), 15 Ton TBS/ha/tahun; dan 2025 (TM 3), 19 ton TBS/ha/tahun
Koperasi Lempuing Indah Sejahtera (LISA) mampu membuktikan membangun perkebunan sawit secara mandiri dengan produktivitas yang cukup baik. Bahkan, masuk tahap Tanaman Menghasilkan (TM-1) memproduksi 11 ton TBS/ha/tahun. Angka tersebut melampaui target yang semula ditargetkan 5 – 6 ton TBS/ha/tahun.
Kelembagaan petani dari desa Lempuing Indah, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering ilir (OKI), Sumatra Selatan ini, membangun kebun milik anggota secara mandiri tanpa kemitraan dengan perusahaan.
Dari info yang diterima redaksi Majalah Sawit Indonesia, koperasi LISA mengelola kebun sawit milik 155 anggota, dengan luasan 310 ha. Dari luasan tersebut diremajakan dengan mengikuti program peremajaan sawit rakyat (PSR) dengan bantuan dana hibah Rp25 juta/ha dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), pada 2019.
Ketua Koperasi Lempuing Indah Sejahtera (LISA), Wayan Gede Siria menyampaikan pihaknya merasa bersyukur dapat membangun kebun anggota secara mandiri mengikuti program PSR.
“Melalui program PSR dengan syarat dan ketentuan, petani sawit mendapat dana hibah sebesar Rp25 juta/ha dari pemerintah, dalam hal ini BPDP. Kami mengajukan untuk ikut program PSR pada 2017. Kurang lebih proses dua tahun, 2019 mendapat rekomendasi teknis dari Ditjen Perkebunan (Juli 2019). Selanjutnya melakukan tumbang chipping (pada November 2019) dan penanaman perdana pada Feb – Maret 2020,” ujarnya, saat menerima kunjungan peserta Workshop Peremajaan Sawit Rakyat dan Pekan Benih Sawit Unggul dan Bersertifikat 2026, pada Rabu (11 Februari 2026), di kantornya.
“Kami sangat bersyukur tanaman sawit di usia 30 bulan sudah bisa berproduksi. Dengan angka produksi yang cukup memuaskan. Pada 2023, 11 ton TBS/ha/tahun; 2024, 15 Ton TBS/ha/tahun; dan 2025, 19 ton TBS/ha/tahun. Itu angka riil dari kebun Koperasi LISA, bukan dari kebun sebelah. Dengan mengikuti pola pola pembangunan kebun yang didampingi tim agronomi dari Wilmar Group, di usia 30 bulan, TBS sudah bisa diterima di pabrik kelapa sawit (PKS),” imbuhnya.
Lebih lanjut, Gede mengungkapkan sebenarnya di usia 28 bulan TBS sudah bisa dipanen. Untuk memastikan hasilnya, kami mengundang tim dari Wilmar untuk melihat langsung di lapangan (kebun). Untuk melakukan grading, hasilnya TBS dengan rata-rata 3kg BJR (berat janjang rata-rata) sudah layak (bisa) dipanen dan diterima di PKS.
“Sesuai dengan aturan (Permentan), TBS yang layak dipanen minimal 3kg BJR di usia 28 bulan, dan diterima di PKS dengan acuan harga Disbun Sumatra Selatan,” ungkapnya.
Salah satu faktor keberhasilan produksi sawit adalah penggunan bibit sawit unggul. Pihaknya mengakui bahwa salah satu faktor penting produksi sawit adalah bibit sawit unggul dan bersertifikat.
“Maka, peremajaan kebun sawit koperasi LISA menggunakan bibit sawit Tania Selatan dari Wilmar Group, yang sudah terbukti unggul dan sesuai dengan karakter tanah di wilayah OKI,” kata Gede.
Diketahui, bibit sawit dari benih Tania Selatan memiliki keunggulan dari tiga varietas DxP TS1 (Avros), DxP TS2 (Ekona), dan DxP TS3 (Ghana). Ketiga varietas ini dikenal memiliki keunggulan kompetitif, terutama toleran terhadap kekeringan dan kemampuan beradaptasi dengan lahan marginal.
Selanjutnya, Gede menambahkan faktor lain yang menentukan produksi sawit yaitu perawatan. “Untuk proses perawatan tentunya memerlukan atau membutuhkan pupuk sebagai nutrisi tanaman usia muda supaya dapat berproduksi dengan baik dan hasilnya bisa memuaskan,” katanya.
“Sebagai tambahan dana untuk perawatan tanaman sawit. Kami mengajukan pendanaan di Bank BNI. Disetujui Rp7,750 miliar, (Rp50 juta/kavling (2 ha) x 155 anggota). Dana tersebut dipergunakan untuk mendukung proses perawatan tanaman sawit, salah satunya pembelian pupuk dan ongkos tenaga (pekerja),” sambung pria berdarah Bali.
Dengan modal nol rupiah, kini anggota Koperasi LISA memiliki kebun dengan usianya di tahun ini memasuki 6 tahun. “Mereka (anggota) memberikan kepercayaan kepada koperasi untuk memproses segala hal yang dibutuhkan persyaratan program PSR dan mendapatkan kredit dari Bank BNI Rp50 juta/kavling. Kini kebunnya di tahap TM 3 sudah berproduksi 19 ton TBS/ha/tahun (2025). Dengan target produksi pada 2026 yaitu 23 ton TBS/ha/tahun,” ucap Gede dengan percaya diri.
“Dengan kata lain, pelaksanaan PSR anggota Koperasi LISA juga tidak mengeluarkan biaya dari kantong pribadi. Itu semua berkat dana hibah dari BPDP dan kemitraan dengan Bank BNI yang memberikan dana untuk pewaratan kebun. Dalam waktu tiga bulan mendatang kredit lunas. Dan, tak lepas dari kepercayaan yang diberikan anggota kepada pengurus Koperasi LISA,” pungkasnya.
Pengelolaan sesuai standar
Capaian hasil produksi TBS dari Koperasi LISA mendapat apresiasi dari pihak Wilmar Group, yang disampaikan Manager Research and Development (R and D), PT. Tania Selatan (produsen benih sawit) - Wilmar Group, Rahmadsyah.
Menurutnya, pembangunan perkebunan sawit yang sudah dilakukan Koperasi LISA sudah sesuai prosedur. Mulai dari bibit sawit unggul bersertifikat, perawatan (pemupukan sesuai dengan rekomendasi dan pupuk yang digunakan sesuai standar SNI), mengontrol hama dan penyakit, dan manajemen.
“Hasilnya cukup memuaskan, di atas yang ditargetkan. Dengan kondisi areal di wilayah OKI, kami hanya menargetkan 7 – 8 ton TBS/ha/tahun. Tetapi, kebun sawit yang dikelola Koperasi LISA melebihi target yaitu 11 ton TBS/ha/tahun,” kata Rahmadsyah.
“Kami juga bangga dengan koperasi LISA, tanpa ada intervensi dari perusahaan mampu membangun kebun dengan produktivitas yang cukup baik. Sekali lagi, kami tidak mengintervensi pembangunan kebun koperasi LISA. Kami netral, misalnya hanya memberikan arahan saja yang melaksanakan pihak koperasi, termasuk memberikan informasi pupuk,” tambahnya.
Meski pembangunan siklus kedua kebun sawit koperasi LISA melalui program PSR tanpa ada intervensi dari perusahaan sawit. Namun, petani sawit yang tergabung dalam kelembagaan ini, mampu menunjukkan dan membutktikan produktivitas yang baik melampaui target.
Koperasi LISA dapat menjadi contoh bagi petani sawit di Indonesia yang masih gamang dalam mengambil keputusan peremajaan kebunnya. Melalui program PSR yang diiniasi pemerintah memberikan peluang untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani sawit. Dengan catatan, peremajaan kebun sawit menggunakan bibit sawit unggul bersertifikat dengan pola-pola pengelolaan sesuai standar good agriculture practices (GAP) atau Best Management Practices (BMP).














